
"Untung saja aku bisa mengelak, kalau tidak bisa malu aku!" batin Nico.
Hampir setiap hari dia tidur di kamar Alena. Entah dia dalam keadaan sadar atau tidak, Nico selalu menuju ke kamar Alena. Nico mempersiapkan maid khusus untuk membersihkan kamar Alena setiap harinya.
Jika suatu hari nanti Alena kembali, maka kamarnya sudah siap dia tempati.
*
*
Hari semakin malam, membuat Alena terpaksa mengikuti saran Nico.
"Aku tidur dulu ya mas, Nanti kalau ada apa-apa panggil saja." ucap Alena.
"Iya Al, kamu istirahat saja." balas Alena.
***
"Haaaahh.... rasanya begitu melelahkan. Lebih baik aku segera mandi saja, sudah malai ngantuk." keluhnya.
Setelah selesai mandi, Alena mengenakan baju tidurnya. Berbahan sedikit tipis dengan panjang hanya selutut saja. Terlihat cantik dan sedikit sexy. Dan janga lupakan Alena tidak mengunci pintunya. Dia melupakan hal itu saking lelahnya.
Malam hari Nico terbangun karena merasa lapar. Dia keluar dan melewati kamar Alena.
"Apa dia sudah tidur ya?" lirih Nico. Sebenarnya dia tidak ingin mengganggu tidur Alena, tapi perutnya sudah keroncongan. Nico tidak mungkin menuruni tangga sendirian, karena tubuhnya belum bisa stabil untuk berjalan.
Dia mencoba mengetuk pintu Alena, tetapi tidak ada jawaban. Perlahan Nico membuka pintunya.
"Al, apa kamu sudah tidur?" tanya Nico pelan.
"Tidak dikunci?!" lirih Nico.
Di perlahan membuka pintunya, mencoba melihat sekitan tapi tidak menemukan keberadaan Alena. Nico memasuki kamar Alena dengan berjinjit, takut membangunkan Alena.
"Kamu cantik Al, aku yang bodoh menyia-nyiakanmu!" gumamnya.
Dia usap rambut Alen dengan lembut. Nico benar-benar mencurahkan rasa rindunya kepada Alena.
"Hanya begini yang aku bisa Al, jika kamu terbangun pasti kamu tidak akan mau aku sentuh!" gumamnya lagi.
Saat asik dengan pemikiranny, tak sengaja mata Nico menangkap kaki jenjang Alena yang tak tertutup selimut.
Begitu rumit pemikiran Nico sampai dia mengibas-ngibaskan kepalanya, agar pikiran kotornya dapat hilang.
"Minggir, minggir, minggir!" ucap Nico sambil menepuk kepalanya. Dia segera pergi dari sana sebelum hal-hal negtif terjadi. Dia tidak mau Alena akan semakin membencinya nanti.
Dengan modal nekat Nico menuruni tangga rumahnya sendirian. Pelan-pelan dia berjalan hingga dipertengahan tangga. Namun tak sengaja kakinya tersandung sandalnya sensiri, alhasil Nico terjatuh berguling kebawah.
"Aaahhhhhhggg!!!" teriaknya.
Maid yang mendengar suara teriakan mencoba mengintip dari kamarnya.
"Tuan Nico!" teriak salah satu maid.
"Nyonya tolong, tolong, nyonya tolong tuan Nico!" maid itu terus berteriak. Nico yang merasa pusing langsung pingsan di tempat.
Alena samar-samar mendengar terikan maid, langsung berlari menuruni tangga. "Mas Nico!" ucap nya.
"Mas, mas bangun!" Alena mencoba membangunkannya tapi tidak ada respon sama sekali.
Alena segera membawa Nico ke sofa dan memanggil dokter pribadinya. Di bantu pak Tejo, mereka bertiga memindahkan Nico.
__ADS_1
***
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Alena.
"Tuan Nico baik-baik saja, hanya benturan kecil di kepala yang menyebabkan tuan pingsan. Sebentar lagi tuan akan sadar." jawab dokter.
"Terima kasih dok,"
"Sama-sama nyonya, tolong dijaga dengan baik." pesan dokter.
Setelah kepergian dokter, Nico terbangun.
"Al," panggil Nico.
"Ya mas," ucap Alena langsung menghampiri Nico.
"Aku lapar,"
"Tunggu disini, aku buatkan sesuatu dulu!"
Dengan cekatan Alena menyiapkan makanan untuk Nico. Padahal sudah berkali-kali dia menguap, tapi dia tahan.
"Mas ini makanannya," ucap Alena sambil membangunkan Nico.
Dengan telaten Alena menyuapi Nico hingga selesai.
"Jika aku tidak jatuh tadi, mana mungkin kamu mau menyuapiku lagi Al," batin Nico sambil tersenyum.
