
Sesampainya di sekolah Leo, Alena langsung turun untuk mencari anaknya.
"Mama!" panggil Leo, saat dia baru saja keluar dari pintu kelasnya.
"Sudah selesai sekolahnya? Apa kamu lapar?" tanya Alena.
"Aku baru saja selesai. Iya ma, aku lapar sekali!" jawab Leo sambil memegang perutnya.
"Baiklah, ayo kita pergi makan siang!" dengan ceria, Alena mengajak Leo makan.
Sesampainya di parkiran depan, Leo bingung.
"Mobil siapa ma?"
"Oh, itu teman mama," balas Alena.
Saat pintu terbuka, Leo sedikit kaget. Karena teman mama nya seorang laki-laki. Leo pikir temannya adalah seorang wanita seperti bibi Popy. Leo heran, tidak biasanya mama nya mau berteman dengan laki-laki.
Leo memang anak kecil yang pemikirannya sama dengan anak seusianya. Tapi otak Leo lebih cerdas di bandingkan yang lain. Terkadang pemikiran Leo lebih dewasa dari usianya. Di sekolahnya pun dia sering mendapat nilai tertinggi.
Leo langsung memasuki mobil Ramon. Tiba-tiba mereka di kagetkan dengan pernyataan Leo.
"Apakah dia papa ku?" dengan entengnya Leo bertanya kepada Alena.
Alena langsung kaget, begitu juga Ramon. Dengan senang hati Ramon mau menjadi papa untuk Leo, tetapi tidak dengan Alena. Dia langsung menutup mulut Leo dengan tangannya.
"Sayang, ini adalah teman mama. Namanya paman Ramon, dan bukan papa Leo. Leo sudah mengerti sekarang?!" dengan gemas Alena balik bertanya.
Leo pun mengerti, dia hanya menganggukkan kepalanya.
Di perjalanan Leo hanya diam tidak ingin bicara. Hal itu yang membuat Alena sedikit bingung. Saat tiba di restoran yang sudah di pesan Ramon, Leo cukup kaget dan terpesona.
"Wah.... tempatnya sangat bagus ma!" seru Leo.
Ramon yang mendengan Leo kagum, ikut senang. Akhirnya dia berhasil mengambil hati Leo secara perlahan.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Ramon pada Leo.
"Iya paman, aku suka!" dengan antusias Leo berjalan mengikuti Ramon. Banyak badut dan beberapa atraksi sulap lain yang di tampilkan, ruangan pun juga di hias semenarik mungkin agar anak-anak menyukainya.
Ramon sengaja menyuruh pegawainya untuk mempersiakan semuanya dalam waktu singkat sebelum mereka sampai di sana. Restoran itu adalah milik Ramon dan masih ada beberapa tempat lainnya lagi.
Leo duduk menghadap badut-badut yang sedang bermain sulap.
"Terima kasih sudah membawa Leo kemari," ucap Alena.
"Tidak usah sungkan, aku senang kalau Leo juga senang. Aku sangat menyukai anak kecil, jadi dia sudah aku anggap seperti anakku sendiri." balas Leo.
Alena sedikit terkejut dengan ucapan Leo tiba-tiba.
"Paman, apakah tempat ini milik paman?" Leo langsung bertanya pada Ramon.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa tahu?" Ramon sesikit terkejut.
"Mana ada restoran yang menyediakan badut seperti ini, kalau bukan pemiliknya atau sudah di pesan sebelumnya. Tadi aku hanya asal tebak saja sih sebenarnya, ternyata benar." ucap Leo.
"Leo kamu tidak sopan!" bentak Alena.
"Aku kan hanya bertanya saja ma," jawab Leo dengan lesu.
"Biarkan saja Al, Leo anak yang baik. Dia memang benar, jangan kamu marahi dia." ujar Ramon.
Merasa ada yang membela Leo begitu senang. Biasanya kalau mama nya marah tidak ada yang membela nya. Kali ini Leo begitu senang, akhirnya dia ada yang mau membantu nya ketika di marahi mama nya.
Mereka pun melanjutkan makan dengan tenang. Sesekali Ramon memanjakan Leo dan mengajaknya bergurau.
