Jadi Ratuku

Jadi Ratuku
Chap 34 - Apa Olive terlihat berbeda?


__ADS_3

Beberapa bulan setelah menikah. Ox disibukan dengan pekerjaannya menjadi raja. Itu seharusnya berjalan baik baik saja karena memang sang raja memang terlihat sibuk sedari awal. Membuat Olive yang bahkan seorang istrinya hanya bisa berbicara mengenai mereka pada waktu waktu tertentu seperti waktu makan siang, sarapan, dan yang lain.


Setelah berbulan bulan pernikahan, Olive terlihat semakin cemas dan cemas setiap harinya. Ratu itu seakan pusing terhadap suatu hal. Yang membuat para pelayan kebingung menatapnya. Dia seperti berjalan mondar mandir, terdiam dan termenung.


Sebenarnya ia ingin berbicara soal hal yang ia cemaskan. Tetapi lihatlah, bahkan raja itu tidak menyadari ratu nya ini. Menatapnya dari pintu. Melihatnya yang tengah menulis di kertas kertas yang bertumpuk tebal dengan serius. Tentu siapa yang mau mengganggu seseorang yang tengah bekerja keras?


Akhirnya. Malam pun tiba. Setelah makan malam, keduanya ingin beristirahat dikamar. Dengan penuh kegugupan Olive menunggu Ox yang masih berada diluar kamar.


"Olive?"


Olive tersenyum begitu mendengar suara lelaki itu. dia menengok dan melihat sosok yang ia tunggu. Ox menatapnya dengan senyuman. Dia berjalan masuk. Mendekat kearah Olive. Dia menghela nafas lega begitu duduk dikasur empuk mereka. "Ah, lelahnya--"


Olive melihat wajah lelah Ox. Membuat ia tiba tiba ragu untuk menyanyakan hal tersebut. Dia menatap Ox. Akhirnya ia bertanya pada Ox. "Tuan?"


Ox menengok kearahnya. Olive berbicara pelan. "A-apa aku terlihat besar?"


Raja itu menaikan alis. Bingung dengan ucapan dari Olive. Dia berpikir sebentar, tunggu. Apakah ini pertanyaan menjebak untuknya? Ox memilih bertanya terlebih dahulu sebelum menjawab nya. "Maksudmu?"

__ADS_1


Olive mulai menatapnya gemas. Dia kembali berbicara. "Y-ya apa aku terlihat buncit?" Sekarang pertanyaan nya malah semakin membingungkan. Ox kini memperhatikan istrinya yang berdiri. Lalu berputar dihadapannya. "Apa aku terlihat buncit?"


Jelas terlihat tubuh kecil mipik Olive tidak berubah. Ox sepertinya tau ada sesuatu yang Olive pikirkan. "Apa sesuatu tengah terjadi?"


Olive menghela nafas. "Aku hanya bertanya tuan. Apa aku buncit?"


Akhirnya Ox memilih menggeleng. "Tentu tidak Olive. Ada apa denganmu?" Tanya Ox dengan jujur. Olive menampilkan wajah kecewa. Lalu duduk kembali dengan ekspresi lelah. "Kukira aku hamil."


"A-apa?" Sekarang Ox yang bertanya. Dia tiba tiba mengerjap tidak percaya. Ah, yang benar saja dia melupakan hal itu. Lelaki itu memeluk Olive dengan wajah terkejutnya. "Apa kamu pusing?"


"Tidak." Jawab Olive.


"Tidak."


"Demam?"


Olive jelas menggeleng. "Apa demam termaksud gejala itu tuanku?"

__ADS_1


Entahlah, sebenarnya yang mulia Ox memang belum mengetahui soal itu. Apa memang ia memiliki pengetahuan minim mengenai hal hal selain pekerjaannya?


"Besok. Kita tanyakan pada yang ahli nya ya?" Ox memutuskan hal tersebut. Itu membuat titik terang dari pembicaraan yang mengejutkan dimalam hari yang lelah ini. Olive mengangguk menyetujui. "Ya. Terima kasih sudah peduli pada ku tuan."


Ox tersenyum. Dia menatap istrinya dengan kekehan. "Apa kamu tidak bisa mengganti sebutan untuk ku dengan yang lain? Aku rasa itu kurang tepat sayang."


Olive memerah. "Seperti apa?"


"Sayang. Manis, Hone--" Olive semakin memerah mendengar sebutan sebutan itu. Dia cukup malu membayangkan dirinya mengatakan hal itu kepada yang ia cinta. Dia menggeleng. "Hentikan--"


Yang mulia Ox tertawa. Dia memeluk Olive hangat. "Ya ya maaf. Cukup sulit dilakukan untuk pemalu seperti mu."


"T-tuan!!!"


.


.

__ADS_1


.


tbc.


__ADS_2