
"Al, aku mohon bangunlah! Nanti kita hidup bersama lagi. Seperti apa kondisi kamu, aku akan setia menemani kamu Al!" lirih Nico didalam tangisnya.
Nico tetap setia menunggu didepqn pintu ruangan Alena. Bersama dengan Sean, mereka berdua sama-sama menunggu kesadaran Alena.
"Apa kamu sudah mencaritahu siapa dalang dibalik semua ini?!" tanya Sean.
"Mereka masih mencari jejaknya. Sepertinya ini sudah direncanakan! Kalau sampai ketemu siapa orangnya, aku tidak akan membiarkan dia hidup saat itu juga!" dengan menggebu-gebu Nico menyampaikan isi hatinya.
Begitu mereka mendapat kabar Alena kecelakaan, Nico langsung terbang dengan pesawat pribadinya. Tak menunggu lama baginya, untuk sampai di rumah sakit tempat Alena berada.
Sean pun juga sama, dia langsung menuju ke rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Mereka berdua bersama-sama menjaga Alena. Bahkan Nico memperketat penjagaan di sekitar rumah sakit. Dia menempatkan seluruh mata-mata disetiap sudut rumah sakit.
"Awasi siapapun yang mencurigakan! Aku tidak ingin sampai dia lolos!" titah Nico kepada seluruh anak buahnya.
Nico yang bergolongan darah sama dengan Alena, dengan senang hati memberikan darahnya untuk orang yang dicintainya. Meski pernah dia sia-siakan, kini Nico sudah berubah. Dia begitu menyayangi Alena.
"Kamu istirahatlah, biar akau yang menjaganya," dengan halus Sean membujuk Nico agar mau pulang.
"Tidak, aku tidak akan pergi dari sini sebelum Alena sadar. Kamu saja yang pergi!" jawab Nico.
Sudah berkali-kali Sean membujuk Nico untuk pulang dan beristirahat sejenak, tetapi dia tolak. Nico ingin orang pertama yang dilihat Alena adalah dirinya.
"Ya sudah, aku pergi cari makan dulu!" Sean pun beranjak pergi.
Nico tetap diam di tempat. Dia akan jadi orang pertama yang mengetahui baik buruknya kondisi Alena.
"Aku mau secepatnya! Jangan bertele-tele!"
"Baik bos! Ini masih proses pemulihan data cctv di sekitar tempat kejadian!" balas orang di sebrang.
Nico langsung mematikan panggilan.
"Aku tidak akan membiarkan kamu lolos!" dengan wajah dinginnya Nico bergumam.
"Keluarga nona Alena!" suster memanggil.
"Saya suaminya!" jawab Nico.
"Silahkan masuk, pasien mulai ada kemajuan!"
Dengan langkah cepat Nico memasuki ruangan Alena.
"Mas Nico," panggil Alena lirih.
"Iya Al, aku disini. Aku akan selalu menemami kamu dimana pun!" ucap Nico seraya menggenggam tangan Alena.
Sudah berhari-hari Nico menunggu kesadaran Alena, dan hari ini adalah hari kebahagiaan Nico kala melihat mata indah orang yang dicintainya terbuka.
"Mas Nico sudah lama disini?" tanya Alena.
"Iya, aku menunggu kamu setiap hari. Aku ingin jadi orang pertama yang kamu lihat saat terbangun,"
__ADS_1
Hati Alena sedikit hangat dengan pernyataan Nico.
"Maafkan aku, sudah menyusahkan kamu mas,"
"Enggak! Kamu nggak menyusahkan aku sama sekali Al!" belum sempat Nico melanjutkan perkataannya, dering phonsel mengganggunya.
Dia melihat pesan masuk dari bawahannya.
"Ketemu bos! Bos bisa langsung cek kemari!" Nico langsung memasukkan kembali phonselnya.
"Kamu mau makan?" Nico bertanya pada Alena.
"Nggak mas, aku mau tidur saja. Kepalaku terasa berat!"
"Ya sudah kamu tidur dulu, aku keluar sebentar mau cari angin!" pamitnya sambil menyelimuti tubuh Alena.
Dokter sudah memindahkan Alena ke ruang rawat inap. Tak lupa Nico memperketat penjagaan di depan pintu.
Begitu mendapat kabar, Nico langsung pergi menemui anak buahnya. Dia sudah tidak sabar siapa orang yang tega menyakiti Alena.
"Kena kamu malam ini!" seru Nico sambil melajukan mobilnya dengan kencang.
