Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Nico


__ADS_3

Nico mencoba menghubungi Viona, karena sudah 2 hari ini dia tidak ada kabar. Sudah mengirim pesan tpi tidak ada balasan. Nico sebebarnya ingin menyusul kesana, dia sudah merindukan Viona beberapa hari ini. Namun dia urungkan karena pekerjaan disini tidak bisa di tinggal.


"Kamu kemana sih Vi?!" gumamnya.


Nico terus menghubingi kekasihnya itu tapi tetap saja nihil.


***


Dilain tempat Viona sedang asik bermain kuda - kudaan dengan kekasihnya. Pemotretannya hanya berlangsung selama 2 hari, tapi Viona menginap disana hinga 2 hari kedepan.


"Sudah kamu matikan phonsel mu?" ucap Alex.


"Sudah," balas Viona.


Mereka sedang melakukan aksi panas di dalam hotel. Mereka setiap hari melakukannya, selama Viona pemotretan.


Malam yang gelap tak menyusutkan niat mereka untuk terus bergelut di atas ranjang yang panas.


Hingga dini hari baru berakhir kegiatan panas itu.


"Terima kasih sayang," ucap Alex sambil mncium pucuk kepala Viona.


Viona tertidur dipelukan Alex, dia seperti tak merasa berdosa sedikit pun. Alex adalah laki - laki pengangguran yang menempel pada Viona. Vion juga tahu hal itu. Tetapi dia seperti tak mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting bagi Viona adalah Alex bisa memuaskannya.


***


Cahaya pagi menyusup kedalam jendela sepasang insan yang dimabuk asmara. Hingga waktu menunjukkan pukul 10, sepasang manusia itu masih bergelut dibawah selimut. Hingga terdengar suara lenguhan dari salah satu nya.


"Uuggghhh..." terdengar suara lenguhan Viona saat menggeliat.


"Jam berapa ini?" ucap Viona, namun tidak ada jawaban dari Alex. Viona pun menyalakan phonselnya.


Banyak notifikasi dari kekasihnya. Ada 31 panggilan tidak terjawab, dan 50 pesan masuk.


"Apa dia sudah gila!" ujar Viona.


Di membaca satu persatu pesan itu. Namun belum sempat terbaca semua, terdengar dering tanda panggilan masuk.


"Halo," ucap Viona.


"Kamu kemana saja hah! Aku coba hubungi kamu dari kemari, tapi phonsel kamu gak aktif!" bentak Niko dari sebrang.


"Sabar dong sayang, phonsel ku mati dan aku tidak tau kalau kehabisan daya. Aku kelelahan dan langsung tidur. Maaf," jelas Viona dengan menyesal.


"Maafkan aku, aku khawatir karena tidak menerima kabar dari mu!" balas Nico.


"Sudahlah, ada apa?" tanya Viona.


"Kapan kamu akan pulang? Aku merindukanmu!"


"Sepertinya besok aku pulang!" balas Viona.


"Baiklah besok aku jemput!" ujar Nico.

__ADS_1


"Tidak usah, tunggu saja di apart!"


"Ok, kamu lanjut istirahat saja!" balas Nico sambil mematikan panggilannya.


"Mengganggu saja!" Viona bermonolog sendiri.


"Siapa?" tanya Alex.


"Nico,"


"Sepertinya dia sangat mencintai mu!" ujarnya dengan raut muka datarnya.


"Tentu saja! Karena hanya aku yang bisa memuaskannya!" jawab Viona.


"Jika suatu hari nanti dia direbut oleh wanita lain gimana?!" tanya Alex.


"Tidak akan aku biarkan siapa pun memiliki Nico! Dia adalah sumber uang ku!"


Alex hanya diam tak membalas.


****


Di lain tempat Alexa sudah berdandan rapi setelah pulang kerja. Dia juga memasak untuk menyambut kedatangan suaminya.


"Mudah - mudahan mas Nico nanti suka!" ujar nya.


Beberapa saat kemudian terdengar suara deru mobil Nico memasuki pekarangan rumah. Alena sudah menyambutnya di depan pintu.


"Hem," jawab Nico.


"Aku sudah siapkan air hangat, kamu mandi dulu setelah itu kita makan malam," ujar Alena.


Nico langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Dia menikmati air hangat yang menusuk kulitnya.


"Rasanya badan ku segar kembali." gumamnya.


