Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Adu jotos


__ADS_3

Nico langsung menarik Sean kesamping gedung.


"Maksud kamu apa?! Dekat-dekat sama Alena!" ucap Nico.


"Maksud ku! Aku suka sama dia! Kenapa?! Masalah hah?!" jawab Sean.


"Jauhi Alena!" ujar Nico.


"Memang siapa kamu! Ngatur-ngatur orang seenaknya! Mending aku, masih bisa menghargai dia sebagai wanita!" sarkas Sean.


"Maksud kamu apa hah!" balas Nico sambil menarik kerah baju Sean.


"Maksud ku, kamu nggak pantas buat Alena. Kamu itu bisanya cuma menyakiti dia saja! Jadi kamu yang seharusnya menjauhi dia!" bentak Sean.


Nico langsung meninju wajah Sean. Sean pun tak tinggal diam, dia juga membalasnya. Akhirnya adu jotos pun tak terhindarkan. Beruntung di samping gedung tak ada satu pun orang yang lewat.


Alena mencari Nico yang dari tadi tak terlihat batang hidungnya.


"Kemana sih dia!" gerutu Alena sambil berjalan kesana-kemari.


"Mbk permisi mau tanya, apa mbk melihat Pak Nico?" tanya Alena pada seseorang yang lewat.


"Pak Nico tadi berjalan ke arah samping gedung!" ujar orang itu.


Alena segera berlari memghampiri Nico. Tetapi Alena tidak mendapati Nico di samping gedung. Dia terus mencari sampai terdengar suara orang kesakitan.


"Aaarrrgggg....!!!" teriak Nico yang kesakitan karena perutnya di tendang oleh Sean.


Alena yang melihat itu langsung berlari melerai mereka berdua.


"Apa yang kalian lukan hah!!" teriak Alena.


"Al, sekarang kamu pilih aku atau dia!" ucap Sean.


"Apa sih maksud kalian?!" tanya Alena masih bingung.


"Aku dan bajin*** satu ini, sedang beratarung memperebutkan kamu Al! Kamu pilih dia atau Aku!" balas Sean sambil menunjuk Nico.


Nico yang tak berdaya karena perutnya yang cukup sakit hanya diam dan menahan rasa sakitnya.


"Kalian sudah gila apa!! Cuma karena ini kalian sampai berkelahi sampai babak belur gini!! Nggak habis pikir aku!! Terserah kalian mau terus seperti ini, atau mau mati sekalian! Aku nggak perduli!!" ucap Alena sambil meninggalkan mereka berdua.


"Al, Al tunggu Al!" ucap Sean.


"Aaaarrgghh....!!" Nico terus meronta-ronta karena perutnya mulai kram.


Alena yang mendengar teriakan Nico langsung berbalik badan.


"Mas Niico! Kamu nggak papa Mas!" ucap Alena berjalan menghampiri Nico.


"Nggak Al, hanya kram," balasnya.


"Mas! Kamu ngapain berdiri disana! Sini bantu aku dong!" bentak Alena pada Sean.


Mereka sama-sama babak belur, tetapi yang lebih parah Nico. Dia terkena tendangan Sean hingga roboh.

__ADS_1


"Halah gitu aja manja!! Cemen!!" ucap Sean pada Nico.


"Mas Sean!!" bentak Alena lagi.


"Iya, iya!!" balas Sean dan mengahmpiri Alena. Dia membantu Alena memapah Nico untuk di dudukkan di kursi yang ada di pinggiran.


"Mas Sean ambilin mobil Mas Nico di depan ya?! Kan nggak mungkin kalau kita bertiga jalan kesana dengan wajah seperti ini!! Apalagi ada aku juga, bisa-bisa langsung diserbu media Mas!" ujar Alena.


"Aku lagi?!" ucap Sean dengan raut muka yang masam.


"Ya siapa lagi Mas!" balas Alena sambil mendorong tubuh Sean agar segera pergi.


Dengan berat hati Sean akhirnya menuruti kemauan Alena. Dia menyelinap memasuki mobil Nico, sebelum ada orang yang menyadarinya.


"Sial!" ucap Sean memukul setir.


Setelah dampai di samping gedung yang sepi itu, Sean keluar ikut membantu Alena memapah Nico masuk ke dalam mobil. Dia akn membawa Nico ke rumah sakit.


