Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Draft


__ADS_3

Pagi ini Viona berangkat pemotretan di luar kota. Dia berangkat dengan beberapa tim nya dan jangan lupakan kekasih gelapnya juga ikut, tapi dia membawa mobil lain. Karena Nico tidak ikut, jadi Viona mengajak kekasih gelapnya. Sebelum berangkat Viona menunggu di kantor agensi nya.


Berbeda dengan Alena, dia sudah rapi dengan baju kerjanya. Hari ini dia ikut bagian pengiriman, membantu temannya yang mengantar pesanan milik salah satu perusahaan.


"Semuanya sudah siap?" tanya Bos Alena.


"Sudah pak, ini tinggal berangkat!" jawab Alena.


"Ya sudah, kalian berangkat sekarang mereka pasti sudah menunggu!" seru bosnya.


Alena, Adam, dan Lusi akhirnya berangkat membawa mobil operasional. Mereka menuju kantor Cinema.grub. Sesampainya disana, Alena dan Lusi segera menurunkan kotak makannya dibantu Adam.


"Kalau kamu gak kuat biar aku saja yang antar Al," ucap Adam.


"Aku bisa! Aku gak selemah itu!" balas Alena.


"Yang kamu tolongin cuma Alena saja ya?" sela Lusi.


"Kamu bawa sendiri!" balas Adam pada Lusi. Mereka bertiga berteman tapi Lusi dan Adam tak pernah akur. Hanya kepada Alena, Adam bisa berbaik hati.


Mereka semua memasuki ruangan yang akan digunakan untuk berkumpul seluruh pegawai.


"Oh... Pesanannya sudah datang!" seru pegawai disana.


"Ditaruh dimana ini kak?" tanya Alena.


"Bawa kesini saja," balas pegawai yang lain. Dia menunjukkan meja di ruang sebelah.


Alena dan teman - temannya memasuki ruangan tersebut. Begitu masuk Alena dikagetkan dengan keberadaan Nico dan Viona yang sedang duduk mesra berdua. Nico yang awalnya tak ingin menemui Viona, terpaksa harus bertemu disini. Dia pikir Viona akan langsung berangkat ke luar kota, ternyata mereka harus berkumpul dulu di kantor.


Seluruh tim disini awalnya tidak mengetahui hubungan Viona dan Nico. Tetapi gara - gara ada paparazi mereka pun mengakuinya ke publik.


Alena yang melihat itu hanya diam. Dia kemudian menundukkan kepalanya agar tak terlihat kalau raut wajahnya berubah sendu.


Nico reflek melepas tangan Viona yang bergelayut di lengannya.


"Kamu kenapa sih, mereka hanya pelayan Cafe saja. Kok tiba - tiba kamu lepas!" ucap Viona sedikit kesal.


"Gak enak sama yang lain!" balas Nico yang mencari alasan. Dia merasa sedikit tidak enak kepada Alena.


Setelah selesai, Alena segera pergi dari sana. Dadanya terasa sesak menyaksikan suaminya bermesraan.


"Ayo, cepat pulang! Kita masih banyak pekerjaan!" seru Alena.


"Ok Al!" balas Adam.


Merek bergegas kemabal ke Cafe. Di perjalanan sempat terlintas dipikiran Alena kalau dia ingin membalas suaminya.


"Apa aku harus membalasnya? Membalas perselingkuhan juga?" batin Alena.


"Tapi itu tidak benar, aku adalah seorang istri yang sah. Seharusnya aku yang berhak atas dirinya, bukan wanita murahan itu! Aku yang harus merubah suami ku untuk menuju jalan yang benar. Tapi itu menyakitkan..! Aku harus bagaimana Ya Tuhan! Alena terus bergelut dengan perasaannya sendiri.


Dia harus mencari jalan keluar untuk rumah tangganya. Meski tidak didasari cinta, tapi dia harus bisa menjaga keutuhan rumah tangganya.

__ADS_1


"Aku akan berjuang hingga akhir. Jika tetap tidak ada titik temu nya maka, aku akan melepas semua!" serunya dalam hati.


Dia sudah bertekat akan merebut suaminya dari wanita murahan itu.


***


Malam hati telah tiba,Alena pulang bekerja langsung memasak, menyiapkan air hangat untuk suaminya, dan merias diri agar lebih enak dipandang. Dia sudah membulatkan tekat nya untuk berjuang melawan bibit - bibit pelakor.


"Sudah pulang mas?!" tanya Alena yang menyambut suaminya di depan pintu.


Nico hanya diam, dia sedikit kaget dengan penyambutan Alena tiba - tiba.


"Ada apa dengannya?" batin Nico.


"Aku sudah menyiapkan air hangat untuk kamu mandi mas, setelah itu turunlah kita makan bersama." titah Alena.


