
Ruangan lenggang. Penerangan yang minim membuat istana yang lenggang itu penuh dengan kesunyian. Frederich bisa mendengar langkahnya sendiri sedari tadi ketika ia berjalan. Dirinya sudah mencoba berjalan kesana dan kemari. Tapi sepertinya tak ada seorang pun tidak terkecuali Olive yang berada di istana ini. Sebenarnya ada apa?
"Putri!!"
Suara nya menggema disana. Frederich menatap arlojinya dengan cemas. Disana menunjukan pukul 8 lewat 15 menit. Membuat Frederich semakin berlari kencang dan bergerak semakin cepat.
Tap! Tap!
Frederich terdiam. Dia mendengar suara langkah yang bukan miliknya. Perasaan lega membuatnya bergegas menemukan langkah kaki itu.
Tap! Tap!
Ruangan dapur terlihat. Disana suara langkah kaki itu semakin terdengar. Dirinya dengan cepat membuka pintu kayu itu. Berharap Putri Olive yang ia temui, ia Lalu berteriak. "Putri Olive?!!"
Frederich terkejut. Ternyata yang ada disana adalah Pangeran Julius bukan putri Olive. Wajahnya menampilkan ekspresi bingung. Bagaimana bisa lelaki itu masih disini? Bukan kah dirinya yang membuat ini semua?
__ADS_1
"Tuan? Kenapa anda disini? Bukankah anda yang membuat permainan ini?" Tanya Frederich. Pangeran Julius ternyata sama terkejutnya. Dia menghela nafas dan terkekeh. "Ah, ya ampun ternyata selain Olive ada bangsawan lain yang lemah dalam sihir ya?"
Frederich menatapnya kesal. Ucapannya tadi termasuk menyinggung dirinya. Frederich tau ia hanyalah tangan kanan tanpa aura dan kekuatan yang besar. Tapi mengetahui pangeran itu mencela Olive dia sangat marah. "Maaf tuan. Apa maksudmu tuan?"
Julius menatapnya tajam. Dirinya mendekat kearah Frederich. "Kau. Lakukan apa yang ku mau atau Putri Olive mati karena mu?" Ucapnya. Dia memberikan pilihan begitu saja. Memabuat Frederich keheranan. Dia mulai waspada akan sesuatu. Sepertinya Pangeran itu merencanakan sesuatu.
"M-maksud anda apa tuan?" Frederich terdiam dengan wajah memucat. Dia memang paling lemah dalam urusan sihir. Meski ia adalah tangan kanan raja Ox tapi dirinya memang dipilih bukan karena kekuatan itu.
Pangeran itu mengeluarkan sebuah apel. Apel itu berwarna merah cerah. Terlihat sangat cantik dan bersih. Julius menatapnya datar. "Makan ini."
Apel itu menggelinding dimeja. Lalu berhenti tepat dihadapannya. Frederich menelan ludah, dia mengambil apel itu dari Julius. "T-tuan apa maksud anda--"
"Tuan maaf. Aku tidak akan membuat Putri Olive menjadi milikmu tuan." Ucap Frederich dengan jelas. Pangeran Julius menatapnya tajam.
"Jadi begitu ya?" Pangeran Julius mendekat kearahnya. Dia menarik pedang miliknya. Menatap Frederich kesal. "Memangnya kau siapa? Memang kau bisa melawanku?"
__ADS_1
Frederich mengangguk mantap. Dia mengambil pedang yang ada dibelakang jasnya. "Maaf tuan. Sihirku memang lemah. Tapi ketahui saja bahwa Kerajaan Aurant memiliki kekuatan dan pemain pedang luar biasa."
Ucapan itu membuat Pangeran Julius kesal. Dia kembali menaruh pedang miliknya, dia menatap tajam Frederich. "Cukup. Kau membuang waktuku."
Dia menjentikan jari. Muncul semacam sihir yang menampilkan bayangan Putri Olive disuatu tempat. Frederich menatapnya terkejut. "Itu ruangan perpustakaan. Ah saya harus segera kesana."
Ia hampir keluar dari ruangan itu. Tapi pintu tiba tiba terkunci. Julius berteriak. "Kau! Mati lah karena sihirku! Jangan halangi aku!!"
Sihir berbentuk panah muncul. Julius membuat panah dari sihirnya. Dia mengarahkan panah itu kearah Butler Raja Ox. "Diamlah dan mati disini."
Frederich menatapnya teekejut, Dia terhenti. Menatap kaget panah sihir itu.
.
.
__ADS_1
.
tbc.