Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Lembaran baru


__ADS_3

Alena merasa lega setelah permasalahannya dengan Nico bisa selesai. Dia akan memulai hidup baru dengan status janda tapi masih perawan.


"Bu, Alena minta maaf selama tinggal disini banyak menyusahkan Bapak dan Ibu. Alena juga minta maaf, karena tidak bisa tinggal lama disini. Meski Alena tidak tinggal disini lagi, bolehkan kalau Alena main kesini?"


"Boleh Al, pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu nak," balas Ibu.


"Kapan pun kamu mau, bapak dan ibu menerima kamu nak,"


"Terima kasih," ucap Alena sambil memeluk ibu dan bapaknya.


"Hati-hati ya Al, jaga diri baik-baik disana," balas ibu sambil berlina air mata.


Alena pergi meninggalkan rumah yang selama ini menjadi menemani suka dukanya. Berat rasanya dia harus berpisan dengan keluarga yang sangat dia sayangi.


Hal ini sudah menjadi keputusan Alena. Dia akan kembali bekerja di kota. Semejak perpisahnnya dengan Nico, Alena harus mencari tempat tinggal sendiri. Dia harus mencari uang yang cukup banyak untuk membayar sewa rumahnya kelak.


Saat ini dia hanya memakai uang sisa tabungannya untuk menyewa sebuah kos kecil. Dia akan mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi dari sebelumnya.


*


*


"Terima kasih pak!" ucap Alena kepada sopir taxi.


"Sama-sama neng,"


Alena membawa kopernya dan memasuki kos kecilnya.


"Ah...terasa nyaman," ucap nya sambil merebahkan diri di atas kasur.


"Besok aku harus mencari pekerjaan baru lagi!" lirihnya. Tak terasa Alena pun tertidur dengan koper yang masih belum dia bereskan.


Sebenarnya Alena mendapat jatah bulanan dari Nico. Meski berpisah Nico tetap memberikan uang setiap bulannya. Tetapi Alena menolaknya, Alena tidak mau jika kelak harus membalas budi dari hal tersebut.


Dering phonsel membuat pemiliknya terbangun dengan kesalnya.


"Siapa sih!" gerutu Alena.


"Halo," ucap Alena dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Kamu sedang tidur Al?" tanya orang di sebrang.


"Hem! Siapa ini?!" tanay Alena.


"Sebagitu ngantuknya kah Al, sampai kamu tidak melihat nama ku dilayar kamu?!"


Alena langsung melihat nama siapa yang tertera di layar.


"Mas Sean!" seru nya.


"Baru sadar?!" balas Sean.


"Mas dimana sekarang?" tanya Alena.

__ADS_1


"Aku masih di Paris, masih ada beberapa pemotretan disini. Mungkin besok sudah pulang!"


"Wah, tambah sukses ya!"


"Ya... ya tetap bersyukur Al, sampai detik ini tidak sepi job!" balas Sean.


"Syulah Mas,"


"Besok kalau jadi pulang, jemput aku ya?"


"Jemput dimana Mas?"


"Em... di Bandara!"


"Aku usahain ya!"


"Ok deh, besok aku tunggu! Ya sudah kamu istirahat lagi!"


"Eum," balas Alena sambil mematikan panggilan.


Saat Alena menjalani sidang perceraian, Sean berangkat ke Paris untuk beberapa pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan.


Sebenarnya Sean ingin mendampingi Alena, tetapi dia urungkan karena banyaknya pekerjaan yang harus dia jalani.


Setelah panggilan berkahir, Alena langsung pergi mandi. Perutnya juga mulai terasa lapar, jadi harus segera di isi.


*


*


Alena mencoba melamar di 2 perusahaan besar namun di tolak. Tinggal 2 lamaran untuk di antar ke restoran.


"Mudah-mudahan nanti bisa di terima disalah satunya!" lirihnya sambil berjalan menuju restoran.


Alena sudah disambut oleh beberapa pegawai disana. Dia di arahkan untuk ke ruang HRD. Ada beberapa orang yang melamar disana. Alena melamar bagian pelayan, sesuai dengan profesi sebelumnya.