Nico pun hanya menuruti setiap kata Alena. Dia bingung dengan perubahan Alena.


"Tidak biasanya dia begitu baik. Janganan menyiapkan air, menyambutku saja tidak pernah. Apa dia habis terjatuh dan gagar otak?!" gumam Nico.


Dengan cekatan Alena menata semua maskannya di meja. Sambil menunggu Nico turun, Alena membuatkan teh hangat untuk suaminya.


Nico turun dengan setelan santainya.


"Apakah ada masalah?" tanya Nico pada Alena saat menuruni tangga.


"Masalah apa?" tanya balik Alena.


"Tidak biasanya kamu mau menyambut suami mu ini!"


"Kalau kebaikan mu hanya untuk membujukku menyetujui soal perceraian kita, maf aku bukan orang yang mudah di suap dengan apa pun!" balas Nico.


"Apa kebaikanku selalu buruk didepan mata kamu mas?!" tanya balik Alena.


"Mung..." belum sempat Nico melanjutkan kata - katanya langsung dipotong Alena.


"Sudahjangan banyak bicara, sekarang ayo kita makan!"


Alena mengambilkan nasi dan lauk untuk Nico.


"Kalau kamu ingin berperang dengan ku akan aku terima dengan senang hati mulai detik ini! Aku sudah bukan wanita lemah lagi! Aku harus bisa bermain cantik!" saru nya dalam hati.


Mereka makan dalam keheningan. Nico tampak sesekali melirik Alena, dia juga mengamati setiap gerakan Alena. Banyak hal terlintas dalam benaknya.


Alena merasa suaminya memperhatikannya, namun dia berpura - pura tidak tahu hal itu.


"Perlahan - lahan tapi pasti mas! Kamu akan berpaling dari nya dan akan kembali pada istri sah mu ini. Aku tidak akan menyerah!" batinnya.


Setelah Alena membereskan sisa makannya, dia pergi ke ruang kerja suaminya sambil membawakan teh.


"Mas, boleh aku masuk?" tanya Alena.


"Heem!"

__ADS_1


Dengan senyum sumringah dia nampakka di depan Nico.


"Aku buatkan teh untuk menemani kamu kerja mas," ujar Alena.


"Taruh disana saja!" balas Nico.


Alena pun menaruhnya di tepi meja kerja Nico, setelah itu dia pergi dari sana.


"Ada apa dengannya? Apa dia sedang merayu ku untuk menyetujui perceraian kita?!" Nico terus berpikir keras.


Alena kembali ke kamarnya. Dia sudah sangat lelah dengan kegiatan hari ini. Alena pun tertidur dengan posisi kaki bergelantungan dibawah.


Hingga dini hari Nico baru saja selesai mengerjakan laporan. Dia kembali ke kemarnya sendiri. Saat akan ke kamarnya, dia melintasi kamar Alena. Dia buka perlahan pintunya dan sedikit memasukkan kepalanya untuk mencari keberadaan Alena.


"Dimana dia? Kenapa sepi?" batin Nico. Dia pun berjalan masuk dan mendapati Alena tertidur sambil kaki dibawah.


Nico membantu Alena membenarkan posisi tidurnya. Dia pandangi wahah istrinya dengan seksama.


"Kamu cantik Al," ucap nya lirih.


Dia pakai kan selimut dan membanhi bantalnya. Di pandangnya cukup lama wajah lelah itu.


"Kamu sangat cantik Al, aku sungguh beruntung memperistri kamu!" lirihnya sambil mencium bibir istrinya.


Nico beranjak dari kamar Alena. Dia juga akan tidur karena sudah lelah.


***


Pagi hari Alena terbangun, dia sedikit bingung karena posisi nya sudah berpindah.


"Sepertinya aku tadi malam tidak disini tidurnya!" dia bermonolog sendiri.


Dia tak mau ambil pusing dan langsung mebersihkan diri. Setelah rapi dengan setelan baju kerja nya, dia turun untuk membuat sarapan.


"Bau apa ini?" batin Alena.


"Siapa yang memasak?" dia terus bertanya - tanya.


Dia mecoba mengintip dari balik pintu dapur. Betapa kagetnya melihat tubuh tinggi dengan apron yang melekat di tubuhnya.


"Mas Nico?!" seru Alena.


"Kamu sudah bangun?" tanya Nico.


"Eeumm..!" balas Alena.


"Duduklah, setelah ini aku selesai."


"Mimpi apa dia semalam!" batin alena.


Nico dengan cekatan menyiapkan saran untuk dirinya dan Alena.


"Cepat makanlah, nanti keburu dingin!" ujar Nico.

__ADS_1


Alena makan dalam dia, dia masih bingung dengn kelakuan suaminya. Kadang baik, kadang marah gak jelas, kadang bisa menjadi orang yang begitu menakutkan.


__ADS_2