
"Kapan kamu ajak cucu ku kemari!" tanya papa Ramon.
"minggu depan!" jawab Ramon tak kalah sinis.
"Tidak sekalian saja tahun depan atau menunggu papa kamu sudah mati!"
"Ramon masih belum tahu pa, dia masih sibuk sekolah. Kami jarang bertemu karena kesibukan ku mengurus perusahaan papa dan milikku juga. Kalau saja papa mau mengelola perusahaan papa sendiri, aku pasti bisa menemani anak dan istriku." ucap Ramon sedikit drama.
"Ok! Mulai hari ini kamu bisa cuti semau kamu. Masalah perusahaan papa, biar Yoon yang menghendle. Kamu gunakan waktu sebaik-baiknya untuk mengurus anak dan istri kamu. Lalu kapan kamu akan mengajaknya kemari?!" jelas papa Ramon.
"Serius pa?! Lusa setelah ujiannya selesai aku akan mengajaknya kemari. Saat ini dia masih sibuk belajar, jadi tidak bisa di ganggu."
"Deal!"
"Anak dan papa sama saja! Sama-sama nggak jelas dan keras kepala! Bagaimana bisa anak orang kalian buat seperti taruhan!" lirih mama Ramon tapi masih bisa di dengar mereka semua.
Dengan di ikuti suaminya mama Ramon langsung masuk kedalam kamarnya. "Bagaimana ma, apa akting ku bagus? Kalau tidak kita gertak dia, mana mungkin mau mengaku. Tapi apa benar dia sudah memiliki anak?" ucap Papa Ramon.
"Lumayan, cocok jadi bintang film. Mama juga masih penasaran, apa iya dia sudah memiliki seorang anak? Kenapa dia diam saja. Atau mungkin dia menyukai seorang janda? Tapi kenapa wajah mereka bisa mirip?! Ah... mama pusing memikirkannya!"
"Kita tunggu lusa saja. Kita lihat seperti apa istri nya itu. Papa sangat penasaran, wanita mana yang membuat hati beruang kutub itu mencair. Selama ini dia hanya bermain-main saja." ungkap Papa Ramon.
*
*
*
"Bagaimana aku akan menjelaskannya pada Alena? Sial...! Ini semua gara-gara papa!" Aku harus menghubungi Alena.
Setelah itu Ramon mencoba menghubungi Alena.
"Halo, Al," ucap Ramon dengan orang di sebrang sana.
"Iya mas, ada yang bisa Alena bantu?"
"Bisa kita bertemu hari ini? Aku membutuhkan bantuanmu,"
"Bisa mas, tapi agak siang ya. Aku harus mengurus Leo dulu," balas Alena.
"Ok, tidak masalah. Nanti di cafe biasanya."
Setelah mematikan sambungan Ramon bergegas menuju cafe tempat janjinya dengan Alena.
__ADS_1
****
"Maaf aku terlambat, mas. Tadi terjebak macet." ucap Alena sambil menarik kursi untuk duduk.
"Tidak masalah, mau makan apa?" Ramon bertanya pada Alena.
"Terserah mas saja,"
Setelah memesan makanan, Ramon memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Sebelumnya aku minta maaf, karena akan mengganggu kehidupan kamu nanatinya. Tapi ini aku lakukan karena terpaksa. Papa ku akan menjodohkan aku dengan anak koleganya." ucap Ramon.
Ada sedikit rasa nyeri di hati Alena, mendengar Ramon akan di jodohkan oleh orang tuanya."Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Alena.
Ramon pun menjelaskan semuanya dari awal perdebatan dengan orang tuanya. Awalnya Alena enggan membantu Ramon, karena sama saja dia membohongi orang tua. Tapi bukan Ramon namanya, kalau tidak bisa meyakinkan Alena.
Dengan raut wajah yang dibuat memelas, akhirnya Alena pun luluh.
"Baiklah, aku akan membantu kamu, mas. Tapi, jika mereka mengetahui semuanya aku tidak mau bertanggung jawab. Kamu harus menjelaskan yang sejujurnya." jawab Alena.
