
Situasi berjalan panas. Raja Ox bisa saja langsung mengarahkan pedang kearah Julius yang berwajah sombong disana.
Meski begitu ia bisa saja tak puas hanya begitu saja membunuhnya,Tetapi raja Ox berusaha berkepala dingin dan tidak sembrono. Malah terlihat Liust yang lebih marah sekarang.
Dia tidak terima. Bagaimanapun dia adalah kakak Olive. Liust terlihat khawatir begitu adiknya tak sadarkan diri setelah mendengar bunyi yang keras. Liust memikirkan apakah Olive terlempar tadi. Kalau begitu adiknya pasti terluka. Kini dia menengok kearah Liust dengan kesal.
"Julius?! Aku tidak sudi kau melukai adik ku! Bahkan jika sekarang kau menyentuhnya tidak akan kubiarkan!" Liust menatapnya tajam. Dia mengeluarkan sihir miliknya.
Julius tersenyum miring. "Apa urusannya denganmu?"
"Aku kakaknya!"
"Oh! Kakak yang tidak memiliki tahta? kenapa kamu sebangga itu Liust. Bahkan adikmu sebentar lagi menjadi ratu bagi Ox. andai saja kalau dia tidak mati."
Liust terhenyak mendengarnya. Ucapan itu membuat relung dadanya sesak. Dia mendecih. "Kau tidak mengerti apapun Julius!"
Raja Ox merasakan denyut dari Olive. Dia memeluknya erat, calonnya hanya pingsan. Apa maksudnya Olive akan mati. Raja Ox itu mendengus. Bahkan permasalahan ini sudah besar sebelum ia ikut tidak terima oleh perkataan pangeran kecil itu. Akhirnya Ox Mencoba terdiam. Daripada harus terpancing amarh oleh pangeran egois itu.
__ADS_1
Berbeda dengan dirinya. Perempuan itu kehabisan rasa sabar. Raja Ox membelak begitu juga dengan frederich begitu merasakan auranya kembali membesar. Putri Liust melesat dengan cepat kearah pangeran Julius. Dengan amarahnya tentunya.
"Liust jangan--"
Sringg!!
Terdengar suara pedang saling menghantam. Mereka berkelahi dengan menggunakan pedang yang dilapisi sihir.
Terlihat luar biasa begitu mereka bertarung sengit. Meski Liust perempuan, putri itu bahkan tidak lepas dari kuda kuda kokohnya. Dia selalu menghantam pedang Julius dengan kuat. Suara pedang sangat terdengar dan bergema dilorong lorong yang kosong.
Ctang!!
"Kau pikir Keturunan Careuleum bisa membunuhku dengan mudah putri?" Tanya Julius. Amarah Liust kembali meledak dengan auranya yang semakin terasa kuat. Dia menebas dan menghantam pedangnya tanpa ampun. Percikan percikan sihir terlepas dari pedang. Begitu ia merasakan bahwa Julius melemah dari kekuatannya.
"Aku bisa membunuhmu Julius. Percayalah aku akan membuatmu mati ditanganku." Ucap Liust dengan tatapan tajam. Ucapan itu seakan sumpah dari putri kuat itu. Julius terdiam. Memilih fokus dengan apa yang ia lakukan
Liust tersenyum miring. Dia mendorongnya dengan kuat hingga membuat Julius hanya seperti menangkal pedangnya. Ia terus seperti itu hingga Julius tak dibiarkan menyerangnya. Julius mulai kewalahan.
__ADS_1
"Aku membencimu! Jika saja bukan karena kedamaian Careuleum dan Lux. Aku tidak sudi datang kemari! Aku akan diam diam membunuhmu!" Ucap Liust. Dia mendorong pedangnya. Julius terkejut dan terdorong. Begitu ia dengan kelalaiannya, Liust menendang kaki pangeran itu hingga ia terjatuh.
Bruk!!
Pedang milik Liust dengan cepat mengarah kearah Julius dibawah sana. Julius terengah dan otomatis terdiam melihat besi tajam itu hampir menyayat lehernya jika ia bergerak se senti saja. Liust menatap Julius dengan tatapan marahnya.
Mereka saling terdiam. Manik mata Liust mengarah kearahnya. Menatap tajam seakan hendak menusuknya. Keinginan ingin membunuh Julius sangat terlihat. Seakan ia hendak membuat Julius mati saat itu juga.
Julius menelan ludah. Dia terpaku. Liust menarik pedangnya yang tertancap dilantai kayu. Dia tersenyum miring, memperlihatkan kepuasan tersendiri. "Kau kalah pangeran kecil."
.
.
.
tbc.
__ADS_1