
Alena sudah tidak tahan dengan perlakuan Nico. Dia akhirnya memilih berpisah dengan Nico. Alena akan pergi sejauh mungki agar Nico tak menemukannya.
Nico pun tak membalas ajakan Alena untuk bercerai. Hatinya menjadi sakit setiap kali istrinya meminta bercerai. Kadang dia merasa cemburu ketika melihat Alena dengan laki - laki lain.
Nico langusung melepas Alena. Dia tinggalkan Alena sendiri di kamar.
"Mas, kenapankamu diam saja! Aku hanya ingin bercerai dari kamu!" teriak Alena.
Dia tidak menanggapi Alena, Nico memasuki kamarnya untuk membesihkan diri.
"Kenapa hati ku sakit mendengar dia meminta bercerai? Selalu saja begini!" gumamnya sambil mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Alena sudah mengemas seluruh barang - barang nya. Dia akan pergi dari rumah ini sambil menunggu pengajuan surat perceraian.
"Aku harus keluar sekarang juga sebelum Mas Nico tau," gumam Alena.
Di pelan - pelan membuka pintunya dan mengeluarkan kopernya satu persatu. Perlahan - lahan dia menutup pintu agar Nico tidak mendengar pergerakannya.
Alena berjalan menyusuri tangga rumahnya. Rumah yang banyak menyimpan kenangan dan menjadi saksi kekejaman Nico pada nya.
"Maafkan aku mas, kita ditakdirkan untuk tidak bersama!" gumamnya sambil mengendap - endap dia berjalan keluar.
Nico yang sudah selesai mandi, perutnya terasa lapar. Biasanya istrinya sudah menyiapkan makan untuknya.
Saat dia turun tak sengaja dia melihat 1 koper Alena yang tertinggal.
"Bukankah ini koper Alena? Dia kemana?" ujar Nico sambil menarik koper iku ke samping meja makan.
Alena kembali untuk mengambil kopernya yang tinggal 1 di dalam rumah. Dia membawa 2 koper, ranselnya dan 1 tas besar. Karena tidak bisa membawanya, koper yang 1 lagi dia tinggal didalam.
Saat Alena memasuki rumah, dia kaget karena kopernya sudah berada di samping Nico.
"Mau kemana kamu!"
"Aku mau pergi dari sini mas!"
"Gak bisa! Kamu masih istri sah ku dan aku tidak akan menceraikan mu!"
"Mas kalau kamu tidak mencintaiku lebih baik kita berpisah. Aku bisa mencari jalan ku sendiri, dan kamu juga bisa menikah dengan wanita pilihanmu!"
"Tidak, aku tidak akan menikah untuk kedua kalinya. Dan hanya kamu istri ku satu - satunya!"
"Dasar orang gila!" balas Alena.
"Mau kamu itu apa sih mas?! Salah ku apa sama kamu hah!"
"Masukkan koper kamu dan cepat masak untukku!"
Terpaksa Alena memasukkan kembali kopernya.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin menceraikan mu Al, Mama Papa sangat menyayangimu. Tapi entah setan apa yang merasuki ku sehingga aku membencimu. Mungkin aku sudah terlalu lama di dunia hitam ini, sehingga aku tak tahu jalan pulang. Al, maafkan aku karena membuatmu menderita." batin Nico.
Nico menunggu Alena di meja makan hingga selesai memasak. Di pandangi istrinya dari belakang nampak sangat mengagumkan. Nico senang melihat Alena ketika memasak, apalagi ketika dia tertidur. Tampak cantik dan tidak menjengkelkan.
"Kamu sudah cocok menjadi seorang ibu Al," gumamnya.
"Ini mas, segera dimakan nanti keburu dingin," ujar Alena. Meski suaminya begitu kejam padanya, Alena tetap melayaninya selayaknya seorang istri yang berbakti kepada suaminya. Namun sayang kebaikan Alena kadang tak pernah dihargai oleh Nico.
"Masakan kamu enak!" seru Nico.
Baru kali ini suaminya memuji masakkannya. Sebelumnya tak pernah sekalipun dia memujinya. Yang ada hanya makian dan cacian saja.
"Terima kasih mas," balas Alena.
"Jangan besar kepala! Baru gitu saja sudah sok!" ujar Nico.
