Jadi Ratuku

Jadi Ratuku
Chap 41 - Kesedihan Magna


__ADS_3

Olive melihat anaknya berjalan tergesa dengan wajah kesal. Membuat Olive. Ibunya menatapnya khawatir. Dia segera menarik lengan raja Ox disamping nya. "Sayang, anak mu terlihat tidak baik baik saja."


Benar dugaanya. Magna memang lebih berbeda akhir akhir ini. Bukan hanya pendiam dan dingin, anak itu mulai menunjukan sikap marah dengan mudah karena apapun. Meski sebenarnya jika ditanya anak itu tidak menjawab. Hanya menyembunyikan rasa kesalnya dari dalam hatinya.


Ox menengok. Menatap Olive, wanita itu menunjuk kearah lantai atas. Dia menatap Ox cemas. "Magna terlihat marah. Aku harus menyusulnya."


Ia mengangguk. Olive memang ibu yang amat perhatian dengan anak anaknya. Dia tersenyum. "Ya. Tolong cari tahu kenapa ia marah sayang. Kita akan menyelesaikannya bersama."


Olive segera berjalan kearah kamar anaknya. Dia menaiki tangga dengan cepat, menyusulnya.


Sampai didepan pintu kamar anaknya ia mengetuk pintu dengan lembut. "Nak bisakah ibu masuk sayang?"

__ADS_1


Tak ada jawaban dari anak itu. Olive mulai berpikir mungkin saja anak itu ada ditempat lain. Tapi untuk memastikan akhirnya dia mencoba terus mengetuk pintu dihadapannya.


"Nak, bisakah kamu buka pintu nya?"


"Untuk apa ibu?" Seseorang bertanya dari ruangan itu. Olive mengetahui bahwa itu Magna. Ibu Olive tersenyum. "Hanya ingin memelukmu."


Beberapa saat kemudian pintu terbuka dengan Magna yang membuka pintu. Wajahnya terlihat sembab, Olive terkejut melihatnya. Dia segera memeluk anaknya. "Magna? Magna ada apa hm?"


Magna memeluk ibunya erat. Tapi tak bisa berbicara dengan apa yang ia rasakan. Dia terisak pelan. Hanya bisa terdiam dengan air matanya yang terus mengalir.


"Baiklah jika kamu belum mau bicara mengenai itu. Ayo, lebih baik istirahat." Ajak Olive dengan lembut. Anaknya mengangguk dan bergegas naik ketempat tidurnya. Dia tidur dengan menutup selimut diseluruh tubuhnya.

__ADS_1


Olive terkekeh. "Hei, bagaimana bisa kamu bernafas seperti itu Magna." tangan Olive manrik selimutnya turun hingga tak menutupi wajah. Dia menatap anaknya dengan perasaan hangat.


"Kau bisa menuangkan emosi mu dengan bercerita dengan orang lain. Mungkin hanya bercerita dengan ibu, boleh saja. Asal jangan memendamnya sayang. Jika kamu terus memendamnya maka itu akan menjadi buruk dikemudian hari."


Hening. Tak ada sekalipun jawaban dari Magna. Anak itu terdiam dengan mata lebar, menatap langi langit kamar. Entah dia mendengarkan atau tidak. Olive terkekeh. "Ah, jadi kamu hanya ingin diam? Baiklah biarkan ibu menemanimu."


Magna tersenyum perlahan, memeluk ibunya disamping tempat tidurnya dengan erat. Hatinya menghangat. Dia memejamkan mata dan akhirnya terlelap disiang hari.


Olive memperhatikan anaknya yang tertidur lelap. Dia akhirnya tidur siang, tak apa menurutnya. Kemungkinan anaknya itu akan membaik ketika bangun.


Dia menatap wajah tenang Magna. Mirip sekali dengan wajah Ox, Warna kulit, Bentuk wajahnya dan lain lain. Olive sedikit kecewa mengetahui anaknya malah mirip sepenuhnya oleh ayahnya bukan dirinya.

__ADS_1


Tapi Olive hanya Olive tersenyum dengan mengelus pipi Magna. "Ah, sayang sekaki. Tapi tidak apa apa. Kamu mirip Ox karena kamu anaknya ya?"


Magna sedikit terusik. Membuat Ibunya berhenti mengelus pipi anaknya. Beberapa saat setelahnya Magna kembali tertidur pulas. Olive kini membiarkannya tidur tenang. Dia bangkit dan pergi dari sana.


__ADS_2