Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Burung


__ADS_3

Dengan senang hati Alena melayani suami manja nya itu. Terbebas dari Leo membuatnya semakin bersemangat. Bebas hanya saat malam hari saja ya, bukan karena tidak suka Leo.


"Aku ingin segera ada Ramon junior di sini," bisik Ramon di telingan Alena sambil bekerja keras. Hahahahha


Malam panas terasa panjang. Di tambah hujan rintik-rintik yang membuat suasana semakin romantis. Hingga menjelang pagi Ramon terus bermain tanpa ampun. Alena begitu lelah hingga tak sanggup rasanya mata ini melihat indah nya mentari pagi.


Di tutupi nya tubuh Alena dengan selimut tebal. Ramon langsung pergi mandi dan segera ke kantor. Sebenarnya hari ini dia ingin libur, tetapi karena ada janji yang dia lupakan dengan terpaksa dia harus datang.


Meski pun semalam suntuk dirinya tidak tidur, Ramon tetap merasa bugar. Dia tidak ada tanda-tanda letih sama sekali.


Sebelum berangkat tidak lupa dirinya menyempatkan sarapan bersama Leo.


"Papa mau pergu kerja?" tanya Leo sambil menunggu makanan yang di ambilkan Ramon.


"Iya, sayang. Papa lupa kalau ada janji hari ini." Ramon memberikan piring milik Leo.


"Mama di mana?" tanya Leo.


"Mama masih tidur. Sepertinya kelelahan," ujar Ramon.


"Itu semua karena perbuatan kamu. Makanya menantuku begitu lelahnya. Kalau saja kamu tidak sebrutal itu, mana mungkin jam segini masih tidur. Dasar burung kurang ajar!" bentak Mama Ramon yang baru saja keluar dari dapur membawa beberapa lauk.

__ADS_1


"Ma, ada anak kecil."


"Memangnya burung nya siapa Nek? Apakah dia nakal? Apakah Mama terluka karena burung itu?" Leo memberondong pertanyaan pada Neneknya.


Mereka berdua sedikit terkejut dengan pertanyaan Leo. Bahkan nenek juga menahan tawanya agar Leo tidak marah.


"Mama. Lain kali hati-hati, kalau begini gimana mau jelasinnya?" ucap Ramon sambil mengunyah makanan.


"Ya burung kaka tua. Dia sangat nakal, nenek saja pernah di patok gara-gara membersihkan kandangnya," jelas Nenek.


"Sekarang burungnya ada di mana? Aku mau melihatnya juga." Leo langsung turun dari kursi nya dan menghampiri Nenek nya yang sedang mengambilkan air untuknya.


"Leo, makan dulu sayang. Nanti kita cari burungnya, karena dia sedang melarikan diri. Kalau sudah pulang nanti Papa kurung di sangkar nya." Ramon mencoba membujuk Leo agar melupakan soal burung tadi.


"Sungguh bibir laknat. Lain kali di filter Ma, biar kita nggak kelabakan kalau mau menjawab," bisik Ramon pada Mama nya di dapur.


"Papa pergi dulu, ya. Leo baik-baik di rumah. Jaga Mama untuk Papa, ya. Nanti kalau Papa pulang sore, kita pergi jalan-jalan." Sambil mencium pipi Leo Ramon berpamitan. Tak lupa dirinya juga berpamitan pada Mama nya dan Papa nya yang berada di kebun belakang.


Setelah kepergian Ramon, Alena terbangun. Pukul sembilan dirinya baru bangun.


"Aku kesiangan!" teriak Alena sambil duduk di ranjangnya dan memakai piyamanya yang berlarian kemana-mana akibat pertarungan hebat semalam.

__ADS_1


Alena segera mandi dan turun membantu Mama mertua nya. Belum sempat dia mandi tiba-tiba tubuhnya jatuh terhuyung.


Seketika Alena pingsan, karena kerasnya dia jatuh ke lantai. Leo yang belum bertemu mama nya, mencoba mendatangi kamarnya.


"Mama," panggil Leo di depan pintu kamar Alena.


"Mama," panggil nya lagi tapi tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya Leo membuka pintunya perlahan. Leo memasuki kamar dan betapa terkejutnya saat melihat Mamanya tertidur di lantai.


"Nenek!" teriak Leo sekencang-kencangnya.


Kakek dan Neneknya berlarian menaiki tangga menuju arah Leo berteriak.


"Ada apa Leo?" tanya Neneknya yang baru sampai.


"Mama jatuh Nek," ucap Leo dengan berderai air mata.


Orang tua Ramon pun kaget bukan kepalang. Mereka semua begitu panik. Papa Ramon langsung menyiapkan mobil. Di bantu maid Mama dan Papa Ramon memebawa Alena ke rumah sakit beserta Leo.


"Hubungi Ramon, Ma. Cepat, Ma." Mereka semua begitu panik hingga lupa tidak membawa apa-apa.


"Tidak di angkat, Pa. Sepertinya dia sedang sibuk," jawab Mama Ramon

__ADS_1


__ADS_2