
"Jika saja yang mulia Ox kalah. hampir sebagian daerah kerajaan Aurant dapat menjadi milik Kerajaan Lux."
Olive menatap gelisah kearah jendela. Matahari sudah tenggelam sedari tadi, tetapi dirinya belum menemui Raja Ox karena yang mulia terlihat sibuk sedari pagi.
Dia juga tak terlihat selama makan siang dan malam. Membuat putri itu risau. Sepulang mereka dari kerajaan Lux. Ternyata masalah dari julius dengan Raja Ox semakin menjadi.
Raja Ox sering berangkat ke kerajaan tetangga itu untuk membahas hal yang tak diketahui Olive. Dan begitu ia mengetahui apa yang dibicarakan hal itu menjadi kecemasan untuknya.
'Kenapa yang mulia belum keluar?' Batin Olive. Ia menghela nafas, lalu mengambil keputusan. Ia beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan untuk menemui sang raja.
Dilorong lorong yang sepi ia bisa mendengar suara orang berlatih disuatu ruangan. Suara pedang beradu kencang, hentakan kaki, pukulan berdebum. Olive berjalan mendekati pintu itu. Lalu mengintip.
Disana Raja Ox dengan peluh membanjiri tubuhnya berlatih pertarungan pedang. Dia dengan wajah menekuk terlihat tak bersahabat sekarang.
Krieet..
Olive tak sengaja membuka pintu. Dia menepuk jidatnya lalu dengan memerah menatap kearah orang orang yang baru sadar kehadiran si manis itu disana.
Ketika yang mulia melihatnya ia mencoba tersenyum. Meski dirinya terlihat menekuk alisnya dan membuat kerutan didahi. Ia mencoba menyunggingkan sebuah senyuman kepada calon permaisurinya. Olive menunduk. Dia mendekat.
__ADS_1
Para pendamping raja Ox ketika latihan pergi dari sana. Membuat Olive yang pemalu akhirnya dapat berbicara dengan Raja mereka. Ia menatap raja Ox. "B-bisakah kita berbicara?"
Ox mendekat. Dia mengelus surai putri manis itu dengan lembut. "Ya. Silahkan berbicara Olive. Apa ada sesuatu yang mengusik harimu?"
Olive melirik raja Ox dengan wajah gugup. Dia berbicara dengan hati hati. "E-eum anda terlihat sibuk akhir akhir ini yang mulia."
Ucapan itu membuat kekehan kecil dari Ox. Dia menatap Olive dengan tatapan hangat. "Apakah kamu merindukanku?"
Mata nya membelak. Olive memerah dan bergerak mundur untuk menjauhinya. Dia menggeleng kuat. "B-bukan maksudku seperti itu!"
Tangan raja Ox meraihnya kepelukan. Olive semakin memerah seperti kepiting rebus. Dia mencoba lepas dari pelukan itu. "H-hei! Kumohon l-lepas yang mulia--a-anda berkeringat!!"
Ox tersenyum miring. semakin memeluk erat si manis dihadapannya. dia tertawa. "Tidak buruk Olive. Keringatku tidak terlalu menyengat."
"O-oke aku serius yang mulia." Ucap Olive. Akhirnya pelukan itu terlepas, raja Ox terdiam dengan menunggu ucapan darinya.
Olive menelan ludah. Dia menghela nafas. "Yang mulia. Aku mendengar semua kabar itu."
Sekejap senyuman yang raja Ox pertahankan luntur. Dia mendengus dan menengok kearah lain. "Ya. Maaf jika aku mencoba menyembunyikannya Olive."
__ADS_1
"Tidak Yang mulia. S-seharusnya kau bilang kepadaku. K-kau mempertaruhkan suatu hal besar dengan diriku? Itu berlebihan." Olive kini mencoba berbicara lembut dihadapan Raja yang tengah marah. Ox menatapnya bingung.
Olive kembali melanjutkan. "A-aku bisa saja berbuat sesuatu untuk kedamaian ini Tuan. K-kau tidak perlu membawa ini terlalu seriu--"
"Dengan membuat dirimu menjadi miliknya? Dengan menyerahkan kebahagianmu dengan pangeran egois sembrono itu?" Sela Raja Ox. Membuat Olive terdiam dengan wajah sedih.
Raut wajah itu membuatnya menyesal telah berbicara kasar. Raja Ox mengelus pipinya. Dia mendekat dengan menatap dalam manik mata Olive. Ox tersenyum. "Maaf. Aku terlalu terbawa emosi sekarang."
Olive kini mengangguk mengerti. Dia menggengam tangan kekar milik yang mulia. Ia perlahan merona. Tersenyum lembut. "Terima kasih untuk itu."
Senyuman manis itu membuat yang mulia Ox tertegun. Dia memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merah. Dia terkejut karena jarang jarang Olive bersikap seperti perempuan itu mencintainya. Ox mencoba tersenyum. "Ah, ya. Itu karena aku mencintaimu Olive."
'O-oh.. Dia merona?' Olive jadi salah tingkah melihat Haizaki seperti ini. Sepertinya jarang sekali melihat Yang mulia gugup.
Akhirnya mereka saling terdiam dengan pembahasan masalah yang tiba tiba selesai.
.
.
__ADS_1
.
tbc.