
"Kamu dinyatakan kalah Julius."
Ucapan seorang raja Ardan ditolak mentah mentah oleh anaknya sendiri. Di sebuah pembicaraan bersama setelah pertarungan itu. Dia dengan emosi menggebrak meja dihadapan nya. Lalu menatap Ox dengan kesal. "Kamu menyalahi aturannya!"
Dia menunjuk raja Aurant diujung mejanya dengan jari telunjuknya sarkas. Yang lain membelak, terkejut dengan sikap tidak sopan pangeran itu. Sedangkan pihak kerajaan Lux menghela nafas lelah. Raja Ox menjawabnya dengan tenang. "Larangan apa?"
Julius menggeram. Dia tidak bisa berkutik mendengar pertanyaan dari Ox. Karena memang tidak ada peraturan yang seperti itu. Dia mendengus. kembali duduk dikursinya dengan menggerutu.
"Seharusnya jika kau tidak menggunakan sihir. Yang mulia tidak usah repot menggunakan kuda perang miliknya. Kau membuat semuanya memang tidak adil dari awal. Bagaimana bisa raja Aurant ini bisa melawan sihir kuat tanpa apapun." Ucap Seseorang disampingnya. Ternyata itu Johan sang kakak tertua. Menatap adiknya dengan tatapan lembutnya. Julius terdiam dan tidak menjawab.
"Tak apa Johan. Aku tidak masalah ia memakainya. Memang kekuatan bangsa kalian sungguh luar biasa hebat. Wajar jika Julius menggunakan nya dengan bangga. Kalian sangat beruntung memiliki sihir seperti ini di bangsa kalian." Ucap Raja Ox terus terang. Dia kini mencoba berdamai. dengan tidak menampilkan kesan kesalnya terhadap Julius.
Raja Ardan tersenyum, Johan membungkuk sopan. "Terima kasih Tuan. Aku sangat tersanjung dengan apa yang anda ucapkan mengenai bangsa kami."
Raja Ox mengangguk. Dia kini menengok kearah Raja kerajaan Lux. "Maaf soal kerajaanmu. Aku akan mengganti kerusakan nya."
__ADS_1
Dengan mendengar ucapan itu Raja Ardan menggeleng. "Tidak Ox. Ini setimpal dengan apa yang dilakukan anak ku. Kami mohon maaf sebesar besarnya untuk kerajaan Aurant. Anakku mencoba untuk merebut permaisurimu. Maaf sekali lagi."
Raja Ox mengangguk. Dia beranjak dari duduknya. Dan berpamitan untuk pulang ke kerajaan nya. Akhirnya perseturuan antar dua kerajaan berakhir. Keduanya berdamai.
Tapi apa memang benar benar berdamai?
...
"Yang mulia!!"
Olive berjalan cepat kearah Raja Ox. Dia menatap Ox dengan pandangan haru. Menatapnya dari atas hingga bawah.
Ox terkekeh. Kini dia mendekat kearah Olive yang terdiam hendak menangis. Dia berjongkok. "Hei, aku tidak apa apa tuan putri."
Ucapan itu membuat Olive tersenyum malu. Dia tersipu dengan wajah gembiranya. Yang lain terkekeh melihat pemandangan manis itu.
__ADS_1
Raja Ox memeluknya erat. Dia merasakan hangat dihatinya. Dia tersenyum. "Akhirnya semuanya selesai Olive. Aku akhirnya bisa menikahimu."
Olive memerah malu dan hanya terdiam. Dia mengangguk pelan dengan wajah memerah tomat. Putri itu memeluk erat lelaki dihadapan nya.
Raja Careuleum datang. Itu membuat pelukan itu terlepas karena Olive segera mendorongnya dan akhir nya mereka menjaga jarak. Ox menepuk jidatnya dan menghela nafas. Sementara Olive memerah malu, lalu menatap ayahnya dengan gugup. "E-eum ayah."
Raja Leuis hanya terkekeh menatap anaknya. Kini dia menengok kearah Raja Ox. Raja Ox membungkuk sopan. "Tuan. Bisakah kita berbicara?"
"Tentu saja Ox." Raja Leuis akhirnya mengajaknya kesebuah ruangan. Dia mengajaknya untuk berbicara mengenai pernikahan raja Ox dengan anaknya Putri Olive. Membicarakan kabar baik bagi Kerajaan Careuleum.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.