
Sesampainya di rumah, Alena di sambut oleh Nico. Dengan wajah penuh ketegangan di antara ke dua nya.
"Dari mana Al?" dengan meredam emosi Nico bertanya pada Alena. Nico sadar dia tidak punya hak untuk marah dengan Alena, tapi melihat Alena dengan laki-laki lain hatinya merasa cemburu.
"Dari rumah temen mas. Ya sudah, aku masuk dulu. Terima kasih sudah mau mengatar ku pulang," ucap Alena sambil menggandeng Leo.
"Iya Al, sama-sama. Aku pergi dulu kalau begitu," tanpa pamit pada Nico, Ramon langsung pergi begitu saja. Dia tahu kalau laki-laki yang menyambutnya tadi adalah mantan suami Alena.
"Sepertinya aku harus bergegas! Kalau tidak, bisa saja Alena kembali dengan mantannya. Di lihat dari pandangannya pada Alena, dia masih suka." batin Ramon.
Saat bergelut dengan pemikirannya, tiba-tiba phonsel nya berdering tanda panggilan masuk.
"Ada apa?" tanya Ramon dengan orang di sebrang sana.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Ok, langsung ke kantor ku saja. Nanti siang aku ada meting." panggilan langsung berakhir.
Beberapa menit kemudian Ramon sampai di kantornya. Ketika memasuki ruangannya, dia sudah di sambut oleh sahabat sekaligus saingan dalam percintaannya.
"Ada apa? Tumben sekali!" tanya Ramon pada Sean.
"Bisakah kamu berhenti mengejar Alena?" ujar Sean tiba-tiba.
"Kenapa? Bukankah kita sedang bersaing?" balas Ramon.
"Aku sudah sejak lama menyukai Alena. Aku harap kamu tidak menghalangi ku!"
__ADS_1
"Kita bersaing secara sehat saja. Siapa yang akan di pilih Alena. Kalau memang kamu, maka aku akan mundur. Tapi kalau aku, aku minta kamu yang mengundurkan diri secara baik-baik."
"Ok, deal!" jawab Sean sambil berjabat tangan.
Setelah bernegosiasi, Sean langsung pergi dari tempat Ramon. Dia akan pergi menemui Alena di toko roti nya. Sean mencari tahu keberadaan Alena selama di sini. Dia juga mencari tahu apa yang Alena lakukan selama ini.
"Apakah masih tidak ada harapan untukku, Al? Aku sudah menunggu mu begitu lama. Tidakkah kamu memiliki sedikit perasaan untukku?" batin Sean.
"Kamu tidak boleh bersama dengan siapa pun, Al. Sulit bagiku melupakan semua hal tentang diri mu. Aku akan terus maju untuk mendapatkan hati mu." tekad Ramon.
Mereka berdua akan berlomba-lomba untuk mendapatkan hati Alena.
*****
"Mas aku mau bicara," ucap Alena halus pada Nico.
"Ada apa?"
Bagai di sambar petir, harapan Nico putus sudah. Alasannya di sini adalah ingin mengajak Alena kembali bersamanya seperti dulu.
"Menikah lagi? Dengan siapa?" tanya Nico sedikit kaget.
"Ada seseorang. Sebenarnya aku tidak perlu meminta ijin kamu, karena kita sudah bercerai. Tapi aku menghargai kamu sebagai papa Leo."
"Tidak bisa kah kita kembali seperti dulu? Aku ingin kita bersatu lagi," balas Nico sendu.
"Maaf mas, aku nggak bisa. Hati ku sudah tertutup untuk kamu. Aku tidak ingin jejadian yang pernah aku alami terulang lagi. Aku sudah membuka hati untuk orang lain dan mas nggak perlu tahu siapa dia."
__ADS_1
"Apa Leo sudah tahu?"
"Belum, sebentar lagi akan aku bertahu."
"Kalau seandainya Leo tidak setuju bagaimana?" Nico mencoba mencari celah keraguan pada Alena, agar rencana nya gagal.
"Kalau itu, biar aku yang memikirkan. Mas nggak perlu ikut campur lagi. Mas di sini juga sementara kan, sampai bisnisnya selesai. Setelah itu segera kembali ke rumah. Karena rumah mas bukan di sini lagi," jawab Alena.
Dengan lesu Nico diam tak ingin menjawab. Dia masih berat melepas Alena. Dulu dia memang salah, tapi bolehkah dia sedikit serakah? Nico juga ingin membina rumah tangga yang baik seperti yang lain. Semua yang telah terjadi akan menjadi pelajaran untuk Nico agar lebih berhati-hati lagi dan bisa menjaga hati.
Tapi semua itu sudah terlambat, Alena sudah memutuskan untuk menutup pintu hatinya selamanya. Dia enggan memberi harapan pada Nico.
"Apa kamu ingin menikah dengan Sean?" tanya Nico tiba-tiba.
"Tidak. Aku tidak menikah dengannya. Mas Sean ku anggap seperti kakak ku sendiri," jawab Alena.
"Lalu siapa? Apa laki-laki yang mengantar mu kemarin?"
"Iya mas, dia."
Nico langsung terdiam begitu mendengar jawaban Alena. Dia tahu Ramon adalah keluarga yang terpandang dan kaya raya. Bahkan hampir seluruh bisnis di Eropa di kuasainya. Mereka sama-sama pebisnis dan sering wara-wiri di layar kaca. Tak herap siapa saja tahu keluarga Ramon.
"Kalau memang itu keputusanmu, aku pasrah. Tapi tolong pikirkan Leo, kalau seandainya dia tidak setuju."
"Baik mas, aku akan berbicara dengannya,"
Setelah perbincangan itu Alena berencana memberi Leo nanti sepulang dari les. Dia ingin tahu bagaimana pendapat Leo. Kalau memang Leo tidak setuju, maka dia putuskan untuk tidak menikah lagi.
__ADS_1