
masih memangisi nasi goreng, Nico tiba-tiba tersadar. Dia melihat secarik kertas yang berisikan pesan Alena.
Terdengar suara tawa Nico yang begitu keras. Antara tertawa senang dan tertawa malu.
"Begitu bodohnya aku tidak melihat pesan dari kamu!" gumamnya sambil tertawa.
Nico berjingkrak-jingkrak, kala mengetahui Alena hanya pergi bekerja bukan pergi meninggalkannya.
"Aku harus segera mandi dan menyusulnya kesana!" Nico bergegas kekamarnya.
Terlihat begitu berwibawa dan tegas, Nico mengenakan jas hitam.
"Ah.... sungguh tampan diriku!" puji Nico pada dirinya sendiri.
Dengan mengendarai mobil sportnya, dia menuju ke rasto tempat Alena bekerja. Sesampainya disana dia segera memesan makanan.
"Ada yang bisa di bantu tuan?" tanya Alena yang masih belum menyadari bahwa itu Nico. Dengan gaya rambut berbeda dari biasanya dan tubuh tegapnya, membuat Alena tidak menyadari kehadiran Nico disana. Dan jangan lupakan parfum kematian yang bisa membius siapa saja yang menghirupnya.
"Spagety sama lemon tea 1!" seru Nico. Nico tahu kalau itu Alena tapi dia mencoba diam agar Alena menyadarinya sendiri. Karena sedari tadi Nico sedikit menundukkan kepalanya.
Setelah selesai memesan makanan, Nico mendongakkan kepalanya.
"Mas Nico!" seru Alena yang terkejut.
"Iya sayang, dari tadi aku disini! Kamu saja yang tidak menyadarinya! Apa aku terlalu tampan? Sampai kamu nggak mengenaliku hem?!" ucap Nico.
"Kepedean!" balas Alena langsung pergi. Dia harus profesional dalam bekerja.
Sambil menunggu pesanan datang, Nico menghubungi manager kantornya kalau hati ini dia masuk.
*
*
*
Sesampainya dikantor, Nico sudah disambut oleh managernya untuk mendiskusikan tentang kerjasamanya dengan bran terkenal.
"Kamu besok harus terbang ke Paris Nic!" ucap managernya.
"Kenapa mendadak? Aku belum mempersiapkan semuanya."
"Seharusnya hari kamu berangkat, tapi mengingat kondisi kamu. Aku mengundurnya 1 hari. Kebetulan hari ini kamu sudah membaik, jadi besok kita bisa berangkat."
Nico terdiam sejenak. Dia masih memikirkan nasib Alena nantinya bagaimana. Dia disana cukup lama, sekitar 1 minggu.
"Akan aku pikirkan, nanti aku kabari lagi. Aku ingin pulang sekarang!" ucap Nico seraya pergi dari sana.
"Kamu baru saja datang Nic, kenapa buru-buru?!"
__ADS_1
Nico tak menggubris managernya. Dia bingung bagaimana dengan Alena, jika dia tinggal nantinya.
"Nic, Nico tunggu!" panggil managernya yang menyusul Nico ke parkiran mobil.
"Ada apalagi?!" tanya Nico.
"Apa kamu bingung masalah Alena?" tanya balik manager.
"Bagaimana kamau bisa tahu?!"
"Biarkan saja, kita coba tes dia. Kalau seandainya kamu pergi jauh, apa dia akan menghubungi kamu? Atau paling tidak memikirkan kamu! Nanti kita lihat bagaimana reaksinya!" ujar manager.
Nico diam, memikirkan kata-kata managernya tadi.
"Baiklah, aku bereskan barangku dulu!" Nico melesan dengan mobilnya.
*
*
*
Malam pun tiba, Nico menjemput Alena di tempat kerjanya.
"Kamu capek?" tanya Nico yang menjemput Alena tepat di depan pintu keluar dapur.
"Lumayan, tumben kamu kesini malam-malam mas?" tanya balik Alena.
Alena sedikit terharu dengan pernyataan Nico. Hanya saja, rasa kepercayaan Alena belum pulih sepenuhnya.
"O!" hanya itu jawaban Alena.
"O!?" cicit Nico.
Alena hanya menengokkan kepalanya mengahdap Nico.