Alena melarang Nico tidur dikamar atas, dia akhirnya menemani Nico tidur dikamar tamu. Alena tidur di sofa dan Nico di kasur king size nya, dengan pedebatan dulu tentunya.
*
*
"Hati-hati mas," ucap Alena saat Nico turun dari mobil.
"Apa aku akan bertemu dengan wanita itu lagi? Apa yang harus aku lakukan jika dia mengangguku lagi?!" batin Alena.
Belum juga selesai membatin, orang yang ada dipikirannya pun muncul.
"Sayang, kamu sudah sembuh?!" tanya Viona dengan gaya manjanya.
"Ayo Al!" Nico tidak menanggapi ucapan Viona.
"Nico! Kamu mengabaikan aku!" bentaknya.
Tiba-tiba Alena ditarik oleh Viona, dia terpental ke lantai.
"Apa yang kamu lakukan Vi! Kita sudah selesai! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi! Jadi jangan menggangguku lagi!" ucap Nico dengan lenuh amarah.
Bertepatan dengan itu, Sean baru saja turun dari mobil. Melihat Alena yang terjatuh, dia langsung berlari membantu Alena.
"Kamu nggak apa-apa Al?" tanya Sean.
"Enggak kok mas," balas Alena, dia bangkit dan di bantu Sean.
Nico yang melihat Sean memegang pundak Alena, terbakar api cemburu.
"Jauhkan tanganmu dari tubuhnya!!" bentak Nico cukup keras.
"Selesaikan dulu masalahmu! Sebelum memulai hubungan baru!" sarkas Sean.
__ADS_1
Nico tak terima dengan pernyataan Sean, langsung menghampirinya.
"Maksud kamu apa hah!" ucap Niko sambil memegang kerah Sean.
"Sudah mas, malu di lihat orang!" Alena mencoba memisahkan kedua manusia yang akan adu jotos.
"Minggir Al, orang seperti dia ini nggaj bisa dibiarkan! Sukanya ikut campur urusan orang saja!" ujar Nico.
Alena langsung memegang lengan Nico agar dia mau menahan emosinya.
"Mas, sudah! Malu di lihat banyak orang! Nanti selesaikan saja di rumah! Jangan disini!" ucap Alena.
Nico pun menuruti kemauan Alena, dia melepas cengkeramannya dan berjalan menuju kantornya. Belum juga selesai masalah Sean dan Nico, Viona main peluk-peluk lengan Nico saja. Hal itu membuat Alena tambah jengkel.
Perlahan Alena menjauh dari samping Nico. Dia melepas pegangan tangannya dari lengan Nico.
"Kayak nggak ada laki-laki lain saja! Main gasak punya orang!" batin Alena.
Nico yang menyadari Alena mulai menjauh, langsung menahan tangan Alena agar tetap bersamanya.
"Jangan meninggalkan aku Al," ucap Nico pelan.
Alena yang mendengar permintaan Nico, menurutinya saja.
"Kan sudah ada dia mas," balas Alena.
Nico langsung menghempaskan tangan Viona.
"Apa-apaan sih Nic!"
"Kamu pergi dulu deh, aku masih ada urusan!" ucap Nico.
Viona menurut begitu saja. Dia akhirnya masuk terlebih dahulu.
"Jangan hanya omong kosong mas!" ucap Alena tiba-tiba.
Nico yang menyadari maksud Alena, dia langsung menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku yang kurang tegas terhadap Viona!" balas Nico.
Alena tidak membalasnya. Hatinya masih jengkel dengan kebodohan Nico.
"Begitu saja nggak bisa tegas! Kalau aku balas kamu, baru tahu rasa kamu!" batin Alena.
Sesampainya diruangan Nico, Alena duduk disofa. Sambil menunggu Nico selesai rapat, Alena mencoba menyibukkan diri dengan jalan-jalan didekat ruangan Nico.
"Sepertinya itu menuju keluar ruangan ini!" gumam Alena. Dia trus berjalan hingga menemukan balkon yang cukup indah pemandangannya.
"Alena!"
Suara itu membuat Alena terkaget.
"Mas Sean!" seru nya.
"Kamu ngapain disini? Dimana Nico?"
"Jalan-jalan mas, di dalam tambah ngantuk. Mas Sean ngapain disini?"
"Aku malas masuk, rasanya hari ini tidak ingin kerja." ucapnya sambil mendekati Alena.
Balkon tempat Alena dan Sena berdiri tepat berada di samping ruangan Nico, dan ruang rapat Nico yang saat ini dia hadiri. Nico yang awalnya begitu serius mengikuti rapat akhirnya mulai goyah. Dia melihat Alena tertawa dengan lepas saat bersama Sean.
__ADS_1
"Ngapai mereka bedua disana sih! Bukannya Alena aku suruh tunggu di ruanganku!" batin Nico mulai gelisah.