
haaiii...ketemu lagi nihhh...
Kayaknya tuan muda Sean langsung tancap gas aja ya sekarang. Udah gak pekek basa-basi lagi.
Jangan lupa like dan komennya ya,,
kalau dapat 20 like dan komen aku langsung up lagi gak pakek nunggu besok.
*
*
*
Alena merasa canggung dengan situasi ini. Dia merasa sedikit gugup dengan pertanyaan Sean yang tiba-tiba.
"Kalau seandainya kamu bukan milik Nico, bisakah kamu menjadi milikku?!" ujar Sean lagi.
"Haa!!" jawab Alena spontan.
"A a aku, ngomong apa sih Mas! Ada-ada saja!" jawab Alena gelagapan.
"Kamu mau tau gak siapa yang selama ini aku suka?"
"Siapa memangnya?!" dengan bodohnya Alena bertanya balik.
"Kamu!" jawab Sean.
Alena tidak bisa berkata-kata lagi. Dia bingung harus ngomong apa. Alena hanya diam tak merespon. Dia cukup terkejut dengan jawaban Sean.
"Ayo kita jalan kesana mas!" ajak Alena.
"Ayo!" Sean tahu kalau Alena juga gugup. Jangankan Alena, bahkan jantung Sean pun rasanya akan lepas dari tempatnya saat mengucapkan kata-kata itu. Dia mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya, meski Sean tahu itu tidak mungkin terjadi.
Tapi jika Tuhan sudah menghendaki, apapun pasti bisa terjadi. Entah jalan seperti apa yang akan dia jalani nantinya. Sean hanya bisa berserah diri agar Tuhan mau membantunya.
Sean dan Alena berjalan beriringan. Alena sedikit canggung, dia bingung harus meluakan apa.
"Al," panggil Sean.
"Ya Mas,"
__ADS_1
"Apa rencana kamu setelah ini?"
"Masih belum tahu Mas, aku masih ingin menikmati hidup di desa!"
mereka berdua terus berjan menyusuri pinggiran pantai. Sampai tak terasa hari sudah semakin sore.
"Ayo kita pulang Mas, sudah sore!"
"Ayo," Sean dan Alena pun segera kembali kerumah. Seharian sudah Alena menemani Sean jalan-jalan menyusuri pantai.
Alena kemabli menaiki mobil Sean yang sangat mewah itu. Dengan atap terbuka dan segarnya angin sore hari, membuat setiap pikiran yang tadinya suntuk menjadi lebih segar.
Alena begitu senang bisa menaiki mobil mewah milik Sean. Selama ini Alena tidak pernah sekalipun naik mobi milik Nico. Waktu dia sakit, waktu dia terlambat berangkat kerja, dan waktu Alena berbelanja kebutuhan rumah dia selalu menaiki bus umum. Nico tidak pernah mau mengantar Alena dengan mobil miliknya. Hanya Viona kekasihnyalah yang sering naik turun koleksi mobil Nico.
Alena tahu itu, tetapi dia kuatkan hatinya untuk terus menjalani rumah tangga dengan Nico. Munafik kalau Alena tidak cemburu, dia bahkan menahan sakit didadanya kala tahu Viona dan Nico saling menautkan bibir di dalam mobil.
"Terima kasih Tuhan, hari ini salah satu impian ku tercapai. Meski bukan mobil milik suami ku sendiri, aku tetap bersyukur bisa merasakan menaiki mobil mewah ini. Mudah-mudahan impianku yang lain segera tercapai!" batin Alena. Menaiki mobil sport adalah salah satu mimpi Alena selama ini. Melihat koleksi mobil Nico, membuat Alena juga ingin bisa merasakannya.
Saat dia melintasi jalan raya yang cukup ramai, tak sengaja Nico melihat Alena yang tersenyum pada Sean. Nico yang tahu itu adalah Alena istrinya, dia langsung memutar arah mobilnya menyusul Sean.
"Alena!" ucap Sean.
"Kenapa dia dengan Sean?! Apa selama ini Sean yang menyembunyikan Alena?!" batin Nico terus bertanya-tanya.
"Awas Mas!" teriak Alena.
Spontan Sean berhenti mendadak. "Gila! Siapa sih?! Main potong jalan orang saja!" ucap Sean.