"hanya O saja?" ucap Nico.
"Iya, terus aku harus bilang apa?"
"Ya terima kasih sayang, atau apa gitu. Masak cuma O saja! Setidaknya kamu tersentuh atau gimana gitu!" ujar Nico.
"Nggak, biasa saja. Dari dulu aku sudah biasa sendiri, jadi nggak perlu di jemput lagi. Aku juga nggak minta kan!" balas Alena.
Nico pun akhirnya terdiam. Dia tak ingin melanjutkan pembicaraanya. Sesampainya dirumah, Alena segera memasuki kamarnya. Namun belum sempat dia naik, mendengar ucapan Nico dia langsung berhenti.
"Aku besok ke Paris!" ucap Nico tiba-tiba.
Alena diam sejenak.
__ADS_1
"Mungki aku akan tinggal disana cukup lama!"
"Berapa hari?" tanya Alena.
"Belum tahu, masih belum bisa dipastikan. Karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan disana. Aku harap kamu baik-baik saja disini." jawab Nico.
"Iya, aku bisa menjaga diriku sendiri. Besok aku akan pulang ke kosan ku. Nggak enak kalau tinggal disini terus. Kamu kan sudah membaik juga, jadi aku mau pulang!"
"Kamu tinggal disini saja, saiap yang akan menjaga rumah ini jika kamu tidak ada! Aku menitipkannya kepada mu. Jaga baik-baik selama aku pergi dan nggak usah kembali ke kosan kamu!" imbuh Nico.
"Lihat nanti saja! Aku mandi dulu!" balas Alena.
"Kenapa dia biasa saja ya? sepertinya dia nggak ada perasaan lagi denganku! Atau memang dia buat seperti itu?" batin Nico.
Nico pun mengikuti Alena ke atas. Dia harus segera berkemas agar besok tidak terlambat.
***
"Apa Alena sudah tidak memiliki perasaan lagi dengan ku ya? Sikapnya juga biasa saja. Apa langsung aku tanyakan saja padanya?!" gumam Nico sambil membersihkan diri.
***
Di lain sisi, Alena yang mendengar Nico akan pergi merasa sedikit kehilangan. Dia termenung di atas tempat tidurnya.
"Apa dia disana sendirian? Atau dengan wanita gila itu ya? Kenapa harus lama sih disana!" lirihnya.
"Apa aku tanya dia saja ya, pergi dengan siapa! Tapi malu ah! Mending aku diam saja deh!" Alena segera masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan otaknya.
Beberapa saat kemudian, dia selesai dengan mengenakan baju tidurnya langsung menuju ke kamar Nico.
"Mas, apa kamu sudah tidur?" panggil Alena dari luar.
"Belum Al, masuk saja!"
Alena melihat Nico mengemasi bajunya begitu banyak.
"Kamu beneran lama ya tinggal disana?!" tanya Alena.
"Iya Al, tapi dari kantor bilang ada pekerjaan tambahan. Jadi nggak bisa memastikan. Kenapa memangnya?"
"Nggak ada apa-apa! Sini aku bantu beresin!" Alena segera mengambil alih koper Nico.
"Kayaknya kamu berat ya aku tinggalin....! Aku tau kok kalau kamu gengsi mau tanya-tanya! Padahal aku hanya 1 minggu saja disana. Aku mana bisa jauh-jauh dari kamu Al....! Tapi demi membuktikan bagaimana perasaan kamu, aku rela berpisah beberapa saat saja dengan kamu! Gak boleh lama-lama! Bisa gila aku nggak lihat kamu sehari saja!" batin Nico dengan tersenyu jahil.
***
"Aku kok sedih ya, kayak nggak rela kamu pergi mas! Padahal kamu sudah jahat lo sama aku! Tapi hati sialan ini masih saja ingin bersama dengan kamu! Kalau boleh aku juga mau ikut mas!" batin Alena.
Dengan rapi Alena menata baju Nico. Tanpa sengaja dia mememukan salah satu bajunya yang selema ini hilang. Alena menemukannya di tumpukan baju-baju Nico.
__ADS_1
"Mas, ini kan baju ku! Kenapa bisa disini?" tanya Alena.
"Hah! Ba baju kamu! Mana?"