Jadi Ratuku

Jadi Ratuku
Chap 45 - Keputusan Magna


__ADS_3

"Nak, kau tahu kenapa ibumu menangis dan pergi dari sini?"


Magna terdiam. Dia menatap ayahnya dengan wajah sedih. Dia berpikir sebentar. "Eum k-karena Magna jahat?"


Ayahnya tersenyum. "Itu karena dia sedih mendengar anaknya sendiri membenci wajahnya."


Mereka saling terdiam. Perasaan bersalah kembali muncul dihati pangeran Magna. Dia terisak. "Ini kan wajahku ayah. Ibu tak harus sedih karena ini."


Disinilah Ox sebagai orang tua memberikan pelajaran pada anaknya. Dia menatap Magna dengan penuh kasih sayang. Berbicara lembut.


"Tapi-- begini, wajahmu itu mirip siapa Magna?" tanya Ox.


Pangeran Magna kebingungan. Dia menatap kearah cermin yang tak jauh dari mereka. Berada dihadapan mereka. Dia merenggut. "Tak ada yang mirip denganku. Hanya aku yang mempunyai bentuk ini." Ucap Magna. Menunjuk kearah bentuk yang sebenarnya adalah sebuah bekas luka.


"Kau mirip dengan ayah dan ibu Magna. Mata mu seperti ibu, tinggimu seperti ayah, kekuatanmu keturunan bangsa Careuleum. Kulitmu seperti ayah. Itu semua ada karena kamu anak kami. Kamu tidak seharusnya membencinya karena sama saja kamu membenci kami." Jelasnya.


Ox berbicara lembut. Anaknya kini menatapnya. Raja Ox itu alias ayahnya terlihat sangat berwibawa dimata anaknya sekarang. Membuat Magna tertegun. Dia memikirkan kalimatnya tadi. Pantas saja ibunya sedih.

__ADS_1


"Aku akan meminta maaf pada ibu ayah. Maaf ayah." Ucap Magna. Anaknya yang lugu itu terlihat sedih. Ox mengangguk.


Tapi saat ini hal yang membuat Magna bingung adalah tanda diwajahnya. Dia kebingung dengan hal itu. Apakah ini termaksud tanda lahir? Atau bekas luka? Sebenarnya Magna memikirkan ini adalah bentuk luka dari awal. Karena melihat bentuknya. Tidak mungkin ini adalah tanda lahir.


Jadi sebaiknya ia bertanya pada ibunya terlebih dahulu. Magna menatap ayahnya. "Ayah, aku akan menemui ibu."


Ayahnya mengangguk. Dia menepuk nepuk pelan kepala anaknya. Ia tersenyum bangga. Ternyata Magna juga bisa membuat keputusan yang baik. "Ah, pangeran ayah pintar."


Langkah kecil Magna menuju keluar ruangan. Tapi belum beberapa Langkah ia menengok kearah ayahnya dengan wajah gugup. Dia berhenti melangkah. "Eum ayah, apa ibu tidak benci aku setelah aku bicara seperti itu?"


Setelahnya Raja Ox tertawa. Dia menggeleng. "Maafkan aku nak. Aku hanya bercanda." Tawa ayahnya berhenti. ia pun ikut berdiri dan melangkah keluar. "Ibu akan memaafkan dirimu karena ibu menyayngimu. Magna."


Magna cemberut. Dia tetap masih ragu. Akhirnya Raja Ox mengajaknya bertemu ibu bersamanya. "Bagaimana jika aku menemanimu. Hanya sampai depan ruangan ya?"


Mendengar itu Magna segera mengangguk mengiyakan. "Iya ayah! Terima kasih karena mau membantu Magna!" Ucapnya dengan memeluk ayahnya erat.


Mereka berjalan keluar. Dilorong lorong mereka saling terdiam dengan pemikiran mereka masing masing. Magna menyusun kata kata untuk ibunya nanti di kepalanya. Dia mengaduh karena merasakan bahwa ia gugup.

__ADS_1


Sampai didepan pintu kamar Ox dan Olive Magna menatap ayahnya. Ini tempat dimana Ox akhirnya tidak menemaninya. Ibu nya pasti ada di dalam.


"Masuk. Ibu tengah bersedih didalam." Ujar raja Ox. Magna menghela nafas. Tangan kecilnya meraih kenop pintu lalu kembali menengok kearah ayahnya.


"Kau bisa nak." Kini Ox menyemangatinya. Magna mengangguk mengerti.


"Sebagai pangeran yang baik aku akan minta maaf pada ibu ayah." Magna tersenyum, lalu mengetuk pintu.


.


.


.


tbc.


...

__ADS_1


__ADS_2