Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Lebih dekat


__ADS_3

Sambil mencondongkan tubuhnya Sean memasangkan sabuk pengaman Alena.


"Kenapa jantung ku deg degan yah?" batin Alena.


Selesai memakaikan, Sean langsung tancap gas melajukan mobilnya.


"Kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Sean untuk mencairkan suasana. Karena dari tadi Alena hanya diam saja.


Alena diam saja bukan karena malas menanggapi Sean, tapi dia bingung harus ngomong apa duluan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"tidak biasanya begini!" batin Alena.


"Di dekat sini saja Mas, kebetulan ada keluarga yang mau memberi ku tumpangan."


"Apa Nico tahu kamu disini?" tanya Sean tiba-tiba.


"Nico?!" seru Alena sedikit kaget.


"Iya, aku tahu kok kamu istri Nico!"


"Bagaimana Mas tahu?!"


"Aku tahu sudah dari dulu! Aku mendengar sendiri dari mulut Nico! Bukan Nico yang memeberitahu ku, tapi waktu kalian bertengkar di pesta waktu itu!"


"Maaf,"


"Kenapa minta maaf?" tanya Sean.


"Karena aku sudah banyak merepotkan kamu mas, seharusnya dia yang berada disini sekarang. Tapi sepertinya itu mustahil!"


"Apa kamu mencintainya?"


"Aku tidak tahu!" balas Alena sendu. Dia sedikit bimbang dengan perasaannya. Disatu sisi dia mencintai suaminya, tapi disisi lainnya dia juga sudah menyerah dengan perasaanya. Alena tidak ingin sakit hati lagi, mungkin perlahan-lahan dia akan melepaskan Nico dan memulai hidup baru.


"Pikirkanlah, agar kamu tidak salah melangkah lagi!" ucap Nico.


"Tapi dia tidak mau berisah dengan ku!"


"Apa alasannya?!"


"Aku tidak tahu!"


"Kalau tiba-tiba Nico kesini, apa kamu akan pulang denganya?"


"Aku tidak tahu mas, aku bingung."


Sean dan Alena sama-sama diam, mereka bergelut dengan pikirannya masing-masing.


"Rumah ku sudah dekat mas," ujar Alena.


"oh, sebelah mana Al?"


"Berhenti disini mas," inta Alena.


Sean memarkirkan mobilnya di depan rumah ibu Alena.


"Mas Sean sudah dapat penginapan?" tanya Alena.


"Belum Al, nanti setelah pulang aku mau cari!"


"Ya sudah, ayo turun dulu!" ajak Alena.


Sean segera mengikuti Alena untuk turun.

__ADS_1


"Bu, Alena pulang!" ucap Alena ketika memasuki rumah.


"kok malam Al, ibu khawatir! Bapak mu tadi tak suruh jemput ke tempat kerja kamu, tapi kata bapak gak usah. Takut kamu lembur dan mengganggu kamu!" ujar Ibu.


"Tidak bu, tadi Alena ketemu sama teman Alena. Terus kita pergi makan, jadi kemalaman karena banyak ngobrolnya,"


"Oalah... ya sudah, kamu mandi dulu. Ibu tadi sudah masak air hangat buat kamu!"


"Iya Bu,"


"Mas, kamu duduk dulu. Aku mandi sebentar!" ujar Alena.


Alena segera membersihkan diri. Dia tidak mau Sean menunggu terlalu lama.


"Nama nya siapa nak?" tanya Ibu Alena.


"Sean bu,"


"Ganteng, sesuai dengan namanya!"


Sean hanya tersenyum.


Setelah Alena selesai mandi, dia menemui Sean.


"Mas, mau mandi dulu?"


"Nanti saja dipenginapana," ujar Sean.


"Nati tidur disini saja, menginap di rumah bapak saja.kalau mau cari penginapan disini susah dan mahal," ucap Bapak Alena.


"Tidak usah pak, merepotkan!"


"Ehh.. kata siapa, teman Alena juga kita aggap seperti anak sendiri!"


"Iya nak Sean, tinggal disini saja. Biar tambah rame rumah ibu!"


"Iya Al, kalau kamu maksa!" balas Sean sambil senyum-senyum. Dia senang akhirnya bisa bersama-sama Alena, meski belum bisa memiliki setidaknya bisa disampingnya saja membuat bahagia.


Ibu Alena menata kamar yang akan dipakai oleh Sean. Sementara Alena menyiapkan makan malam sengan orang tuanya dan Sean.


"Kita mau makan lagi?" tanay Sean.


