
Setiba di rumah Ramon langsung membersihkan diri. Otaknya terlalu berat memikirkan banyak hal hari ini.
"Apa aku mundur saja atau aku harus memperjuangkannya?! Aku merasa sudah lebih dekat dengannya dan dia juga sepertinya mulai nyaman denganku. Tuhan harus di bawa kemana persaan ku ini?" gumamnya.
***
Alena segera memasuki rumahnya, sebelum Nico datang. Namun sayang, Nico begitu cepat sampai di depannya saat ini.
"Jangan menghindariku Al!" ucap Nico yang membuat terkejut Alena.
"Ada apalagi mas?! Kita sudah selesai!"
"Tidak Al, dengarkan aku dulu! Bolehkah aku masuk?"
Alena mempersilahkan Nico untuk masuk.
"Cepat katakan mas!"
"Bagaimana pun juga Leo adalah anakku. Aku juga ingin merawatnya. Aku tahu aku banyak kesalahan yang nggak mungin kamu maafkan. Tapi aku mohon, jangan pisahkan aku dengan anakku. Sekian lama aku mencarimu, sampai aku tidak perduli lagi dengan kehidupanku seperti apa. Aku mencarimu hingga detik ini kesana kemari Al. Aku minta maaf, selalu menyakiti mu. Aku harap kita bisa bersatu seperti dulu lagi." ucap Nico dengan tulus.
"Aku memaafkan mu mas. Jika kamu ingin bertemu dengan Leo, silahkan. Bagaimanapun juga dia anak kamu. Tapi kalau untuk bersama seperti dulu lagi, aku tidak bisa. Hati ku sudah tertutup untuk kamu. Aku tidak mau sakit untuk kedua kalinya. Aku harap kmu bisa mengerti." balas Alena.
Tampak kekecewaan di wajah Nico. Dia memahami bagaimana sakitnya Alena selama ini. Ini semua karena ulahnya sendiri. Jika Nico bisa menjaga dirinya dari hawa nafsu, mungkin saat ini hidup nya bisa bahagia bersama anak semata wayangnya.
"Tidak adakah kesempatan untukku? Aku janji akan berubah." melas Nico.
"Maaf mas, aku nggak bisa. Kalau kamu ingin bertemu dengan Leo, silahkan. Tapi jangan kamu ambil dia dariku. Selama ini hanya dia yang dapat menyembuhkan luka ku dan membuat ku tetap bertahan hingga saat ini. Aku harap kamu bisa mengerti mas."
Akhirnya hati Nico bisa memahami Alena. Nico pun menerima jika Alena memilih hidup dengan orang lain.
"Terima kasih Al, kamu masih memberiku kesempatan untuk bersama dengan anakku. Sunggu beruntung laki-laki yang akan menjadi suamimu kelak. Semoga kamu bisa bahagia selamanya." ujar Nico.
"Sama-sama mas, semiga kamu juga bisa menemukan wanita yang dapat membahagiakan kamu, mengerti kamu, dan lebih menyayangi kamu. Maafkan kesalahanku selama aku menjadi istri kamu."
__ADS_1
"Iya Al, bolehkan malam ini aku menginap disini? Aku ingin bermain dengan Leo." pinta Nico.
Setelah menimang-nimang, akhirna Alena mengijinkan Nico tinggal bersamanya. "Kalau kamu mau silahkan, terserah kamu mau tinggal berapa lama. Asalkan tahu batasannya." balas Alena.
Nico begitu senang mendapat ijin untuk tinggal selama beberapa hari dengan anaknya.
"Terima kasih Al, terima kasih. Kamu memang wanita baik hati." ucap Nico.
"Kamar kamu ada di depan, mas. Tunggu disini aku bersihkan dulu!"
Alena langsung membersihkan kamar tamu untuk Nico. Walaupun berat hatinya untuk tinggal dengan mantan suaminya. Tapi demi kebahagiaan Leo, Alena akan menahannya.