Sstelah selesai dia mengenakan baju yang sudah Alena siapkan untuknya.


"Dia sungguh peehatian padaku," gumamnya.


Terlihat Alena menyiapkan makan malamnya. Mereka makan dengan hening, raut wajah Nico sulit diartikan. Entah apa yang dia pikirkan.


"Apa ada masalah dengan pekerjaan mas?" tanya Alena.


"Tidak!" jawab Nico singkat.


"Heemm, jutek amat jawabnya!" batin Alena.


Saat dalam keheningan tiba - tiba phonsel Alena berdering, ada pesan dari Sean.


"Sean?" lirih Alena sambil mengerutkan keningnya.


Nico yang mendengar Alena menyebut nama Sean, semakin penasaran apa isi pesan itu.

__ADS_1


"Berhentilah bermain phonsel saat sedang makan!" titah Nico.


Alena langsung menaruh phonselnya kembali ke meja.


"Kalau dia yang bermain phonsel saat makan, aku juga diam saja!" batin Alena.


Setelah Alena selesai makan, dia bereskan sisa - sisa makanannya dan mencuci piring, dan dia tinggalkan phonsel nya di meja.


Nico begitu penasaran isi dari pesan tersebut. Dia pun mengintip dari notifikasi depan layar isi pesan tersebut.


"Malam Al, jangan lupa makan. Nanti kamu sakit," pesan Sean.


"Cuuiihhh... Seperti anak pacaran saja. Sok - soak'an mesra!" batinnya.


"Ada hubungan apa kamu dengan laki - laki itu?!" tanya Sean tiba - tiba.


"Laki - laki mana? Aku tidak punya hubungan dengan siapa pun," balas Alena.


"Laki - laki yang baru saja mengirim pesan kepada mu!"


"Sean? Aku gak ada hubungan apa - apa dengan dia! Dan aku juga gak punya hubungan dengan laki - laki manapun! Tidak seperti kamu!" balas Alena sinis.


"Apa kamu bilang! Kamu mau menyindir ku!"


"Enggak, itu kenyataannya! Kamu bermain dengan wanita lain, sedangkan kamu sudah beristri!" ujar Alena.


"Asal kamu tau! Sebelum kamu ada di dunia ini, aku sudah menjalin hubungan dengannya! Kehadiranmu lah yang merusak segalanya!" jawab Nico penuh dengan emosi.


"Maka dari itu aku ingin kita bercerai saja. Agar kamu bebas melakukan apapun!"


"Itu tidak akan pernah terjadi!" balas Nico.


"Apa sih mau kamu mas! Apa kamu takut tidak mendapatkan harta warisan dari orang tua kamu!" celetuk Alena tiba - tiba.


"Kalau iya kenapa?!"


"Benar dugaanku selama ini!"


"Memang itu alasan ku menikahi kamu! Agar aku bisa mendapatkan sepenuhnya harta Papa!" balas Nico.


Alena tak mampu menjawab lagi. Hati nya sakit untuk kesekian kalinya. Banyak perubahan yang dia lakukan pada dirinya. Niatnya untuk memperbaiki rumah tangganya, tapi apa yang dia dapat, malah sakit yang mendalam. Seolah - olah dia tidak ada artinya di mata suaminya.


Alena pun pergi kekamarnya. Dia menangis sejadi - jadinya, dia tutup mulutnya dengan bantal, agar Nico tak mendengar tangisnya.


"Kali ini aku sudah bulatkan tekat ku mas, maafkan aku yang sudah merusak kehidupanmu selama ini," lirih Alena hingga dia tertidur.


****


Pagi yang cerah memberikan secercah harapan untuk Alena menjalani hidup. Namun nyatanya fakta itu lebih menyakitkan dari pada sebuah mimpi.


Dia menyusuri sepanjang jalan setapak. Keringat bercucuran menandakan dia harus beristirahat.


"Maafkan aku mas pergi tanpa pamit. Aku begitu menyayangi mu, sampai - sampai aku masih bertahan meski aku tau itu tidak mungkin merubah keadaan menjadi lebih baik. Maafkan aku sudah banyak membuat mu menderita. Aku akan merelakan mu dengan wanita pilihanmu, dan aku tidak akan bilang kepada kedua orang tua mu tentang masalah kita. Aku harap kamu bisa bahagia dengannya." isi surat Alena.

__ADS_1


__ADS_2