
"Tunggu! Sepertinya aku begitu mengenal suara ini. Apa aku yang salah dengar atau memang benar diri nya?" batin Alena bertanya-tanya.
Alena langsung mendongakkan kepalanya menghadap Ramon.
"Kamu!" ucap Alena dengan nada terkejutnya.
"Ya, kenapa? Kamu kaget ya?" ledek seseorang.
"Bagaimana bisa kamu menciumnya Mas? Apa kamu sadar? Atau mata ku yang rabun?" tanya Alena bertubi-tubi.
"Tidak, aku ingin menjelaskannya sama kamu. Tapi kamu keburu emosi terlebih dahulu. Bagaimana bisa aku menjelaskan jika kamu memberondong ku dengan banyak pertanyaan yang nggak ada buktinya." Ramon memprotes Alena.
"Dia datang kesini ingin bekerja sama dengan ku. Bulan madu nya di undur karena istri tercinta nya sedang datang bulan. Begitu frustasinya dia, akhirnya kesini. Saat masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba matanya kelilipan. Dengan terpaksa aku membantunya. Bersamaan dengan itu, kamu muncul seperti hantu yang tak bersuara sama sekali. Tahu-tahu kamu sudah ada di belakang ku," jelas Ramon panjang lebar.
"Mana mungkin dia mau berpaling dari istri seperti kamu. Kalau sampai dia berpaling, maka kamu akan aku ambil, Al. Tidak peduli aku sudah beristri atau tidak, asalkan bisa denganmu aku bahagia," ucal Ken yang juga ikut menjelaskan.
Alena yang merasa malu hanya bisa cengar-cengir nggak jelas. Dia pikir Ramon akan selingkuh dari nya. Ternyata dia hanya meniupkan mata Ken yang kelilipan.
"Aku nggak mungkin selingkuh sayang. Bisa memiliki kamu saja sudah lebih dari cukup. Apa lagi kita di karuniai seorang putra yang sangat tampan dan baik. Jangan pernah berpikir macam-macam lagi. Selamanya aku hanya mencintai kamu, sampai Tuhan memisahkan kita," ucap Ramon sambil memeluk Alena.
__ADS_1
Suasana ruangan Ramon saat itu begitu penuh ketegangan. Tapi saat Ken yang muncul, hilang sudah semua ketegangan dan keresahan Alena.
"Aku pikir dia wanita. Atau kamu gay?" celetuk Alena tiba-tiba dengan gaya sok detective nya.
"Gila! Ya nggak mungkin lah. Kita normal!" ucap mereka bersamaan.
Alena hanya tersenyum menanggapi jawaban mereka berdua.
"Sudah, jangan mikir macam-macam. Hari sudah sore, ayo kita pulang. Leo pasti sudah menunggu kita," ajak Ramon sambil meraih pinggang istrinya untuk di giring pulang.
"Tunggu! Bagaimana dengan kerja sama kita?" tanya Ken sambil menunjukkan dokumen yang di bawanya.
"Istirahat? Istirahat apa bikin anak!" teriak Ken yang masih bisa di dengan Ramon di ambang pintu.
"Tentu saja membuat Ramon junior!" balas Ramon yang mendapat cubitan di perut oleh Alena.
"Mas, di dengar banyak orang."
"Biarkan saja." Ramon langsung pulang. Nampak begitu sumringah ketika melewati banyak pegawainya.
__ADS_1
"Tidak biasanya Pak Ramon begitu senang. Biasanya hanya marah dan revisi, marah dan revisi. Sungguh terlalu," ucap salah satu pegawai.
Ramon tidak menggubris bisik-bisik para pegwainya. Yang jelas hatinya saat ini begitu bahagia bisa di temani oleh Alena saat bekerja.
\*\*\*\*\*\*\*\*
"Papa," panggil Leo sambil berlari ke pelukan Ramon, saat melihat Papanya keluar mobil.
"Jagoan papa," balas Ramon langsung menggendong Leo.
Alena begitu senang melihat ledekatan suami dan anak nya.
"Papa kenapa pulang nya lama? Leo kangen," rengek Leo.
"Leo, sini sama mama. Kasihan Papa pasti capek," ujar Alena.
"Nggak mau. Leo mau nya sama Papa. Boleh ya Pa?"
"Tentu saja boleh. Kapan saja Leo membutuhkan Papa, Papa akan selalu ada untuk Leo," balas Ramon sambil mencium pipi Leo.
__ADS_1
Mereka bertiga berjalan memasuki rumah utama keluarga Ramon.