"Iya Mas, kalau gak makan nanti Ibu kecewa. Jadi makan saja meski hanya sedikit!" jawab Alena.


Sean pun hanya mnganggukkna kepalanya.


Kini mereka semua berkumpul di meja makan.


"Ibu kira tadi kamu pacar Alena!" ucap ibu tiba-tiba.


Sean dan Alena yang mendengar ucapan ibu langsung tersedak.


"Ibu ini, anak-anak lagi makan malh diajak ngomong! Kasian kan jadi tersedak!" ujar Bapak.


Sean dan Alena saling melirik. Mereka sama-sama malu.


"Kenapa aku jadi gugup, kan aku hanya berteman saja! Dan kita juga enggak saling mengenal begitu jauh!" batn Alena.


"Andai itu menjadi kenyataan Al, betapa bahagianya aku!" batin Sean.


***


Akhirnya Sean menginap di rumah Ibu Alena. Dia mendapat kamar yang dekat dengan Alena.

__ADS_1


"Selamat malam Mas," ucap Alena saat akan memasuki kamarnya.


"Malam Al,"


Sean mengeluarkan bajunya dan segera mandi. Dia paling gak bisa tidur kalau belum mandi.


Setelah mandi, Sean kembali ke kemarnya. Saat melewati kamar Alena, tak sengaja dia melihat Alena yang sedang menyisir rambutnya. Kebetulan Alena tak sengaja menutup pintunya kurang rapat, jadinya ada celah untuk mengintip.


"Kamu sangat cantik Al, laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan mu!" batin Sean, sambil memperhatikan Alena.


"Aku takut kamu tidak bisa aku miliki Al, mengingat kamu masih menjadi istri sah Nico. Aku sangat iri dengannya!" monolog Sean sambil menutup pintu Alena.


Sean merebahkan dirinya di kasur kecil yang hanya cukup untuk 1 orang.


"Apa aku harus merebutnya dari Nico? Tapi aku takut Alena akan membenciku nantinya!" ucap Sean lirih.


"aaahhh... sudahlah, tidur saja!"


***


"Mas seandainya yang datang mencariku adalah kamu!" lirih Alena.


"Apa kamu juga memikirkan aku mas? Apa kamu tidak ingin mencari ku? Aku merindukan kamu mas!" ucap Alena sambil meneteskan air mata hingga terlelap.


***


Hari ini adalah hari libur Alena bekerja. Dia mendapat jatah libur 1 hari setiap minggu nya.


"Kamu pergi jalan-jalan saja sama teman kamu Al," ucap Ibu Alena.


"Alena pengen bantu Bapak bu!"


"Enggak usah Al, bapak sudah ada temannya disana!" balas Bapak.


"Kamu ajak keliling, kalau cari penginapan mending gak usah! Uangnya disimpan saja! Tidur disini saja sudah cukup dan gak perlu bayar. Jadi uangnya bisa disimpan!" ujar Ibu Alena.


"Iya bu, saya nginap disini saja!" balas Sean. Dia tidak akan bisa membantah jika orang tua yang memerintah.


"Ya sudah, Alena berangkat dulu ya Bu, Pak!" pamit Alena.


"Hati-hati ya!"


"Iya bu!" balas Sean.


Alena mengajak Sean pergi bermain ke pantai dekat rumahnya. Sebenarnya agak jauh sih, tapi kalau bawa mobil ya enggak.


"Bagus ya Al!"


"Iya Mas, aku juga pergi kesini sama Bapak. Tapi gak setiap hari sih, kalau pas bapak ada kerjaan dekat sini saja!"


Alena dan Sean duduk di atas pasir yang basah karena air laut. Mereka befitu menikmati setiap desir angin pantai yang membuatnya terasa lebih baik.


"Al, kamu tahu gak kalau aku pernah jatuh cinta!"


"O ya! Sama siapa? Apa aku menganlnya?! Atau sama-sama artis juga?!" tanya Alena.


"Dia bukan artis, dia orang biasa tapi luar biasa! Dia orang yang sangat spesial dihati ku!"


"Beruntungnya orang yang bisa bersama dengan mu Mas!"


"Beruntung kenapa?!"


"Ya, kamu orang yang baik dan perhatian. Wanita mana yang gak mau sama kamu mas," ujar Alena.

__ADS_1


"Berarti kamu juga mau sama aku Al?!" tanya Sean dengan spontan.


"A ak aku? Ya ya gak lah mas, aku kan sudah punya suami!" balas Alena gugup.


__ADS_2