
Berita itu tersebar dipenjuru istana. Semuanya berbahagia mengetahi sang raja akan memiliki keturunan. Mereka mulai merayakannya dengan membersihkan hal hal lama. Seperti beberapa kamar yang tak terawat dan lebih membersihkan daerah daerah kastil.
Olive hanya tersenyum begitu para penghuni istana ini mengucapkan suka cita kepadanya. Disampingnya raja Ox ikut menemaninya. Ia cukup bahagia dan memilih untuk istirahat hari ini dari pekerjaanya meski saat ini ia sangat sibuk.
"Kau cukup jangan terlalu banyak berpikir. Mungkin kau hanya bisa hamil jika kau merasa bahagia dan tidak terlalu lelah." Saran raja Ox. Olive mengangguk mendengarnya. Mungkin setelah ini semuanya akan berjalan sesuai harapannya. Ia akan memiliki keluarga kecil untuknya dan raja Ox. Dia memerah.
"Aku mencintaimu." Ucap Olive dengan menatap raja Ox yang tengah menatap sekeliling istananya. Dia kini menengok kearah istrinya. "Kamu bilang sesuatu Olive?"
Olive menggeleng. "Tidak tuan." bohongnya.
Ox berpikir mungkin saja ia salah dengar. Olive terkekeh melihatnya.
Frederich baru terlihat siang hari. Membuat Ox bertanya tanya apa yang ia lakukan sehingga tak terlihat dikerajaan. Rupanya Frederich menghampiri sang tabib yang ahli dalam hal kandungan.
Dia dengan wajah gembira memberikan sebuah kertas gulungan kepadanya. "Tuan. Anda tahu bahwa Ratu Olive mengandung. Mungkin ini akan membantu, saya sarankan putri selalu menjaga makanannya, juga dia bisa menjaga emosinya dan pikiran--"
__ADS_1
Ucapan tanpa henti dari Frederich membuat Olive dan Ox terkekeh, mereka menatap tangan kanan Ox dengan menggeleng heran.
"Ya, Terima kasih untuk informasinya Frederich. Ya ampun rasanya yang semangat disini adalah dirimu." Ucap Sang raja kepada penasihat nya. Frederich terkejut mengetahui perilakunya yang berlebihan.
"Ah, maafkan aku tuan. Sungguh, maaf jika mengganggu." Maafnya. Ox mengangguk meqajarkan. "Bisakah aku simpan kertas itu?"
"Tentu saja yang mulia." Frederich memberikan kertas berisi informasi yang didapat Frederich. Ox tersenyum. "Terima kasih."
Frederich mengangguk hormat. Ia kini membungkuk sopan, lalu setelahnya meminta izin untuk pamit dari sana. Dia pergi dari hadapan raja Ox dan kembali bekerja.
"Ya. Kurasa dia penasihat yang paling terbaik didunia." Canda Ox. Mereka tertawa, Kini mereka memiliki jadwal mencari bahan bahan untuk Olive. Sembari menghabiskan waktu berdua seharian.
...
Hari telah berganti bulan, Olive merasakan kesedihan mengetahui dirinya sama sekali tidak menunjukan tanda tanda kehamilan. Membuatnya terus memikirkan nya dan menangis mengetahui hal yang ia lakukan sepertinya sia sia.
__ADS_1
Ox menghampirinya dengan menenangkan. Ratu itu tampak tersedu sedu sendirian dikamar. Ia terkadang mengunci pintu kamar mereka untuk menyendiri. Membuat Ox tak bebas menemuinya.
Dia memeluk lututnya. Tenggelam dalam kesedihan yang ia rasakan.
"A-apa yang membuatku seperti ini hiks."
Sedangkan Ox hanya menghela nafas dibalik pintu kamarnya. Dilorong lorong yang sepi, ia bisa mendengar suara Olive yang terisak. Membuat dirinya tak tega. Tapi lelaki itu pun tak bisa berbuat banyak untuk hal ini.
Perlahan Ox mengetuk pintu. Olive tak terdengar lagi isakannya. Dia tersenyum sendu. Meski dirinya mempunyai kunci kamar mereka, Tapi ia menghargai ratunya yang tengah bersedih didalam sana."Olive? Bisa buka pintu ini untukku?"
.
.
.
__ADS_1
tbc.