
"Julius!"
Raja Ox menatapnya murka. Pangeran yang tengah duduk tenang ditempat dikursi nyaman berdiri begitu kerah bajunya tertarik. Ox menatapnya tajam. "Aku tahu ini ulahmu Julius! Kembalikan Olive atau kau mencari perang untuk dua kerajaan!!"
Orang orang disekitarnya menatap mereka dalam diam. Suasana berjalan kacau begitu malam tiba. Seharusnya banyak yang masih berada didalam. Tetapi semuanya keluar dan terluka begitu waktu habis dan tiba tiba saja ruangan seperti terbolak balik. Membuat orang orang terlempar keluar istana.
Pangeran Julius yang berada disana hanya menghela nafas. "Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak memiliki maksud lain." Ucap Julius.
Raja Ox hendak kesal bukan main. Tetapi seseorang tiba tiba saja menariknya. Dia terkejut begitu mengetahui ada Putri Liust disini. "Liust? Apa kamu menemukan Olive?"
Liust berhenti dan menunjuk kedalam. "Disana terdapat Frederich dan Olive. Kau harus menemukannya. Harus atau kau akan kehilangan Permaisurimu!" tuturnya.
Raja Ox terkejut. Dia menghela nafas dan menengok kearah Pangeran itu. "Kau! Aku bersumpah memgambil Olive darimu. Jika kau mencoba bermain main denganku kau menyatakan perang padaku!"
Dia kembali masuk kdalam istana. Raja Ox yang sudah kesal karena pangeran itu mengaktifkan sihirnya. Dia menghantam sihirnya dengan ruangan. Menghasilkan ledakan yang menbuat ruangan itu hancur.
Raja Ox menggeram. "Kau tau sekarang bermain dengan siapa?!"
...
Frederich merasakan jantungnya berdetak kuat, pandangannya mengabur, dan kehilangan keseimbangan. Dia melihat kejadian sebelum dirinya seperti ini. Sihir itu mengenainya.
Dan sebelum itu ia melihat Pangeran Julius pergi dari sini. Dia hendak mengejarnya, namun rasanya ia tidak sanggup untuk berlari. 'A-apa ini?!'
Tangannya meraih bagian tembok, meja, semua hal yang dapat ia gunakan sebagai pegangan. Dia perlahan mencoba mengejar Pangeran itu yang telah tak terlihat. Dia memegang dadanya yang sesak. Meringis. 'Kurasa aku akan mati.'
__ADS_1
...
Raja Ox menghancurkan ruangan demi ruangan yang ada disana. Ditemani Liust dibelakangnya. Dia tengah mencoba merasakan apakah ada kekuatan sihir disana. Ia sebenarnya tidak tau ini akan berhasil. Tapi rasanya mustahil untuk yang memiliki sihir lemah seperti Olive dan Frederich.
Begitu sampai disalah satu ruangan. Dia menyadari bahwa ada kekuatan besar yang berada didalam ruangan tersebut. Liust menghentikan kegiatan raja itu. Ia berteriak. "Tunggu yang mulia!"
Raja Ox berhenti menghancurkan ruangan dihadapannya. Liust memegang gagang pintu. "Aku rasa seseorang didalam--"
"Frederich?!"
Raja Ox menatap terkejut Frederich yang tersengal dibawah. Dirinya terlihat hampir tak sadarkan diri dengan muka pucat. Raja Ox hendak segera menolongnya. Tetapi ada kekuatan yang membuat ia tidak bisa masuk. "Argh! Apa ini?"
Liust melihat aura yang menyerap aura Frederich. Aura itu sangat besar dan menyerap kekuatan siapa saja. Membuat aura Frederich yang semula lemah menjadi besar sehingga Raja Ox terlihat kesusahan masuk kesana. Kekuatannya hampir habis karena sihir yang ia gunakan terus menerus.
Raja ox tidak bisa mendekat karena aura itu. Dia mengertakkan gigi. "Khhk! Frederich bertahanlah!"
Raja ox tau sihir itu akan membunuh tangan kanannya begitu seluruh kekuatan milik Frederich terserap oleh aura yang masuk ditubuhnya. Dia berusaha untuk mendekat. Hingga tiba tiba seseorang masuk keruangan itu tanpa terpengaruh oleh hal apapun.
"Liust?!" Raja Ox melihat perempuan itu mendekat dengan mudah. Liust menunduk menatap Frederich yang tersengal dibawah sana. Matanya menatap tajam Frederich. "kamu.. Bukankah tangan kanan raja harus memiliki Sihir dan aura yang kuat?"
"Liust cukup bicara nya! Hentikan itu!" Ucap Raja Ox.
Liust berjongkok. Dia menaruh tangannya dileher milik Frederich, "Maaf ini sedikit mencekik."
WUSH!
__ADS_1
Aura kelam itu keluar dari tubuh Frederich dengan perlahan. Rasanya amat mencekik memang. Mata nya menatap sayu perempuan dihadapannya. Tangannya mencoba melepas cengkraman putri itu.
"Maaf. Aku tahu ini menyakitkan, tunggu sebentar." Ucap Liust. Frederich perlahan mengangguk. Dia memejamkan matanya sembari meringis. "Khhk.. Khhk.."
Wush--
Kekuatan itu menghilang terserap oleh kekuatan besar milik Liust. Liust menghela nafas, Frederich terbatuk setelah cekikan itu terlepas. Terlihat bekas memar merah dilehernya. Dari tangan si Putri Caeruleum.
Dia merasakan aura itu menenang dalam dirinya. Frederich menatap Liust dengan kebingungan. Merasakan sebuah hal asing dalam tubuhnya.
Seakan mengetahui apa yang ada dipikirannya Liust menatapnya. "Kau! Saking lemahnya auramu kamu cukup terpengaruh oleh sihir itu. Kamu bisa saja mati tertelan aura mu sendiri karena itu membuat auramu melebihi kapasitasmu."
Masih terdiam. Begitu juga Raja Ox, sepertinya dia tau apa maksudnya. Liust kembali berjongkok, lalu menghela nafas. "Lalu aku membagi auraku untuk mu. Agar auramu dapat menyingkirkan efek itu. Yah, maaf jika kamu tidak mengingkannya tapi aku rasa itu jalan terakhir."
Raja Ox menatapnya dengan mendengus. "Hei? Maksudnya kau membuat Frederich memiliki setengah auramu?"
"Ya benar. Kalau kau mau membagi aura mu silahkan saja. Tapi kamu masuk kesini saja tidak sanggup!" Ketus Liust. Raja Ox baru kali ini direndahkan. Dia melotot tapi tidak berusaha menjawab balik ucapan perempuan itu. Dia menepuk jidat. "Baiklah sudah cukup. Aku butuh mencari Olive. Ayolah."
Frederich terkejut. Dia mengingat suatu hal. "Ah! Tuan putri Olive berada dalam bahaya tuan! Dia sedang berada diperpustakaan istana ini! Juga pangeran Julius mencoba mencarinya."
Mendengar itu Ox menggeram. "Kurasa aku berbicara dengan sihir tadi. tch, saat ini kau berurusan dengan ku Julius!"
.
.
__ADS_1
tbc.