Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
strategi


__ADS_3

Bagai di sambar petir di siang bolong. Nico tidak menyangka bahwa Alena akan mengandung anak Ramon secepat ini. Lalu bagaimana dengan rencananya?


"Kamu hamil?" tanya Nico sedikit terkejut.


"Iya, Mas. Baru beberapa minggu. O ya Mas, Leo masih sekolah pulangnya sedikit terlambat hari ini. Apa kamu tidak apa-apa menunggu lama?" tanya Alena pada Nico. Dirinya takut Nico akan kecewa karena terlalu lama menunggu.


"Tidak masalah. Aku bisa menunggu, kamu lanjutkan saja kegiatanmu. Tapi Al, bolehkah aku pakai rumah kamu yang lama untuk tinggal selama aku di sini? Itu kalau boleh," ucap Nico meminta ijin. Dengan begini lebih baik, Alena juga bisa bermain kesana sewaktu-waktu dengan Leo.


"Tentu saja boleh, Mas. Tunggu, aku ambilkan kuncinya." Alena segera naik ke atas menuju kamarnya, untuk mengambil kunci rumah lama. Tanpa ada rasa curiga maksud dari Nico, Alena dengan gampangnya memberikan kunci rumah miliknya kepada Nico.


Setelah memberikannya pada Nico, dia segera pamit pulang. Nanti sore setelah Leo pulang sekolah dia akan kemari lagi mengajak jalan-jalan anak semata wayangnya itu.


Nico melajukan mobilnya perlahan. Di tengah perjalanan terdengar dering telpon dari seseorang.


"Apa apa?" tanya Nico pada orang di seberang.


"Ok. Kerja bagus. Aku tambah bonus kamu." Nico langsung mematikan sambungannya.


Segera di mempercepat lajunya agar cepat sampai.


Beberapa menit kemudian, dia sampai di rumah lama Alena. Nico segera turun dan memasuki rumahnya.


"Masih terawat," lirihnya saat memasuki halaman depan. Nico mengelilingi seluruh ruangan yang ada di rumah.


Dia berjalan menuju lantai dua bagian depan. Kamar yang masih terawat meski pemiliknya sudah tidak di sini lagi.


"Bolehkah aku tidur di sini, Al? Aku sangat merindukanmu. Hingga detik ini aku tidak menemukan penggantimu dalam hidupku. Kamu terlalu berharga untuk di lupakan."


Nico memasuki kamar Alena dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur king size nya.


"Aku harus segera membawa kalian kembali, sayang. Papa tidak bisa hidup tanpa kalian," lirihnya sambil mengeluarkan laptopnya.

__ADS_1


Setelah menerima panggilan tadi, Nico segera mengecek saham miliknya.


"Sebentar lagi kita akan berkumpul," gumamnya.


*


*


Di lain tempat, Ramon terus berusaha keras untuk memulihkan saham yang terus anjlok. Dia khawatir akan berdampak buruh untuk perusahannya yang lain. Dia masih memikirkan bagaiaman nasib seluruh keryawannya jika dia bangkrut.


Dan, bagaimana dengan Alena jika dia sudah tidak memiliki apa-apa. Apa Alena akan meninggalkannya? Atau akan bertahan dan menghadapinya bersama-sama? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.


"Bagaimana?" tanya Ramon pada stafnya yang memeperbaiki data-data yang bocor.


"Belum ada hasil, Pak. Saya akan berusaha sebisa mungkin," balasnya sambil fokus ke depana laptop.


"Aku harap, segera mendapat kabar bagus nanti." Ramon langsung beranjak pergi meninggalkan karyawannya untuk mengurus bisnisnya yang lain. Jangan sampai yang lain juga ikut terkena imbasnya.


Ramon belum tahu siapa dalang di balik semua ini. Tetapi, satu yang pasti dia tidak akan menyerah begitu saja.


Saat sedang bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba suara phonsel mengejutkannya.


"Alena?" lirih Ramon ketika melihat siapa yang memanggilnya.


"Iya, sayang. Apa apa?" tanya nya.


"Mas, apa kamu sibuk?"


"Sedikit, tapi kalau kamu butuh sesuatu aku bisa belikan."


"Nggak ada. Aku cuma kangen aja. Nggak tahu kenapa rasanya pengen aja di manja sama kamu," ucap Alena.

__ADS_1


"Tumben, biasanya juga nunggu kalau aku pulang ke rumah. Apa kamu baik-baik saja?"


"Baik, Mas. Aku baik-baik saja. Mas nggak usah khawatir."


"Ya sudah, aku selesaikan ini dulu biar cepat pulang. Kamu harus makan yang banyak, jangan sampai telat makan. Ingat, kamu tidak sendirian." Ramon mengingatkan Alena.


"Iya, Mas. Tenang aja."


Sambungan pun terputus. Ramon pun ngebut menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera pulang. Mendengar Alena minta di manja, membuatnya semakin ingin segera pulang.


Tak lama setelah panggilan dari istri tercintanya, Ramon mendapat kabar bahwa bawahannya sudah menemukan siapa yang membocorkan data perusahaannya.


"Segera urus ini!" titah Ramon pada sekertrisnya. Ramon tidak menyangka kalau akan di khianati oleh karyawannya sendiri.


*


*


Saham milik Nico terus melonjak hingga puncak. Tentu saja itu sangat menguntungkan perusahaan Nico.


"Baiklah, sedikit lagi kita akan berhasil membawa segalanya," gumamnya. Semenjak kedatangannya, dia terus menatap layar datar itu tanpa berkedip.


...****...


Hai,, maaf ya, author telat update soalnya sedang sakit . Ini baru memulau lagi, semoga bisa konsisten lagi ya.


O ya aku ada rekom cerita yang seru dan menarik, yuk mampir baca



__ADS_1


__ADS_2