"Terima kasih, Al. Kapan kita akan bertemu dengan orang tua ku?" tanya Ramon dengan antusias.
"Mungkin besok, karena menunggu Leo libur sekolah dulu." jawab Alena.
"Sama-sama. Kalau begitu aku pamit pulang dulu," sambil berdiri untuk menuju mobilnya. Tetapi saat Alena akan berjalan, tiba-tiba Ramon meraih tangan Alena.
"Hati-hati, jangan membuatku khawatri," ucap Ramon.
"Iya mas," jawab Alena dengan halus. Hal itu sukses membuat jantung Ramon berdetak lebih kencang.
"Aku nggak sabar ingin mengurung kamu, Al." batin Ramon.
Alena segera pergi dari sana agar jantungnya juga aman. Melihat Ramon memakai baju setelan santai membuatnya semakin terlihat begitu tampan.
"Jantung aman kan? Aman," gumam Alena.
"Aku harus segera mandi, kalau tidak otakku bisa traveling kemana-mana ini. Sangat berbahaya!" gumamnya lagi.
****
"Dari mana Al?" tanya Nico. Jangan lupakan dia yang tiba-tiba bertanya saat Alena turun dari mobil. Karena sudah 2 hari ini Nico tidur di rumah Alena.
"Ada janji ketemu teman mas. Mas sudah makan?" Alena bertanya balik.
__ADS_1
"Belum, aku dan Leo menunggu kamu pulang dulu. Tadi aku memasak bersama Leo, sekarang ayo kita makan sama-sama," ajak Nico pada Alena.
Nico berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Alena. Sebisa mungkin dia harus rujuk dengan Alena.
Mereka bertiga makan seperti keluarga cemara lainnya. Tetapi untuk hati Alena sudah mati rasa. Dia sudah tidak memiliki perasaan apapun dengan Nico. Alena sudah menciba membuka hati nya untuk orang lain, meski itu berat dan terbayang-bayang trauma di masa lalu.
"Mama mau tambah lagi? Ini Leo yang memasaknya." tutur bocah kecil itu.
"Mama sudah kenyang sayang. Masakan kamu sangat enak, mama suka." balas Alena yang memuji anaknya.
"Itu aku juga yang memasakknya Al," ucap Nico.
"Terus?" balas Alena pada Nico.
"Em... tidakkah kamu ingin memujiku seperti Leo?" Nico berharap Alena akan memuji masakannya. Sejujurnya semua ini adalah masakan Nico dan Alena tahu itu, hanya saja dia malas menanggapi Nico.
"Enggak!" jawab Alena langsung pergi meninggalkan 2 orang yang saling berpabdangan.
****
Sesampainya di kamar, terdengar dering pesan dari seseorang.
"Alena," bunyi pesan dari sebrang sana yang Alena sendiri tidak tahu.
"Iya, ini siapa?" tanya Alena.
"Seseorang yang sangat merindukan kamu." balasnya.
"Nggak jelas!" Alena membalasnya dengan bibir komat kamit.
"Siapa, sih! Orang nggak kenal juga. Dapat dari mana coba nomer phonsel ku?!" gumam Alena sambil mengingat-ingat siapa saja orang yang tahu nomer pribadinya.
Bukan jawaban yang dia dapat, malah pusing yang menghampirinya.
"Tauk ah! Pusing Aku!" Alena pun mengabaikan pesan yang masuk. Dia tidak memperdulikan lagi dengan seseorang yang mengganggunya.
Siapa ya kira-kira yang mengirim pesan pada phonsel pribadi Alena?
"Balas dong Alena, kamu tega sih sama aku. Aku sudah menunggu mu sejak lama. Pesannya lagi.
Alena sama sekali tidak melihat pesan masuk. Dia malas menanggapi siapapun orang itu. Yang ada dalam pikiran Alena hanya Ramon. Ramon yang akan di jodohkan dengan anak teman papanya.
"Apa aku menyerah saja ya? Aku akan melepas Ramon jika Ramon menyetujui perjodohan ini. Lirih Alena.
__ADS_1