Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Draft


__ADS_3

Hari ini Alena sudah diperbolehkan pulang. Sudah hampir 1 bulan dia berada di rumah sakit. Nico membawanya pulang ke rumah lama mereka. Dengan senang hati Nico merawat Alena hingga sembuh total.


"Kamu istirahat dulu Al, aku masih ada pekerjaan lain."


"Iya mas, kamu lanjut saja kerjanya."


Nico langsung pergi keruang kerjanya. Dia harus memastikan 3 orang yang menjadi tawanannya masih hidup.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Nico dengan anak buahnya yang berjaga.


"Baik-baik saja bos, mereka aman semua!"


"Bagus! Hari ini kamu yang urus mereka. Aku tidak bisa kesana, karena ada hal mendesak!"


"Siap bos!"


Nico pun mematikan panggilannya. Kemudian dia melanjutkan melihat satu persatu email yang masuk dari perusahaannya. Saat sedang serius bekerja, dia dikejutkan dengan ketukan pintu dari luar.


"Siapa?!" tanya Nico.


"Aku mas,"


"Alena?" Nico pun bergegas membuka pintunya.


"Ada apa Al? Kamu istirahat saja, ini sudah malam!"


"Aku buatkan teh hangat mas, boleh aku masuk?" Alena masih berdiri di ambang pintu.


Nico mempersilahkan Alena untuk masuk. "Kamu nggak usah repot-repot Al, lebih baik kamu istirahat saja. Kamu harus semuh total, agar kita bisa segera menikah." ucap Nico dengan sedikit menggoda Alena. Menggoda Alena adalah pekerjaan menyenangkan bagi Nico saat ini. Karena melihat pipi merah Alena adalah hal yang menghibur untuknya.


Alena tidak menjawabnya, dia malah tersilu malu didepan Nico.


"Ya sudah, kamu lanjut kerja lagi mas!" Alena langsung pergi dari sana.


Dengan hati yang berbunga-bunga dia memasuki kamarnya. Niatnya hanya ingin membalas budi Nico yang sudah merawatnya selama ini, tetapi dia malah mendapat balasan yang tak terduga. Sampai detik ini Nico memperlakukannya dengan baik. Nico juga menghormati keputusan Alena yang tidak mau di sentuh sedikit pun oleh Nico sebelum mereka benar-benar sah.


*


*


*


Pagi-pagi sekali Alena mencium bau wangi aroma masakan.


"Hem....bau apa ini? Sepertinya enak sekali!" dengan mata terpejam Alena bergumam.


Dengan mata sedikit tertutup, Alena berjalan menuruni tangga. Dia melihat di dapur ada seseorang yang sedang asik bernyanyi sambil memasak.


"Siapa sih!" lirih Alena. Dia terus berjalan menuju ke dapur.


"Mas Nico!"

__ADS_1


"Hai sayang! Sudah bangun ya?! Tadinya aku mau bangunkan kamu kalau masakan ku sudah siap. Ternyata kamu malah bangun duluan!" Nico menjelaskan.


"Kamu yang masak sendiri mas?" Alena bertanya.


"Iya dong! Masakan spesial untuk calon ibu dari anak-anaku!" jawab Nico dengan semangat.


Alena hanya memutar bola matanya malas.


"Sini duduk dulu!" perintah Nico sambil menuntun Alena untuk duduk.


"Tunggu sedikit lagi sudah siap!" dengan cepat Nico menyelesaikan memasakknya.


***


"Enak nggak?" tanya Nico.


"Enak!"


"Enak saja?!"


"Ya, enak saja!" dengan bingung Alena menjawab.


"Nggak ada tambahan kata-kata lain gitu?! Seperti enak sayangku atau masakkan kamu enak suamiku, gitu?!" seperti anak kecil ekspresi Nico saat bertanya kepada Alena.


"Nggak ada, enak saja!" dengan senyum Alena menjawab.


Sedikit kecewa yang dirasakan Nico. Niat nya ingin mendapat pujian yang lebih dari Alena.


"Masakan kamu enak suamiku!" seru Alena tiba-tiba.


"Mas lepasin!"


"Eh iya, maaf maaf!" seraya menggaruk kepalanya Nico meminta maaf.


"Hari ini aku mau ke kantor sebentar, kamu di rumah saja. Kalau butuh sesuatu panggil maid saja, nggak usah keluar kemana-mana!" titah Nico.