Nico langsung keluar dari mobilnya. Melihat istrinya dengan laki-laki lain membuat sakit hati nya.
"Apa seperti ini juga yang kamu rasakan dulu Al?!" batin Nico.
Alena terejut saat tahu yang keluar dari mobil adalah Nico. Tubuhnya sedikit bergetar kala melihat Nico tiba-tiba didepan matanya. Meski tak bisa di pungikiri bahwa hatinya sangat senang melihat wajah suami yang sangat dicintainya.
"Apa maksud kamu membawa kabur istri orang hah!" bentak Nico.
Sean langsung turun dari mobil, begtu juga dengan Alena.
"Maksud kamu apa! Aku tidak membawa kabur siapaun!"
"Alena masih sah menjadi istri ku! Aku bisa saja melaporkan mu karena penculikan istri orang!"
__ADS_1
"Mas, aku tidak di culik siapapun! Aku pergi karena muak dengan kelakuan kamu!" balas Alena.
"Kamu salah Nic! Aku tidak menculik atau membawa kabur Alena. Aku menemukan Alena di daerah sekitar sini!"
"Ayo kita pulang Al!" ajak Nico.
"Enggak Mas, aku gak mau! Aku sudah hidup tenang disini!"
"Gak bisa Al! Kamu harus ikut aku pulang sekarang juga!" ucap Nico sambil menarik tangan Alena.
Melihat Alena memberontak, Sean pun ikut menarik tangan Alena.
"Lepaskan tangan kotormu dari nya!" ucap Sean.
"Apa maksud kamu hah!"
"Kamu masih tidak mengerti juga! Alena tidak ingin hidup bersama mu kembali! Kamu banyak menyakiti hatinya Nic!" bentak Sean.
"Gak bisa, pokoknya dia harus ikut pulang denganku sekarang juga! Ingat Al, aku masih suami sah kamu hingga detik ini!"
"Aku gak bisa mas, aku ingin kita bercerai!" balas Alena.
Reflek Nico langsung mengangkat tangannya akan menampar Alena. Namun sebelum tangan itu melayang dia sudah mendapat pukulan lebih dulu dari Sean.
Sean terus mengahajar Nico tanpa ampun. Alena terus berteriak histeris menyuruh Sean menghentikan aksinya. Tapi bukan Sean namanya kalau dia berhenti begitu saja. Sean benar-benar geram dengan kelakuan Nico, buaknnya minta maaf malah memukul Alena.
"Kalau kamu sudah tidak menginginkan Alena! Lepaskan dia! Dia sangat menderita jika terus hidup denganmu! Aku yang akan membahagiakannya!" ucap Sean masih dengan kegiatan memukul Nico.
"Gak akan! Aku gak akan pernah menceraikan Alena apapun yang terjadi! Aku mencintainya!" balas Sean.
Dua kalimat itu yang membuat Alena begitu kaget. Selama dia menikah dengan Nico, baru kali ini Nico mengucapkan kata cinta.
"Kita gak akan pernah berpisah Al! Apapun yang terjadi kita akan hidup bersama, menua bersama dan membesarkan anak-anak kita bersama! Aku mencintai mu Al! Aku sangat mencintai mu!" teriak Nico.
"Sudah Mas! Cukup, nanti dia bisa mati Mas!" ucap Alena sambil menarik tangan Sean.
"Bahakan kamu masih membelanya Al! Dia yang nyakitin kamu! Dia juga yang memilih menghancurkan rumah tangga dengan mu! Tapi kamu masih membelanya!" teriak Sean.
Alena jadi serba salah, disatu sisi dia tidak ingin Nico kenapa-napa. Disisi lain dia tidak ingin Sean berurusan dengan polisi.
"Terserah kalian mau apa! Mau mati bersama, mau saling membunuh, mau apa saja aku tidak perduli lagi! Terserah kalian! Aku sudah muak denga kelakuan kalian!!" teriak Alena meluapkan emosinya. Alena bingung harus membela yang mana.
__ADS_1
Akhirnya Sean menyudahi pukulannya. Nico sudah babak belur tak berbentuk. Wajahnya penuh dengan darah segar. Alena yang melihat itu tak tinggal diam, dia langsung membopong tubuh Nico memasuki mobil Sean. Dia juga meminta Sean membantunya mengantar ke rumah sakit tersekat.