
Suasana mendung tak bersahabat, di langit terlihat sekali bahwa awan mulai menggelap, angin pun berhembus kencang. Menandakan akan turun hujan.
Seseorang putri cantik menatap keatas langit sembari memegang sebuah kertas undangan. Dia menghela nafas menandakan bahwa ia lelah, lalu pandangannya beralih kekertas itu. Surat yang ditulis dengan tinta pekat hitam itu membuat perasaan nya gundah.
'Aku paling membenci ini.' Batinnya. Dia menaruh kertas itu kedalam laci meja dihadapannya.
Yang membuat ia membenci surat itu adalah isinya. Surat undangan kerajaan. Seperti yang terdengar, kerajaan Aurant mengangkat Raja baru untuk mereka. Pangeran Ox. anak paling tua dari keluarga kerajaan Aurant.
Raja Ox sangat gagah dan pintar. Selain itu dia juga tampan. Meski ia bukan ahli sihir, ia adalah petarung hebat dan memiliki aura kuat untuk sekelilingnya, hal itu pasti akan mengusiknya setiap saat.
Ayahnya pasti berharap bahwa dirinya dapat menemukan pendamping hidupnya begitu berada disana. Entah dia akan menjodohkan anaknya dengan raja baru itu atau pangeran dan raja lain. Tentu itu yang membuat ia gelisah sepanjang membaca pemberitahuan dari undangan itu.
Tok! Tok!
"Olive, keluar nak. ada yang ingin ayah bicarakan." Ucap seseorang didepan kamarnya. ia menghela nafas begitu dipanggil. Berdiri dan beranjak pergi dari kamarnya.
Dirinya membuka pintu. Seorang perempuan bergaun biru tua menatapnya dengan tatapan lembut dihadapannya.
"Ibu." Olive menatap Perempuan paruh baya yang berdiri didepan pintu. Olive mencoba tersenyum lembut. "Ibu bisa kekamarku dan masuk dengan mudah. Tidak perlu menunggu diluar."
__ADS_1
"Tak apa nak, aku hanya menunggu disini. Tidak lama kok." Ucap Ibunya. Olive berjalan mendahuluinya. Berbicara dengan nada rendah. "Apa.. apa ayah menanyakan soal itu lagi?"
Dengan ucapannya, ia sebenarnya tau apa jawabannya. Apalagi setelah melihat raut wajah ibu nya. Ibu menghela nafas. "Seperti itu lah."
Mereka tiba di depan pintu besar yang berdiri kokoh disana. Pintu Berwarna coklat itu perlahan dibuka oleh beberapa pelayan, mempersilahkan Olive dan ibunya masuk.
"Olive. Olive anakku."
Olive mengangguk singkat mendengar panggilan dari sang ayah. Dia duduk dikursi yang telah disiapkan. Dihadapan ayahnya bersama ibunya.
"Kenapa kamu tidak mendatangi Pangeran Julius, Olive. kudengar kamu mencampakannya." Ucap Ayahnya, dia memijat keningnya. Seperti tak habis pikir oleh kelakuan anaknya.
"Kalau begitu kamu harus nya mengingatkannya." Suruhnya, Olive menggeleng sekali lagi.
"Tidak. Julius tidak hadir karena keinginannya sendiri."
ibunya terdiam saja mendengar ucapan anaknya. Sedangkan ayahnya yang sudah terbiasa sengan sikap dan ulah anaknya hanya mendengus. Membuat Olive dan ibunya terkekeh.
"Aku hanya takut kau seperti kakak mu Olive." Dengan mendengar ucapan itu, wajah Olive seakan berubah. Pipi kemerah merahannya berubah pucat. Wajahnya berubah datar.
__ADS_1
Ayahnya mengedikan bahu."Kakak mu Memang kuat, tapi perempuan kuat dengan sihir luar biasa sepertinya cukup mempersulit pendampingnya."
'Apa itu?! apakah kakak ku salah dengan memiliki kekuatan sihir kuat?! apakah karena kakakku perempuan kuat?!'
Olive terlihat tidak terima. Sangat terlihat jelas dari raut wajahnya. Ibunya menghela nafas. mengelus punggungnya. Olive mengangguk mengerti. "Sampai kapan pun aku tidak akan jatuh dalam perjodohan."
"Apa?! apa maksudnya Olive?!"
Olive tetap menggeleng lembut. Dia mengangkat gaunnya dan beranjak pergi dari sana setelah meminta izin untuk keluar dari ruangan. Ayah ibunya saling terdiam menatap punggung anaknya.
Olive berjalan tergesa kedalam kamarnya. Dia menatap dengan amarah, membuka pintu dengan kesal, lalu membantingnya.
BRAK!
Olive mengambil surat undangan dimeja nya. Undangan itu ia buka. Lalu tangan yang lain mengambil gunting dimeja.
'Aku membenci ini.'
Dia bersiap menggunting undangan itu. Olive merasa dibutakan amarah. Dia harus melampiaskannya pada hal ini.
__ADS_1
TBC.