
"Mas, ini kan baju ku! Kenapa bisa disini?" tanya Alena.
"Hah! Ba baju kamu! Mana?" jawab Nico dengan gagap.
"Ini mas, kenapa bisa disini? Kan ini punya ku!"
"Itu.... mungkin maid yang salah naruh saja. Waktu kamu pergi kan maid yang membersihkan kamar kamu. Mungkin setelah dia cuci, lupa di taruh disini." elak Nico.
"O gitu, ya sudah. Aku ambil ya?!"
"Biarin saja disitu, nantinya kamar ini kan jadi milik kamu juga!" goda Nico.
Alena hanya diam tidak merespon. Dia merasa senang sekaligus malu. Tak dipungkiri di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, masih ada sisa cinta milik Nico. Sejak awal cinta Alena memang hanya untuk Nico saja.
"Sudah mas, sekarang kamu istirahat. Besok biar fres lagi!" perintah Alena.
"Kamu juga, aku nggak mau kamu sakit. Selama aku pergi jaga diri baik-baik, jangan sampai sakit. Karena aku tinggal lebih lama disana." ujar Nico.
"Iya mas," jawab Alena.
Alena pun meninggalkan kamar Nico.
***
Di dalam kamar Alena, terlihat dia begitu murung.
"Aku sudah menguap berkali-kali, tapi kenapa aku nggak bisa tidur. Besok nggak boleh bangun siang, aku mau ikut mengantar mas Nico ke bandara." gumamnya.
Memikirkan perasaannya dengan Nico, lama-lama Alena capek juga. Dia akhirnya tertidur.
***
Pagi-pagi Nico sudah siap dengan baju santainya.
"Alena kenapa belum bangun ya?!" Nico mencoba membangunkan Alena.
"Mas sudah siap!" tiba-tiba dia muncul, membuat kaget Nico.
"Sudah Al, kamu mau ikut?" tanya Nico.
"Iya mas, boleh?"
"Tentu saja boleh. Ya sudah ayo!"
Sesampainya di bandara, mereka sudah disambut oleh manager dan beberapa tim yang lain.
"Aku pergi dulu ya, jaga diri baik-baik dirumah. Jangan macem-macem! Dan jangan dekat-dekat sama Sean! Mengerti!" titah Nico.
Alena hanya menganggukkan kepalanya. Dia begitu berat melepas kepergian Nico.
Saat Nico akan berbalik, Alena langsung memeluk Nico. Hal itu tentu saja membuat kaget semua orang. Seluruh tim akhirnya berjalan terlebih dahulu, saat mengetahui hal itu. Agar mereka berdua bisa bebas berbicara.
Manager yang memberi ide pun tersenyum senang. Akhirnya usaha nya tidak sia-sia.
Nico sedikit terkejut dengan tindakan Alena. Antara senang dan bahagia terpancar dari wajah Nico.
"Hati-hati disana!" seru Alena sambil memeluk Nico.
Nico langsung membalikkan badannya. "Iya, kamu juga ya! Jaga diri baik-baik. Aku akan seceptanya menyelesaikan pekerjaanku, agar pulang lebih awal." ucap Nico dan membalas pelukan Alena. Terlihat pancaran kesedihan diwajah Alena.
__ADS_1
Mereka pun berpisah, Nico harus segera berangkat. Alena terus memperhatikan setiap langkah Nico. Begitu berat hatinya ditinggalkan orang yang dia sayangi. Meski kadang Alena telalu cuek dan kejam pada Nico, tak bisa dipungkiri bahwa hatinya tidak pernah berubah.
"Aku menunggu mu mas, segeralah pulang!" lirih Alena dengan berlinang air mata.
***
Alena segera kembali, dia harus segera masuk kerja. Karena tadi dia ijin untuk masuk siang, demi mengantar Nico.
"Aduh sudah siang ini!" gumamnya sambil berlari mencari pak sopir pribadi Nico.
"Langsung ke tempat kerja ku saja pak!" titah Alena.
"Baik neng!"
Sesampainya disana, Alena sudah disambut oleh Sean. Sean tahu kalau hari ini Nico pergi keluar negeri. Jadi, ini adalah kesempatan Sean mendekati Alena.
"Hai Al!" sapa Sean.
"Hai!"
"Kamu terburu-buru?"
"Iya mas, aku sudah terlambat! Maafkan aku! Aku masuk dulu ya!"