Di dalam mobil terjaddi keheningn. Kaku, tegang, grogi menjadi satu paket di hati Alena. Nico yang tak berdaya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Dia dan Alena duduk di bangku belakang, sedangkan Sean di depan sendiri.


"Rasamya aku seperti seorang sopir pribadi saja!" gerutu Sean.


***


Sesampainya di rumah sakit, Alena dibantu petugas rumah sakit memindahkan Nico ke matras. Sedangkan Sean, Alena temani ke UGD untuk mendapat perawatan sementara.


"Kamu temani aku Al?" tanya Sean.


"Iya Mas, lagian kalau aku ikut masuk juga tidak bisa!" balas Alena.


"Diam Mas, jangan bergerak!" titah Alena.


"Ssssshhhh.... sakit Al!" ujar Sean.


"Siapa suruh kamu adu banteng!! Gak sekalian saja tadi bawa pedang!! Biar tambah seru aku nontonnya!" balas Alena.


"Masak aku kamu suruh bawa pedang sih Al!"


"Habisnya setiap bertemu salalu adu jotos melulu! Kan mending gitu biar tahu mana yang terbang ke kayangan duluan!!" ucap Alena dengan geramnya.


"Al, kamu tega ya!" rengek Sean.


"Sudah diam!!"


Sean langsung diam seribu bahasa jika Alena sudah marah.


"Tunggu disini! Aku mau meihat Mas Nico dulu!" ujar Alena.


"Ngapain dilihat! Paling-paling dia duluan yang pergi kekayangan!" celetuk Sean.


Alena yang mendengar hal itu, langsung memukul lengan Sean dengan keras.


"Al! Sakit!!" teriak Sean.


Alena langsung pergi meinggalkan Sean sendiri.

__ADS_1


"Mudah-mudahan Mas Nico baik-baik saja," lirihnya.


"Keluarga Tuan Nico?" panggil dokter.


"Ya dok! saya keluarganya!"


"Bisa ikut keruangan saya?" ucap dokter yang menangani Nico.


"Baik dok!"


"Sebelumnya, apa hubungan anda dengan Tuan Nico?" tanay dokter.


"Saya istrinya dok," balas Alena.


"Begini Nyonya Nico, Tuan Nico sedang dalam kondisi kritis atau bisa di bilang lukanya cukup parah. Karena bekas jahitan bagian dalam mengalami robek. itu yang menyebabkan kram dan nyeri pada perutnya.


"Luka? Luka apa dok?" tanya Alena sedikit bingung. Karena selama ini Nico baik-baik saja.


"Luka bekas operasi pada usus besarnya yang bermasalah. Tuan Nico terlalu banyak minum-minuman keras, sehingga mengakibatkan organ dalamnya mengalami beberapa kerusakan. Makanya tuan Nico harus melakukan operasi beberapa bulan yang lalu dan dokter yang menanganinya kebetulan saya sendiri." jelas dokter.


"Bagaimana kamu mendapat luka itu Mas? Selam ini kamu baik-baik saja." batin Alena.


"Lalu ini harus bagaimana dok?" tanya Alena.


"Kami harus segera melaukan tindakan sebelum terjadi infeksi pada lukanya.'


"Baiklah dok, lakuakn yang terbaik untuk suami saya."


Dokter itu pun menganggukkan kepalanya, tanda setuju.


Dokter pun segera pergi dan menyiapkan segala keperluan utnuk operasi Nico.


Alena masih setia menunggu di depan ruang operasi. Terlihat Sean berjalan dengan tertatih-tatih mengahampiri Alena.


"Al!" panggil Sean.


Alena menengokkan kepalanya, tanda merespon seseorang yang memanggilnya.


"Ya Mas," balas Alena.


"Apa Nico baik-baik saja?" tanya Sean.


"Sedikit ada masalah Mas," balas Alena.


"Memangnya ada apa Al?"


"Bekas jahitan Mas Nico ada yang robek," ujar Alena.


"Bekas jahitan?"


"Iya Mas, Mas Nico pernah malakukan operasi organ dalamnya karena terlalu banyak minum. Jadi terpaksa dia di operasi karena usus besarnya bermasalah."


"Kamu tahu dari mana Al?" tanya Sean/


"Dokter yang merawatnya tadi, adalah dokter yang mengoperasi Mas Nico dulu. Dia menjelaskan banyak hal tadi," ucap Alena lirih.

__ADS_1


__ADS_2