
"Tolong ambilkan adonan yang itu." Popy meminta tolong pada Sean.
Dengan gerakan cepat, Sean langsung mengambilkan sesuai permintaan Popy. Hari-hari Sean kini di penuhi dengan membuat roti dengan Popy. Jangan tanya lagi soal pekerjaan nya. Semenjak di tolak Alena ke dua kalinya, Sean jadi malas untuk melakukan sesuatu.
Tapi kali ini dia menikmati menjadi seorang pembuat roti. Meski masih pemula, tapi dia begitu antusias belajar bersama Popy.
"Ada lagi yang kamu butuhkan?" tanya Sean pada Popy.
"Nggak ada, sudah selesai setelah ini. Kamu istirahat saja. Biar aku yang melanjutkan," balas Popy.
Berkulit putih, hidung mancung, bulu mata lebat, sedikit pendek tetapi pas untuk di peluk itulah Popy dalam gambaran Sean.
"Kalau sering di lihat ternyata manis juga, ya. Perhatian juga," batin Sean sambil memperhatikan setiap gerak-gerik Popy.
"Kalau di pikir-pikir lagi, perlahan-lahan aku mulai bisa melupakan Alena. Mungkin karena ada nya Popy di sisi ku saat ini. Tapi apa salahnya kalau aku mencoba membuka lembaran baru. Siapa tahu kali ini dia bisa mengobati luka ku," batin Sean lagi.
"Hei, malah melamun. Cepet selesaikan, nanti keburu di ambil sama orang nya," ujar Popy sambil menaruh sebagian roti dalam oven.
"Iya, iya." begitu dinginnya jawaban Sean pada Popy. Berbeda dari beberapa saat lalu, yang lebih halus.
\*\*\*\*\*\*
Di lain tempat, Alena yang sibuk menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya. Ramon memintanya untuk menemaninya di kantor saat jam makan siang.
Dengan senang hati Alena menuruti setiap kata Ramon. Dia hanya ingin menjadi istri yang baik dan juga ibu yang baik.
__ADS_1
"Akhirnya suah beres semua." Nampak senyum simpul kala bekal buatannya sudah siap.
"Mau ke kantor, sayang?" tanya Mama nya yang tiba-tiba datang ke dapur.
"Iya, Ma. Mas Ramon meminta ku untuk menemaninya makan siang di kantor," jawab Alena.
"Memang tidak salah Ramon memilih kamu. Ya sudah, cepetan berangkat. Mobilnya sudah siap," ujar Mama Ramon sambil membantu membawakan kotak makannya.
"Iya, Ma. Alena ganti baju dulu." alena segera berlari menuju kamarnya.
Beberapa menit kemudian dirinya sudah siap dengan baju santai ala anak muda jaman sekarang. Tidak mungkin dong, dia pakai pakaian seksi saat ke kantor suamianya. Bisa-bisa bawahannya Ramon pada melongo melihat bodi Alena.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Butuh beberapa menit untuk sampai di gedung yang menjulang tinggi nan megah itu. Scurity sudah menyambutnya dengan senyum manis nya.
"Saya mau bertemu Pak Ramon, ada?" balas Alena.
"O, mari saya antar ke resepsionis." dengan ramah scurity mengantar nya bertanya apa bos nya ada.
Tak banyak yang tahu wajah istri bosnya itu. Karena tidak semua orang mendapat undangan pernikahannya.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya resepsionis.
"Saya ingin bertemu Pak Ramon, apa beliau ada?" balas Alena dengan halus. Alena terlihat begitu cantik seperti anak sekolahan pada umumnya. Di tambah kaos polos, celana jeans, sepatu kets dan rambut yang di kuncir kuda memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus.
__ADS_1
Tentu saja penampilannya membuat ekspetasi orang disana menjadi sedikit gila. Mereka pikir Alena adalah selingkuhan Ramon. Karena terlihat begitu sangat muda.
"Ada, tapi masih rapat dengan beberapa client. Bisa di tunggu di ruang tunggu dulu. Nanti kalau sudah selesai akan saya beri tahu," ujar resepsionis yang mulai memperlihatkan kejudesannya, karena pimikirannya tentang selingkuhan bosnya.
"Baiklah, terima kasih," balas Alena langsung berjalan menuju sofa di ruang tunggu.
Hampir satu jam Alena menunggu hingga dia tertidur di sofa. Banyak desas-desus pegawai yang melihat Alena.
"Apa dia selingkuhannya? Terlihat begitu muda sekali," ujar salah satu bawahan Ramon.
"Sepertinya begitu. Berani sekali dia datang kemari, padahal bos kan baru saja menikah," balas yang lainnya.
"Benar juga, ya. Kok, nggak takut kalau ketahuan, sih. Lagian bos sukanya kenapa sama yang masih anak-anak."
Banyak pembicaraan yang di dengar Alena tapi tidak dia gubris. Dia lebih memilih tidur saja sambil menunggu suaminya selesai rapat.
Satu jam lebih Ramon akhirnya keluar ruangan rapat. Dia sudah kelaparan dari tadi, tetapi dia tahan karena menunggu istrinya datang.
Saat membuka pintu ruangannya, dirinya tidak mendapati Alena di sana.
"Kosong? Apa dia belum datang?" gumamnya. Ramon pun akhirnya mencoba melakukan panggilan pada istri nya.
"Sayang kamu jadi ke kantor?" tanya Ramon.
"Iya, Mas. Aku sudah di depan dari tadi. Kata resepsionis kamu masih ada rapat, jadi aku di suruh menunggu di ruang tunggu. Aku tadi ketiduran jadi lupa menanyakan lagi. Maaf ya mas," balas Alena dengan penuh penyesalan. Alena berpikir pasti suaminya sudah kelaparan.
__ADS_1
"Apa! Kamu menunggu di ruang tunggu depan!" begitu emosi Ramon langsung turun kembali ke resepsionis.