Setelah semua beres, Nico istirahat di kamar depan.
"Apa papa akan tidur disini?" tanya Leo pada Alena.
"Iya sayang, Leo harus jadi anak baik. Leo tidak boleh nakal ya, sama papa. Leo harus nurut sama papa." tutur Alena.
"Iya ma,"
"Mau ma, Leo mau tidur sama papa. Nanti mama nggak sedih, kalau Leo tidur sama papa?" tanya Leo.
"Enggak sayang, mama nggak apa-apa." jelas Alena.
Akhirnya Leo menyusul ke kamar Nico.
"Papa, papa nanti tidur disini?"
"Iya sayang, Leo mau tidur sama papa?" Nico bertanya.
"Mau pa," dengan senang Leo menjawab.
"Ya sudah, Leo ganti baju tidur lalu kesini lagi ya,"
__ADS_1
"Ok papa!" Leo langsung berlari menuju kamarnya.
****
"Ramon, papa mau bicara sebentar!" panggil papa Ramon.
"Ada apa pa, Ramon buru-buru ini!" balas Ramon yang malas jika papa nya sudah memanggil. Pasti ujung-ujungnya kapan nikah.
"Duduklah! Ada yang papa sama mama kamu sampaikan."
"Apa sih pa, cepetan dong. Ramon mau ke apart, sudah di tunggu teman!"
"Papa mau menjodohkan kamu sama anak teman papa. Dia cantik, pintar, juga berkelas, dan 1 lagi dia setara dengan keluarga kita. Papa sudah tua, papa ingin segera menimang cucu. Tapi kamu nya yang nggah nikah-nikah. Makanya papa coba carikan kamu pasangan." ujar papa Ramon.
"Pa! Ramon paling nggak suka kalau papa atau mama ngatur-ngatur hidup Ramon. Ramon mau nikah atak nggak itu bukan urusan papa! Biar itu menjadi urusan Ramon sendiri! Papa sama mama nggak usah ikut campur masalah pribadi Ramon. Mulai detik ini jangan pernah ikut campur urusan Ramon! Dan 1 lagi pa, Ramon sudah mempunyai seseorang yang akan mendampingin Ramon! Ramon juga punya seorang putra dari dia!" dengan emosi Ramon menolak usulan papa nya.
"Kamu punya seorang putra!" ucap mama dan papa Ramon serentak.
"Iy iya! Ramon sudah punya seorang putra yang sangat tampan. Dan dia sudah mulai sekolah." Ramon mencoba berbohong agar tidak di jodohkan oleh orang tuanya.
"Jangan bohong! Mana mungkin kamu menikah tanpa sepengetahuan kami! Jangan kira kamu akan lolos untuk tidak bertemu dengan anak teman papa!"
"Ramon tidak bohong!" Ramon pun membuka galeri phonselnya dan menunjukkan fotonya dengan Leo. Kebetulan di foto itu nampak Leo mengalungkan tangannya di leher Ramon seperti seorang anak dan papa nya yang sangat akrab. Ramon mengambilnya saat jalan-jalan beberapa waktu lalu.
Orang tua Ramon langsung kaget melihat foto Leo dan Ramon yang wajahnya hampir sama. Jadi tidak akan ketahuan kalau Ramon sedang berbohong.
Ramon malas, kalau harus di jodoh-jodohkan dengan teman papanya. Pikiri Ramon, itu semua membuang-bunang waktu.
"Apa kamu yakin ini anak kamu?!" celetuk papa Ramon.
"Ya iyalah pa, tampan kan?!"
"Iya tampan seperti papa. Ajaklah dia kemari. Kenapa kamu tidak bilang dari dulu, hah! Tahu begitu papa tidak akan menjodohkan kamu dengan anak teman papa.
__ADS_1
"Papa saja yang nikah dengan nya! Aku rela!" ujar Ramon yang langsung di hadiah i cubitan dari mama nya.
"Anak durhaka kamu ya!"