Alena senang Leo bisa akrab dengan Ramon. Biasanya dia begitu sulit untuk dekat dengan orang baru.
"Apa setelah ini kamu mau paman ajak bermain?" Ramon bertanya pada Leo.
"Bermain apa?"
"Kita pergi ke taman bermain, nanti kita bisa bermain sepuasnya disana. Apa kamu mau?"
"Mama boleh aku ikut bermain?" Leo memintabijin pada mamanya.
"Iya," Balas Alena dengan senyuman.
Akhirnya setelah selesai makan, mereka pergi ke tempat bermain terdekat dari sana. Tidak pernah terlintas dalam pikiran Ramon untuk bermain dengan anak-anak seperti saat ini. Apalagi dia harus mengikuti seriap permainan yang di inginkan oleh Leo.
"Paman ayo kita bermain kuda!"
"Ayo!" mereka berdua begitu menikmati setiap permainan. Alena yang melihatnya pun merasa senang. Meskipun baru saja mengenal Leo, Ramon terlihat begitu dekat dangan anaknya.
Ramon yang tiba-tiba turun dari kuda, langsung menghampiri Alena.
"Ayo, ikutlah bermain. Leo pasti sangat senang!" ajak Ramon.
"Aku tidak bisa!" tolak Alena.
"Biar aku yang pegang nanti. Jangan takut, ada aku yang akan menjaga mu!" balas Ramon.
Alena pun akhirnya mengikuti Ramon menaiki permainan kuda-kudaan.
Mereka bertiga tertawa bahagia, terlebih Leo. Dia merasa seperti memiliki seorang papa.
Setelah puas bermain, Ramon mengantar Alena pulang. Di tengah perjalanan Leo tertidur.
"Sepertinya dia sangat senang!" ucap Ramon tiba-tiba.
"Iya, dia begitu semangat hari ini." balas Alena.
"Kalau besok kamu mau, ayo kita pergi bermain kepantai," Ramon mencoba mendekatkan diri pada Alena dan Leo.
__ADS_1
"Nggak usah mas, kamu pasti sibuk!"
"Mas?" Ramon bertanya.
"Iya mas, memangnya kenapa? Apa aneh?" Alena balik bertanya.
"Enggak, aku malah senang. Jadinya kita terlihat begitu akrab," ujar Ramon
"Bagaimana kamu mau? Leo pasti senang." Ramon mencoba membujuk Alena lagi.
"Nanti aku tanya dia ya, kalau mau aku kasih tahu nanti."
"Nah, gitu dong. Aku kan jadi tambah semangat."
Tak terasa mobil Ramon sudah sampai didepan rumah Alena. Tanpa basa basi Ramon langsung menggendong Leo menuju rumahnya.
"Biar aku saja Al!" Ramon langsung mengambil alih Leo.
"Dimana kamar Leo?"
Alena langsung menunjukkan kamar Leo. Dengan hati-hati Ramon menaruh Leo di atas tempat tidur.
"Kasihan, sepertinya dia begitu kelelahan." ujar Ramon.
"Tidak apa-apa, walau lelah dia tetap bahagia." balas Alena.
Setelah menidurkan Leo, Ramon dan Alena langsung turun ke bawah.
"Aku pulang dulu ya, kalau kalian setuju nanti hubungi aku."
"Iya mas, hati-hati di jalan."
Ramon melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia begitu menikmati desiran angin malam yang menerpa rambutnya.
"Rasanya aku semakin dekat dengannya. Aku harus terus maju, aku harus bisa mendapatkan cintanya!" gumam Ramon.
Tak lama setelah itu, dering phonsel Ramon mengagetkannya.
"Apa!" dengan kesal Ramon menjawab panggilannya.
"Hai bro, jangan emosi gitu dong. Nanti cepat tua!" jawab Sean.
"Kamu mengganggu saja! Ada apa?!"
"Tolong jemput aku sekarang. Aku berada di bar biasanya,"
"Menyusahkan saja!"
Ramon langsung memutar balik mobilnya menuju bar tempat biasa mereka minum.
Sesampainya disana, Ramon di sambut oleh beberapa wanita sexy dengan baju kekurangan bahan.
__ADS_1
"Kamu semakin tampan saja tuan." rayu wanita itu dengan gaya sensualnya.