Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Malam pertama


__ADS_3

Mereka berdua terus mendebatkan masalah anak. Nico ingin punya banyak anak dan Alena tidak.


"Jangan sekarang ngomonginnya!" cicit Alena.


"Kenapa memangnya? Kamu nggak suka ya? Atau kamu nggak suka kita nikah lagi?" berondong Nico.


"Nggak!" balas Alena singkat.


"Nggaknya itu kenapa sayang? Kan ada sebabnya atau memang kamu nggak bahagia nikah sama aku?" Nico tiba-tiba sedih.


"Apa sih mas, kamu kayak anak sekolahan saja! Sudah cepetan masaknya, aku sudah lapar!" ucap Alena.


Nico bergegas memasaknya, dia cukup menikmati setiap momen bersama dengan Alena.


"Makanan sudah siap!" celetuk Nico.


Dengan senang hati Alena duduk dan memakan masakan Nico. Eh....salah, masakan bersama calon suami.


Setelah selesai makan, Alena kembali ke kamarnya. Banyak pikiran yang dia renungkan.


"Apa keputusanku sudah tepat? Apa sudah benar pilihanku? Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya mengikuti kata hatiku saja. Jika harus membuka hati untuk oran lain, itu adalah hal tersulit bagiku. Walaupun dia pernah menyakiti ku, apa salah nya jika aku mencoba memberi kesempatan sekali lagi?!" gumam Alena.


"Jauh didalam hatiku masih menginginkannya. Aku tahu ini salah! Aku juga tahu keputusanku ini terlalu terburu-buru, tetapi apa salahnya aku mencobanya. Jika suatu hari nanti keputusanku salah, maka aku akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan memafkannya. Semoga pilihanku kali ini tidak salah Tuhan. Semoga Engkau selalu menjaga ku dan dirinya dari hal-hal yang buruk." Pinta Alena kepada Yang Maha Kuasa.


*


*


*


Pagi-pagi sudah ramai orang kediaman Nico. Semua orang sibuk menata dan menghias seluruh ruangan. Dengan gaja minimalis dan elegan, seluruh ruangan terlihat indah. Nico sudah menyiapkan semuanya, dia memilih tema yang simpel karena Alena tidak begiti suka keramaian.


Acara akan dimulai pukul tujuh malam. Hanya orang terdekat Nico yang datang, termasuk orang di kantornya. Tak ketinggalan kedua orang tua Nico yang begitu antusias mendengar kabar mendadak dari anaknya, kalau dia akan segera menikahi Alena.


Harapan orang tianya akhirnya terwujud. Selama ini mereka kecewa kepada Nico lantaran tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Alena. Tetapi sekarang bangga kepada anaknya, karena bisa kembali rujuk dengan Alena.


Pukul tujuh tepat, Alena dan Nico mengucap janji suci didepan semua orang. Detik itu juga mereka berdua sah sebagai suami istri. Terpancar aura bahagia dari wajah Nico dan Alena. Berbeda dengan Sean yang mengurung dirinya di kamar. Dia hanya melihat berita pernikahan mereka melalui media. Tak banyak gambar yang didapat media, karena pernikahannya sedikit tertutup.

__ADS_1


"Semoga kamu bisa bahagia Al. Jika suatu hari nanti dia menyakitimu, jangan salahkan aku yang akan membawamu pergi sejauh mungkin dari nya." lirih Sean. Dia bertekat akan merebut Alena kembali jika Nico menyakitinya.


Pesta yang sederhana tidak begitu mewah, tetapi tetap meriah. Acara selesai pukul sepuluh malam. Para tamu undangan sebagian tamu undangan sudah pulang ke rumah masing-masing. Termasuk Alena dan Nico, mereka memasuki kamar Nico yang sudah di hias sedemikian rupa.


"Kamu mau mandi dulu?" Nico bertanya pada Alena.


"Iya mas, apa mas duluan saja?" tanya balik Alena.