Sesampainya dilokasi, Nico bergegas masuk. Dia langsung melihat sendiri bagaimana Alena di pukul dengan tongkat panjang.
"Sialan! Cepat temukan dia, malam ini juga!" titah Nico pada anak buahnya.
"Siap bos!" merek semua langsung berhamburan keluar.
"Aku butuh bantuanmu!" Nico sedang melakukan panggilan dengan seseorang.
"Tumben sekali! Biasanya juga kamu bisa mengatasinya sendiri!" balasnya.
"Jangan banyak tanya! Kerjakan saja tugas dariku! Aku butuh dia malam ini juga, dan aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu. Jika berhasil aku tambah 2 kali lipat!" pesan Nico.
"Siap bro, kamu memang yang terbaik!"
"Aku kirimkan rekaman cctvnya padamu, cepat cari dia!"
"Beres!" panggilan pun terputus.
****
"Siapa kamu?! Berani-beraninya melukai orang yang paling aku cintai!" gumam Nico.
Beberapa menit kemudian, Nico mendapat kabar.
"Bagaimana?!" tanya Nico.
"Dia melarikan diri! Ada seseorang yang memberinya perintah!" jelasnya dari sebrang.
"Kamu tahu posisinya saat ini?! Siapa yang memberinya perintah!"
__ADS_1
"Tentu aku tahu. Aku kirimkan lokasinya setelah ini! Coba tanyakan saja padanya ketika sudah tertangkap nanti!" balasnya langsung mematikan panggilan.
Setelah mendapatakan lokasinya, Nico bergegas menuju ke tempat persembunyiannya.
"Mati kau!"
Nico melaju pesat membelah jalanan kota. Melewati tempat sepi, menaiki beberpa bukit dan hutan akhirnya Nico menemukannya.
"Jangan samapai dia menyadari keberadaan kita!" sambil menunduk mengepung rumahnya Nico memberikan aba-aba.
"Kita bagi tiga, dua ke kanan. Kamu ikut aku dan kalian berdua berjaga disini!"
Dengan membawa senjata lengkap, mereka mengepung gempat tinggal orang yang melukai Alena.
Nico mengndap-endap masuk keruang tengah. Terlihat dia sedang tertidur pulas.
"Kesempatan bagus!" Nico langsung menangkap laki-laki itu.
"Apa-apan ini! Siapa kalian!" teriak nya sambil memberontak.
"Diam! Atau aku ledakkan kepalamu!" geram Nico.
Dia langsung memyeret laki-laki itu untuk pergi ke markas besar Nico.
Sesampainya di markas besarnya, laki-laki itu langsung di ikat dan di introgasi.
"Siapa yang membayarmu!" tanya Nico tanpa basa-basi.
"Bayar apanya! Aku tidak tahu yang kalian maksud!" jawabnya.
"Jangan bohong kamu! Atau.... pisau ini yang akan menyayat tubuhmu satu persatu!" Nico mengancam nya.
"Aku sudah menjawabnya! Aku tidak tahu maksud kalian apa!" dia masih kekeh tidak ingin memberitahunya.
Nico langsung menggores wajahnya dengan pisau tajam.
Terdengar rintihan kesakitan dari mulutnya.
"Apa yang kalian cari hah! Aku tidak tahu apa maksud semua ini!" marah laki-laki itu.
"Biar aku jelaskan! Beberpa hari yang lalu kamu melukai seorang gadis cantik bukan?! Kamu tahu siapa dia?!"
"Memang siapa dia! Aku tidak perduli!"
"Dia adalah calon istriku, ibu dari anak-anakku! Sedikit saja luka ditubuhnya, maka akan aku habisi orang yang melukainya. Jangankan manusia, benda mati pun aku pastikan mendapat imbalan yang setimpal jika berani menyakitinya! Katakan siapa yang membayarmu untuk melukainya!" dengan mencengkeram mulut laki-laki itu Nico menggoreskan pisau tajam di lengannya.
"Aku tidak tahu siapa dia! Aku hanya menerima panggilannya dan aku tidak langsung bertemu dengannya. Aku hanya bertemu orang sururhannha saja!" akhirnya dia mengakui.
"kamu tahu ciri-ciri wajahnya?! Atau ciri lainnya?!" tanya Nico.
"Aku tahu! Aku masih mengingatnya! Tapi tolong lepaskan aku!" pinta nya dengan bibir gemetar.
__ADS_1