Setelah yang lain keluar, kini giliran Alena memasuki ruangan HRD. Beberapa pertanyaan di ajukan kepada Alena.


"Baiklah, nanti kami akan beritahukan jika anda lolos!" ucap HRD.


"Baik pak, terima kasih," balas Alena.


Setelah selesai dengan lamaran kerjanya, Alena langsung menuju Bandara.


"Kenapa aku mau jemput orang ini ya?" lirih Alena bertanya pada dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian dia sampai di bandara. Alena menunggu di sebuah bangku panjang sambil mendengarkan musik.


"Al," panggil Sean sambil menepuk pundak Alena.


"Mas Sean!" jawab Alena kaget. Karena Sean memakai masker dan topi untuk menutupi wajahnya.


"Sudah dari tadi?" tanya Sean.

__ADS_1


"Belum Mas, baru juga duduk!"


"Ya sudah ayo pulang!" ajak Sean dan Alena pun berdiri.


"Mas sendirian saja?"


"Enggak, ada beberapa tim yang ikut. Tapi tadi aku berpisah karena aku bawa mobil sendiri,"


"Oo... gitu!"


"Ayo kita cari makan dulu, aku sudah lapar dari tadi!" balas Sean.


Alena hanya menganggukkan kepala.


Mereka berdua pun pergi kesebuah restoran yang cukup terkenal.


"Mas, apa gak masalah kalau kita pergi ke sini?" tanya Alena.


"Memangnya kenapa?"


"Nanti kalau banyak orang yang tahu kamu gimana?"


"Kan aku pakai masker, dan aku juga sudah sewa 1 tempat pribadi untuk kita makan. Jadi gak akan ada orang yang mengganggu nantinya."


"sewa 1 tempat pribadi? Apa gak mahal ya," batin Alena.


Sean menuntun Alena untuk menuju ke ruangan yang sudah dia pesan. Para pelayan juga sudah paham dengan Sean, jadi mereka menjaga privasi Sean dan siapapun yang bersama Sean.


"Mas lepasin tangan ku, aku bukan anak kecil lagi!" ucap Alena.


"Oh, maaf! Sudah kebiasaan sih Al, kaya bawa anak kecil rasanya," balas Sean.


"Kamu bilang aku anak kecil Mas! Beber-bener kamu ini!" ucap Alena sedikit geram.


Mereka memasuki ruangan yang sudah dipesan tadi. Alena begitu kagum dengan interiornya.


"Wah...," ucapnya begitu kagum.


"Kamu sudah pernah kesini?" tanya Sean.


"Belum pernah mas, ini pertama kalinya," tutur Alena.


"Bagaimana mungkin Al, Nico sering pergi kesini dengan teman-temannya! Sedangkan kamu adalah istrinya! Aku harus bisa membahagiakan kamu mulai saat ini Al!" batin Sean.


"Ya sudah, nanti aku ajak keliling ya! Kamu makan dulu!" ucap Sean.


"Apa gak capek Mas? Kapan-kapan saja Mas!"


"Enggak Al, aku juga pengen jalan-jalan sama kamu," balas Sean.


Semenjak status Alena janda, Sean jadi semakin gencar mengejar Alena. Dia lebih sering memberi kabar tentang kegiatannya, padahal Alena tidak pernah bertanya. Sean juga semakin bersemangat menjalani kehidupan sehari-harinya berkat Alena. Setiap pesan Alena yang masuk, akan menjadi prioritas untuk Sean.


Berbeda dengan Nico, dia semakin dingin dan sedikit arogan. Bahkan dia tak segan-segan memecat pegawainya yang menurutnya lelet. Nico lebih sering diam dan hampir tidak pernah tertawa setelah kepergian Alena.

__ADS_1


Orang tua Nico juga jarang berkunjung kerumahnya. Mereka lebih memilih tinggal di luar negeri saat ini. Jadinya Nico hanya tinggal sendiri di rumahnya bersama maid. Nico masih berharap, jika suatu hari Alena akan kembali padanya.


Semejak perceraiannya, Nico tidak pernah bertemu lagi Alena. Nico juga jarang keluar rumah setiap harinya. Dia akan keluar jika keperluannya rumahnya habis atau ada janji dengan client.


__ADS_2