"Mandi bareng saja!" dengan santainya Nico berucap. Dia tidak memahami jantung Alena yang berdetak kencang.


"Aku duluan saja!" potong Alena.


Didalam kamar mandi jantung Alena masih berdetak kencang.


Alena dan Nico selesai mandi langsung merebahkan diri di atas kasur king size nya.


Terjadi kecanggungan antara mereka berdua.


"Em....aku, aku sedikit gugup Al!" ucap Nico tiba-tiba.


"Memangnya kamu nggak canggung?" Nico bertanya balik.


"Ya tentu saja canggung!" seru Alena.


Mereka berdua akhirnya diam tidak ada yang memulai percakapan. Walau mereka sudah pernah bersama sebelumnya, tetapi mereka tidak pernah sedekat itu.


Karena tidak ada percakapan diantaranya, Alena langsung masuk kedalam selimut dan memejamkan matanya.


"Memangnya hanya diam begini ya? Apa hanya tidur saling memunggungi?" batin Alena.


Di lain sisi, Nico masih takut jika Alena marah saat dia pegang, seperti dulu waktu Nico tidak sengaja menyentuhnya.


"Peluk nggak ya? Nanti aku di tendang lagi! Tapi masak begini saja sih! Mana seru! Peluk, enggak, peluk, enggak!" Nico masih takut jika Alena marah.


Diam-diam Nico pun mengikuti Alena masuk kedalam selimut. Alena memiringkan badannya ke kanan dan Nico ke kiri. Mereka berdua saling memunggungi dengan pikiran masing-masing.


Lama-lama Alena sudah tertidur pulas, Nico memulai aksinya. Dia mencoba menyentuh tangan Alena dan tidak mendapat respon. Nico lanjutkan lagi memeluknya dari belakang, juga tidak ada penolakan.

__ADS_1


"Sepertinya dia memberi lampu hijau!" batin Nico.


"Sayang, sayang!" panggil Nico, tetapi tidak kunjung mendapat jawaban.


"Kamu tidur ya Al! Wah kebangetan ini anak! Suami sendiri di cuekkin! Awas saja, tunggu pembalasanku!" Nico terus saja bergumam pada dirinya sendiri.


Akhirnya malam pertama mereka hanya terjadi hal-hal yang biasa saja. Mereka tertidur pulas hingga pagi hari, dengan posisi tangan Nico berada di atas pertu Alena.


****


Pagi-pagi Nico terbangun terlebih dahulu. Dia tidak ingin melewatkan momen indah, yaitu memandangi wjah cantik istri tercintanya.


"Bagaimana bisa Al, malam pertama kita hanya tidur dan memeluk saja! Dan bodohnya aku juga mau saja!" batin Nico.


Terdengar suara lenguhan khas orang bangun tidur.


"Jam berapa ini?" lirih Alena.


Nico hanya diam memandang wajah cantik Alena tanpa make up sama sekali.


Merasa ada yang menatap, Alena langsung melihat sang empunya.


"Mas Nico sudah bangun?" tanya Alena basa-basi.


Yang di tanya hanya diam tak menjawab. Nico menahan hasratnya saat melihat itu Alena yang begitu eemmmm.


"Jangan bergerak-gerak Al, kamu nanti membangunkan Singa yang sudah dalam mode on!" ucap Nico.


Alena yang tahu arah pembicaraan Nico, malah semakin menjadi-jadi. Dia mencoba menggerakkan kaki nya perlahan ke paha Nico.


"Al, jangan nakal ya!" sambil menahan des**** Nico mendorong Alena pelan.


"Kamu nggak mau mas?!" tanya Alena dengan rasa percaya dirinya.


Spontan saja Nico langsung mencium bibir Alena dengan rakusnya. Dia terus mencumbu Alena tanpa Ampun.


"Ini akan jadi malam ke dua kita yang cukup melelahkan. Kerena kamu sudah menunda junior ku untuk masuk ke sarangnya!" ucap Nico.

__ADS_1


__ADS_2