Jadi Ratuku

Jadi Ratuku
Chap 31 - Hari pernikahan


__ADS_3

Begitu mereka masuk kedalam istana. Para keluarga Olive menatap mereka berdua dengan cemas. Sepertinya Olive membuat keputusan untuk mengundur semuanya.


Semuanya terlihat khawatir. Terkecuali Ayahnya, ia mewajarkan sikap anaknya yang seperti itu karena Olive bukanlah orang yang main main dalam mengambil keputusan. Dia sudah bersiap mendengar ucapan anaknya. Bersiap menerima apa keputusan yang ia ambil.


Ox dan Olive terlihat saling bergandeng tangan. Tangan mungil itu terlihat pas di genggaman Raja Ox. Mereka semua menghela nafas lega. Begitu Olive menatap kearah mereka. Dia memerah malu. Ia menunduk. "Maaf aku membuat semuanya menjadi sulit."


Raja Leuis menatap anaknya penuh dengan kasih sayang. Dia mengangguk. "Tak apa sayang. Itu bukan apa apa."


Liust menatap mereka dengan senyuman sendu. Dalam hatinya ia bahagia dengan adiknya yang menikah. Tapi mengingat siapa yang tertua disini. Sudah jelas ia. Harusnya dirinya yang memiliki keluarga kecil terlebih dahulu.


Ibunya menatap anak tertuanya. Dia menghela nafas, menepuk nepuk bahu anaknya. Dia berbisik. "Tak apa nak. Kau tak perlu mengkhawatirkan banyak hal, tak ada yang melarangmu akan jadi seperti apa nanti. Ibu dan ayah akan mulai memahaminya."


Dengan ucapan ibunya. Liust hanya bisa mengangguk dengan senyuman lembut.


"Aku tak apa ibu."

__ADS_1


...


"Yang mulia Ox!"


Ox terkejut dan bangun dengan cepat tatkala mendengar suara dari seseorang yang memanggilnya. Dia membuka mata. Terlihat Frederich berdiri disamping kursinya. "Aku mohon maaf atas sikapku tadi tuan. anda yang menyuruh saya."


Raja Ox tertidur begitu tengah minum teh pagi. Dia sudah memakai pakaian pengantinnya. Tapi dia terlelap setelah sarapan dan minum teh sendiri pagi ini. Dia menghela nafas. "Yah mau bagaimana. Aku terlalu lelah mengurus semuanya dalam waktu singkat."


Frederich tersenyum. "Itu sangat berarti untuk keluarga Olive dan Olive sendiri tuan. Anda membuat mereka bahagia memiliki keluarga baru seperti anda."


Kekehan terdengar dari Raja Ox. Dia menatap keluar. Langit masih biru gelap. Dia menatap jam di dinding ruangan. Pukul 5 pagi. Tentu hanya orang orang yang mengurus hal hal ini yang sudah sibuk untuk hari indah ini.


Dia berjalan keluar dari ruangan itu. Diikuti dengan Frederich. Dia berjalan diantara lorong lorong istana. "Frederich. Sepertinya aku melupakan tempat dimana Olive akan berhias untuk pernikahan ini."


Frederich mengangguk. "Di ruangan setelah lorong ini tuan. Saya melihat Putri Olive sudah terbangun sedari tadi. Apa anda ingin aku menunjukan tempatnya?"

__ADS_1


Dia menggeleng. Ox terlihat berjalan berlawanan arah dari ruangan berhias Olive. "Aku akan melihatnya sempurna nanti. Aku tidak mungkin menggodanya sekarang Frederich."


"Ah, benar juga." Frederich mengangguk paham. Ox kini melihat seseorang perempuan yang mirip sekali dengan Olive. Dia tersenyum anggun ketika menatap raja Ox. Lalu melenggang pergi. Ox tersenyum. "Frederich?"


"Ah, ya tuan?"


"Kupikir kau cocok dengan putri ahli sihir itu." Ucapan Ox membuat Frederich salah tingkah. Dia berdeham, "Tuan tolong jangan mengambil kesimpulan semudah itu."


Ox terkekeh. "Ya sepertinya memang cocok. Dia si petarung kuat dengan anak lelaki yang hobi membaca buku. Ah, kau juga tidak kalah banding jika bertarung dengannya si--"


"Tuan. Tolong sudahi pembahasan ini. Maaf karena menyela." Frederich terlihat kesal. Meski tak bisa menyembunyikan rona itu. Ox dalam hati membatin. 'Hm, kalau begini aku tidak tahu yang laki laki itu Frederich atau Liust.'


.


.

__ADS_1


.


tbc.


__ADS_2