"Iya mas,"


"O ya, 2 hari lagi kita akan menikah. Persiapkan diri kamu! Kalau harus menunggu kamu pulih 100% terlalu lama. Aku sudah mempersiapkan semuanya, tinggal tunggu tanggalnya saja." jelas Nico tiba-tiba.


"Menikah mas? 2 hari lagi? Apa nggak terlalu cepat mas?" tanya Alena.


"Lebih cepat lebih baik sayang," jawab Nico enteng.


Nico segera berangkat ke kantornya untuk mengumumkan pernikahannya dengan Alena.


***


Terdengar riuh di setiap ruangan. Merek heboh karena kabar Nico akan segera menikah, akan tetapi masih belum ada yang tahu siapa calon istrinya.


"Saya harap kalian semua bisa hadir di acara pesta pernikahan saya!" ucap Nico pada bawahannya dan teman-temannya.

__ADS_1


Sean yang mendengarnya merasa sakit. Dia sudah tahu pasti siapa calon Nico kelak. Saat di rumah sakit, Nico pernah berkata padanya bahwa akan menikahi Alena secepatnya.


Hal itu membuat Sean begitu terkejut. Dia yang selama ini berharap bisa bersanding dengan Alena, malah Nico lah yang berhasil mendapatkan hati Alena.


Sean langsung pergi dari sana, dia ingin menenangkan pikirannya sejenak. Pergi menemui Alena pun sepertinya percuma saja, Nico pasti mengurungnya di rumah.


Desir angin pantai membuat suasana hati siapa saja akan merasa tenang dan sejuk. Seperti halnya Sean saat ini, sakit yang dia rasakan sedikit terobati.


"Apa perasaanmu tidak bisa berubah Al? Tidakkah ada sedikit saja untukku? Aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya Al, hanya kepadamu hatiku bergetar tidak karuan." lirih Sean.


"Setiap hari aku dibuat gila karena memikirkan kamu. Hari-hariku hanya terisi namamu saja, Al. Aku berharap suatu hari nanti, perasaan kamu bisa berubah sesikit saja untukku!" gumamnya sambil meneteskan air mata.


Hingga malam tiba, Sean masih setia duduk di tepi pantai. Dia hanya ingin sendiri saat ini.


"Aku akan mencoba melupakanmu, Al. Walaupun itu hal terberat dalam hidupku, aku akan berusaha sekuat tenaga. Maaf, jika nanti aku tidak bisa hadir di acara spesial kamu. Hatiku tidak sanggup melihat senyummu dengan laki-laki lain." Ucapnya dan beranjak pergi dari pantai.


*


*


*


Seluruh persiapan Nico sudah hampir 100%. Mulai dari menghias rumahnya dan persiapan baju pengantinnya.


Nico tidak menikah di gesung mewah. Dia ingin menggelar pestanya dirumah, sebagai saksi bisu cintanya kepada Alena.


"Kamu jangan capek-capek Al, besok adalah hari terpenting dalam hidup kita. Kamu istirahat saja, biar aku yang memasak untuk kita makan malam," ucap Nico.


"Nggak apa-apa mas, aku bisa sendiri kok. Kamu pasti capek, baru saja pulang kerja langsung masak."


"Kalau begitu kita masak bareng ya?" ajak Nico.


"Boleh, beneran kamu nggak capek mas?"


"Nggak! Kalau ada kamu disamping ku , capeknya pasti hilang." seru Nico.


"Kebiasaan! Gombalnya nggak pernah ketinggalan!"


Mereka berdua akhirnya me.asak bersama-sama. Di iringi canda tawa dan saling melempar kata-kata manis, membuat suasana rumah menjadi lebih berwarna. Nico merasa hidupnya sekarang begitu berharga dari pada sebelumnya.


"Setelah menikah nanti aku ingin punya banyak anak!" tiba-tiba terlintas di benak Nico.


Alena hanya meliriknya saja. Itu kata-kata yang fulgar menurutnya.


"Sayang!" panggil Nico.


"Apa!"


"Kok kamu diam sih, jawab dong!"


"Apanya yang mau dijawab!" Alena balik bertanya.

__ADS_1


"Ya, aku mau punya banyak anak!"


"Itu kan kamu mas, bukan aku!"


__ADS_2