Sedetik kemudian hilang sudah senyum Alena karena kata - kata Nico barusan.
"Baru juga di puji setinggi Langit! Sekarang malah di banting ke Bumi dengan kerasnya!" batin Alena.
Mereka berdua baru saja menyelesaikan makan, namun dering phonsel Nico mengalihkan fokus Al beres - beres meja.
"Viona?" batin Al.
Nico langsung keluar ruangan untuk menerima panggilan Viona.
"Kamu kok gitu sih ngomongnya! Aku kangen sayang, kapan kamu kesini?" tanya Viona.
"Kemarin kan aku baru dari sana, kalau sekarang aku tidak bisa. Setelah ini aku harus keluar negeri ada urusan bisnis!" balas Nico.
"Ya sudah, nunggu kamu pulang saja kalau gitu. Jangan lama - lama disana ya, aku merindukanmu."
Nico langsung memutus sambungannya. Dia sedang tidak ingin diganggu saat ini. Baru saja dia berhasil membujuk Alena agar tidak pergi dari rumah.
"Apa Al tadi lihat siapa yang memanggil gak ya? Semoga saja tidak," gumam Nico.
Alena sibuk mencuci piring, Nico memperhatikan gerak gerik istrinya sambil menyandarkan tubuhnya di tembok dapur.
"Kalau dilihat - lihat kamu sexy Al, dan juga cantik." batinnya.
Tetapi pikiran itu dia hapus lagi.
"Pikiran apa aku ini! Gak, gak, gak!" sambil mengusap wajahnya.
Nico berniat ingin membantu Alena menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
"Sini aku bantu!" seru Nico sambil merebut piring dari tangan Alena.
"Biarin saja mas, nanti tangan kamu kasar!" ujar Alena.
__ADS_1
"Gak akan! Apa ginanya perawatan!" balas Nico.
Perasaan Alena sedikit menghangat dengan perlakuan Nico. Dia tidak menyangka Nico mau membantunya.
" Mimpi apa aku semalam ya?" batin Alena sambil senyum - senyum sendiri.
Setelah selesai mencuci piring, Alena membawa kopernya naik satu persatu. Tanpa aba - aba, Nico langsung mengambil alih dari tangan Alena.
"Mas biarin aku saja, itu berat!" ucap Alena.
"Ini terlalu ringan," balas Nico.
Alena hanya bengong menyaksikan Nico yang tiba - tiba mengambil kopernya.
"Tadi masakan terus cucian piring sekarang koper, apa ada masalah dengan otaknya ya?" gumam Alena. Dia merasa aneh dengan perubahan Nico.
Nico membawa koper itu ke kamar Alena.
"Suadah aku masukkan ke kamar mu semua," ujar Nico.
"Eum, terima kasih."
Nico langsung pergi dari kamar Alena, dia sendiri juga bingung kenapa dia bisa membantu Alena. Padahal sebelumnya dia begitu membenci Alena.
***
"Ada apa dengan ku hari ini? Sepertinya ada yang salah!" gumam Nico.
Tiba - tiba phonselnya berdering, tanda panggilan dari Viona.
"Ada apa?" tanya Nico.
"Besok aku ada pemotretan di luar kota, temani aku ya?"
"Besok aku tidak bisa, sudah ada janji dengan clien soal model yang mereka minta. Lain kali aku akan menemani mu!" balas Nico.
"Kamu kenapa sih seharian ini mengabaikan aku terus!" rengek Viona.
"Aku lelah Vi, besok kita bahas lagi. Aku mau mandi!" balas Nico langsung mematikan panggilannya.
Di lain tempat Viona menghentak - hentakkan kaki nya sambil marah - marah.
"Kenapa sih dia, biasanya setiap kali aku ajak pergi kemana pun selalu mau. Tapi sekarang dia mengabaikan aku. Lihat saja aku akan beri perhitungan nanti!" Viona bermonolog sendiri.
***
Selesai mandi Nico merebahkan tubuhnya. Dia sangat lelah hari ini, banyak hal yang dia kerjakan. Besok dia juga harus mengikuti meting dengan client soal pemilihan model produk terbaru mereka.
"Lebih baik aku tidur sekarang," Nico bermonolog sendiri.
__ADS_1