"Iya Al, hati-hati! Jangan berlari!" seru Sean. Belum juga selesai bicara Alena terjatuh didepan Sean.
Dengan sigap Sean membantu Alena. Dia membawa Alena duduk, sambil melihat apa parah lukanya.
"Al, aku ambilin obat dulu ya dimobil!" Sean langsung berlari.
Saat kembali, Sean langsung mengobati lutut Alena. Tak lupa dilain tempat ada seseorang mengambil gambar mereka berdua.
"Iya mas, terima kasih ya!" Alena pun langsung pergi dari sana. Dia ingat pesan Nico, jadi dia tidak berani terlalu dekat dengannya.
***
"Beres bos!" ucap seseorang yang memotret Alena dan Sean tadi.
"Terus awasi dia!" titahnya langsung mematikan panggilannya.
***
"Bagaiamana? Berhasilkan?!" ucap manager.
"Iya! Sebenarnya aku nggak tega melihat dia sedih. Tapi demi mengetahui perasaanya, aku terjang saja. Ini juga baru beberapa jam, aku sudah merindukannya!" balas Nico.
"Kita tunggu saja, dia mencoba menghubungi kamu nggak nantinya! Kalau iya, berarti dia mencintai kamu."
"Kita tunggu saja!"
Terdengar bunyi notif pesan masuk ke phonsel Nico.
"Sialan, baru juga aku tinggal sebentar!" ucap Nico geram.
"Ada apa Nic?!" tanya manager nya.
Nico lalu menunjukkan foto yang dia dapat.
"Apa kamu percaya begitu saja?!" manager nya kemabali bertanya.
__ADS_1
"Nggak! Aku tahu Alena bukan wanita murahan seperti diluaran sana!" jawab Nico.
"Beruntung kalau kamu sadar! Seandainya dia wanita murahan, sudah sejak dulu dia akan pergi memcari laki-laki lain yang dapat memuaskannya!" tutur managernya. Dia mencoba mengingatkan Nico agar tidak sampai keliru seperti dulu lagi.
"Aku tahu itu!"
"Lalu, apa yang membuatmu geram?"
"Orang yang mengirim foto ini. Dia pasti ingin menghancurkan hubunganku dengan Alena!" ujar Nico
"Apa kamu punya musuh?"
"Tidak!" jawab Nico singkat.
"Apa kamu yakin? Coba kamu pikirkan ulang, siapa saja yang nggak suka sama kamu dan Alena. Pasti ada seseorang yang kamu pikirkan." ujar manager.
"Apa kamu juga memikirkan hal yang sama denganku?" tanya balik Nico.
"Ya, mungkin saja!"
"Aku paham, kalau begitu kita percepat disini. Setelah beres aku pulang duluan!"
"Ok, setuju. Demi masa depan kamu!" ujar manager.
Mereka berdua melanjutkan pekerjaan masing-masing.
***
Malam hari pun tiba, saatnya Alena pulang ke rumah Nico.
"Rasanya malas mau balik!" gumamnya.
"Mas Nico mikirin aku gak ya disana?! Apa aku coba hubungi saja?"
"Tapi memalukan kalau aku yang hubungi dia duluan! Tapi nggak apa-apa kali ya, tanya kabar sedikit saja. Biar nggak galau gitu," monolog Alena lagi.
Sesampainya dirumah, dia segera membersihkan diri.
Saat merebahkan tubuhnya, dia menimang-nimang phonselnya.
"Panggil gak ya, panggil gak, panggil gak! Panggil aja deh!"
Alena langsung menekan tombol hijau. Beberapa detik kemudian....
"Halo Al,"
"Halo mas,"
"Tumben kamu telfon aku, ada apa?" tanya Nico pura-pura tidak tahu.
"Nggak ada apa-apa kok mas, cuma mau tanya aja. Sudah sampai apa belum?"
"O, sudah dari tadi Al. Kamu sendiri sedang apa?" tanya Nico basa-basi.
"Em.... ya sudah kak, aku mau tidur dulu!" Alena langsung mematikan sambungannya. Dirinya gugup jika berhubungan dengan Nico.
Setelah panggilan berakhir, Nico langsung jingkrak-jingkrak. Dia meloncat kesana kesini karena bahagia.
"Akhirnya Alena benar- benar menyukai ku. Sepertinya dia sedang merindukan ku!" gumam Nico
__ADS_1