
Sean jadi merasa bersalah, karena menendang perut Nico.
"Al, maaf ya merepotkan kamu lagi," ucap Sean tiba-tiba.
"Sudahlah Mas, semua sudah terjadi. Kalau tidak ada yang memulai, nggak mungkin bisa sampai seperti ini." jawab Alena.
Mereka berdua duduk berjajar ruang tunggu. Sambil menunggu perkembangan Nico.
Setelah beberapa jam akhirnya dokter keluar.
"Keluarga tuan Nico!"
"Saya dok!"
"Oprasi nya berjalan sukses, setelah ini pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap."
"Baik dokter, terima kasih," balas Alena.
"Saya permisi dulu!"
"Mohon segera kebagian administrasi nyonya," ucap suster.
"Baik sus," balas Alena dengan ramah
Alena dan Sean segera mengurus semua admnistrasi yang diminta oleh suster.
"Biar aku saja yang membayarnya Al," ucap Nico.
"Kita bayar bersama Mas," balas Alena.
Alena dan Sean sama-sama pergi ke bagian administrasi. Niat nya ingin membagi dua tagihannya, tetapi setelah melihat nominalnya Alena langsung pusing.
"Emm.... Mas ini benar segini ya totalnya?" tanya Alena dengan sedikit ragu.
"Sudah, aku yang bayar semua. Kamu nggak usah mikir ini!" balas Sean sambil mengeluarkan black cardnya.
"Aku kira dibawah 10 juta, ternyata lebih dari itu. Mana ada uang sebanyak itu, beruntung masih bisa makan!" tapi malunya itu lo....!! sudah percaya diri buat bayar, tapi pas sampai malah gak jadi! Hah..!! batin Alena.
Setelah semua administrasi selesai, Alena dan Sean menuju ke ruangan Nico. Tampak dia terkulai lemas pasca oprasi.
"Cepat sembuh ya mas, aku nggak tahu kalau kamu punya sakit yang begitu parah." batin Alena.
"Al, kamu tunggu sini ya! Aku pergi cari makan dulu," ucap Sean.
"Iya mas,"
Kini hanya tinggal Alena berdua dengan Nico.
"Apa yang membuatmu sampai seperti ini mas? Kenapa kamu tidak menjaga tubuhmu sensdiri!" lirih Alena dengan meneteskan air mata.
Saat Alena tertunduk dengan berderai air mata, tiba-tiba ada tangan kekar yang mengusap rambutnya.
__ADS_1
"Mas Nico!"
"Jangan menangis lagi," ucap Nico dengan suara yang menahan sakit.
"Sebentar mas, aku panggil dokternya dulu!" balas Alena sambil menekan tombol yang ada di samping tempat tidur.
Beberapa saat kemudian dokter berserta susternya datang, memeriksa ulang keadaan Nico.
"Kondisinya sudah cukup baik, tinggal pemulihan saja. Tolong di jaga dengan baik agar tidak terjadi hal yang seperti ini lagi." ucap dokter.
"Baik dok, terima kasih." balas Alena sambil mengantar dokter keluar.
"Saya harap nyonya menjaga tuan Nico dengan baik. Karena sebelumnya pernah mengalami depresi berat dan insomnia. Untuk kondisi saat ini sudah lumayan membaik dari pada sebelumnya." ucap dokter saat di depan pintu.
"Baik dok," jawab Alena.
"Oh saya hampir lupa, tuan Nico sangat menyayangi anda nyonya. Tuan pernah sedikit bercerita tentang anda. Awalnya saya juga tidak tahu kalau tuan Nico sudah menikah. Karena menurut berita dimedia, tuan masih single," lanjut dokter.
"Dok kalau boleh saya tahu, suami saya depresi karena apa ya?" tanya Alena hati-hati.
"Karena anda nyonya,"
"Saya?" balas Alena sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, karena anda tuan seperti itu. Selama anda pergi, tuan tidak bisa istirahat dengan baik. Banyak tekanan dan beban yang dia alami. Tuan sudah mencari anda kemana-namun nihil. Dari sanalah penyebab tuan tidak bisa tidur dengan baik dan mengalihkannya ke minuman keras." jelas dokter.
