Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Gelisah


__ADS_3

Hari ini Alena di perbolehkan pulang. Ramon sudah mengurus semuanya, termasuk merawat Alena. Dia sendiri yang merawat dan menjaga Alena di rumah sakit. Dia tidak ingin melewatkan sedetik pun dengan Alena. Seperti saat ini, Ramon duduk termenung menemani Alena yang masih tertidur nyenyak.


"Apa ada masalah, Mas?" tanya Alena yang baru saja terbangun. Melihat raut wajah suaminya membuat dia berpikir bahwa Ramon sedang banyak masalah.


"Kamu sudah bangun?" tanya balik David. Dirinya sedikit kaget saat Alena tiba-tiba memanggilnya. Jujur saja, sebenarnya David banyak masalah di kantornya. Client yang tiba-tiba membatalkan perjanjian kerja sama, ada beberapa pelanggan juga yang membatalkan beberapa jasa arsitek di kantor David yang lain. Entah kebetulan atau tidak itu membuat David sedikit bingung.


"Apa kamu banyak masalah?" tanya Alena lagi, sambil mendudukkan dirinya.


"Tidak ada. Apa sudah lebih baik?"balas Ramon yang berdiri menghampiri Alena.


"Ini jauh lebih baik. Sepertinya kamu banyak masalah," selidik Alena.


"Tidak ada, aku hanya lelah saja." Ramon masih besikukuh untuk tidak bercerita.


"Jika ada masalah, cerita saja. Aku siap mendengarkan keluh kesah kamu, Mas. Bukankah suami istri harus saling terbuka dan saling membantu?" Alena terus mendesak Ramon agar mau bercerita. Melihat dari raut wajahnya yang berbeda dari biasanya, Alena tahu kalau Ramon sedang banyak masalah.


Dengan desakan Alena, akhirnya Ramon mau bercerita.


"Di kantor sedang ada beberapa masalah. Aku belum tahu, itu di sengaja atau tidak. Tapi waktunya begitu bersamaan. Hal itu membuat pendapatan bulan ini menurun," jelas Ramon pada Alena.


"Kamu sudah mencoba mencaritahu apa belum? Coba selidiki lebih lanjut lagi," ucap Alena.


"Iya, tenang saja. Aku akan mencaritahu semua. Sekarang kamu harus fokus sama kandungan kamu dulu. Aku nggak mau sampai terjadi apa-apa," balas Ramon yang tidak mau jika Alena ikut gelisah karena memikirkannya.


"Iya, Mas. Aku mau jalan-jalan boleh?" tanya Alena yang merasa jenuh di kamar terus.

__ADS_1


"Boleh. Ayo, aku temani."


Mereka berdua turun untuk jalan-jalan di sekitar rumah bersama Leo.


"Sayang, jangan capek-capek. Mama tidak mau kamu sakit lagi. Mama kemarin sempat kaget tahu kamu terjatuh di lantai," ucap Mama nya yang juga ikut menemani Alena jalan-jalan.


"Iya, Ma. Alena akan hati-hati lain kali."


...*******...


Nico tiba di Paris pada malam hari. Dia menyewa sebuah apartemen di dekat rumah Alena. Tak jauh dari sana ada apartemen megah yang di sewakan dan Nico menyewanya untuk beberapa bulan ke depan.


"Akhirnya aku sampai," gumam nya sambil merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.


setelah menata semua barang-barangnya, Nico segera membersihkan diri. Dirinya ingin menikmati angin malam Paris sambil di temani secangkir kopi panas di balkon kamarnya.


"Maafkan Papa, sayang. Kalau saja Papa dulu tidak bodoh dan serakah, mungkin kita saat ini berkumpul bersama."


Nico terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Haruskah aku merebutnya kembali? Tapi aku tidak mau Alena sedih. Pasti Leo akan kecewa jika aku merebutnya dari Alena." ******* nafas Nico terdengar begitu berat.


Tak terasa rasa kantuk menyerangnya. Nico mulai masuk kembali dan merebahkan tubuhnya. Mungkin saking lelahnya dia dalam perjalanan ke Paris, dia langsung terlelap saat hidingnya menghirup bau bantal dan guling.


...********...

__ADS_1


Pagi-pagi ramon sudah berangkat ke kantornya. Dia harus segera menemukan dalang di balik kerugian besar dalam perusahaannya.


"Kamu buru-buru, Mas?" tanya Alena sambil memakaikan dasi pada leher Ramon.


"Iya, maafkan aku. Aku harus segera memperbaiki dan menemukan apa penyebabnya. Sepertinya data perusahaan bocor keluar. Kalau aku terus mengulur waktu, maka akan banyak kerugian yang perusahaan terima," jelas Rmaon pada Alena.


"Aku pergi dulu, sayang. Jaga diri baik-baik. Kamu nggak usah ke kantor, nanti aku bisa pesan makanan online. Kamu istirahat saja." Ramon mencium kening Alena.


Setelah kepergian Ramon, Alena duduk di balkon kamarnya. Leo sudah berangkat ke sekolah bersama dengan Kakeknya.


"Siapa ya tega sama kamu Mas? Kamu terlalu baik untuk di sakiti. Apa mungkin orang dalam? Tapi kenapa? Apa Mas memiliki musuh sebelumnya?" Alena terus saja menerka-nerka siapa orang yang melakukan kecurangan di perusahaannya.


"O, ya. Aku sudah lam atidak mendengar suara Popy. Bagaimana kabarnya ya? Aku coba telpon, deh." Alena mengambil phonselnya dan menghubungi Popy.


"Hallo," ucap Alena dengan Popy yang berada di sebrang.


"Hai, Al. Bagaimana kabar baby nya? Apa dia tidak menginginkan sesuatu?" jawab Popy.


"Tidak, Pop. Dia anak yang baik. Tidak meminta ini itu. Bahkan dia tidak merepotkanku. Bagaimana kabar kamu dan Sean? Apa kalian baik-baik saja? Apa ada perkembangan hubungan kalian?" tanya Alena penasaran.


"Sean pergi," ucap Popy sedih.


"Pergi? Pergi kemana? Memangnya ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Alena memberondong Popy dengan banyak pertanyaan.


...*********...

__ADS_1


Hai teman-teman yang setia. Aku ada rekomendasi cerita yang menarik. Sambil menunggu aku up bab terbaru, kalian bisa mampir kesana. Ceritanya seru lo



__ADS_2