Alena menjadi merasa bersalah pada Nico. Tapi itu adalah pelajaran juga baginya, karena tak pernah menganggal Alena sebagai istrinya. Bukan salah Alena juga sebenarnya. Biatkan hal itu menjadi renungan tersendiri bagi Nico. Jika Alena tidak pergi, mungkin dia tidak akan menyadari bahwa jauh dari dalam hatinya ada nama Alena disana.
"Sama-sama." balas dokter dan berlalu pergi.
"Apa aku begitu keterlaluan? Tapi itu bukan salah ku juga, itu akibat dari perbuatannya. Seandainya dia meminta kembali apa yang harus aku katakan?! Aku takut suatu hari nanti dia bisa berubah pikiran dan kembali seperti dulu. Ah.... sudahlah tak perlu aku pikirkan, dia tidak mungkin memintaku kembali. Tetapi jika boleh jujur, hatiku masih ada nama nya." batin Alena.
Alena segera masuk kembali melihat Nico.
"Apa yang kamu bicarakan dengan dokter?" tanya Nico.
"Nggak ada, hanya disuruh menjaga jangan sampai terjadi lagi hal seperti ini." jawab Alena sedikit berbohong.
"Kamu mau makan mas?" tanya balik Alena.
"Iya, aku lapar,"
"Tunggu sini, aku turun sebentar mencari makan." ucap Alena.
Belum sempat beranjak dari tempat duduknya, Sean datang dengan membawa dua kantong plastik berisi makanan.
"Aku sudah membeli makanan Al, ayo kita makan dulu!" ucap Sean saat memasuki ruangan, tanpa tahu kalau Nico sudah bangun.
"Apa hanya Alena saja yang kamu ajak makan?!" tanya Nico.
"Hah!" balas Sean kaget melihat Nico sudah sadar.
__ADS_1
"Aku kira kamu akan tidur selamanya!" cicit Sean dengan santainya.
"Mas!" bentak Alena.
"Iya, iya maaf," balas Sean sambil mendudukkan dirinya di sofa ruangan.
"Sudah ayo kita makan!" ujar Alena berdiri untuk mengambil makanan.
Alena mengambilkan makanan untuk Nico.
"Ini mas," ucap Alena menaruh makanan pangkuan Nico.
"Tangan ku masih di infus, aku nggak bisa makan sendiri. Rasanya masih lemas tubuhku!" jawab Nico.
"Alasan!" cicit Sean.
"Ya sudah aku suapin!" Saat Alena akan beranjak menyuapi Nico, tiba-tiba Sean mengambil alih makanan Nico.
"Biar aku saja Al, kamu makan dulu. Dari tadi kamu belum makan!" ujar Sean.
Nico yang ingin mencari perhatian Alena, akhirnya gagal. Dia terpaksa menerima suapan dari Sean yang nggak kira-kira.
"Sedikit-sedikit kenapa! Kelihatan kalau gak ikhlas!" ucap Nico.
"Cerewet!" balas Nico sambil menyodorkan makanan ke mulut Nico.
Alena yang melihat itu hanya bisa tertawa dalam hati.
"Seperti kucing dan tikus!" batin Alena.
****
"Aku temani kamu tidur disini Al," ucap Sean sambil duduk di bangku depan ruangan Nico. Mereka pergi ke depan, sementara Nico tidur sesuai perintah dokter.
"Nggak usah mas, biar aku yang menjaganya. Mas Sean pulang dulu saja, kondisi mas kan juga nggak baik. Nanti malah tambah parah kalau ikut disini." jawab Alena.
"Aku baik-baik saja kok!" balas Sean.
"Mas! Jangan membantah! Kalau kamu sakit, aku juga yang repot nantinya!"
Dengan terpksa Sean beranjak dari sana. Dia akan kembalo besok pagi.
"Al, boleh aku bertanya?" ucap Sean.
"Apa mas?"
"Apa aku punya kesempatan untuk mengisi hati kamu?" Tanya Sean.
"Maksud mas mengisi hati?!"
"Emm.... ya mengisi hati kamu yang sedang kosong!" balas Sean berbelit-belit.
__ADS_1
"Kamu istirahat dulu mas, kita bahas besok lagi!" balas Alena.