Jadi Ratuku

Jadi Ratuku
Chap 37 - Tabib


__ADS_3

Terdengar suara gerbang istana Aurant terbuka. Sebuah kereta kuda masuk kedalam pekarangan istana. Kereta kuda itu membawa orang penting. Tabib yang ahli dalam masalah kandungan.


Ketika ia keluar dari kereta kuda, dengan cepat Ox mengantarnya kedalam kamar. ia menyambutnya hangat, tapi itu tidak lama. Mereka terlihat terburu, Disana Olive sudah menunggud engan perasaan gugup.


Dia tersenyum ramah. Mengetahui bahwa sambutan raja Ox benar benar istimewa meski hanya sebentar. Begitu dia masuk, terlihatlah Ratu Olive yang menatap Tabib dengan wajah sedih. Tabib tersenyum menyapa.


"Permisi nyonya Olive." Salamnya. Olive berdiri dari duduknya. Membungkuk sopan. Tabib itu masuk dengan Ox dan Frederich. Juga keluarganya Olive yang datang hari ini untuk melihat keadaan Olive.


Ibunya datang dan memeluk Olive. Dia tersenyum sendu, menggenggam tangan putrinya dengan lembut. Menghampiri anaknya dengan memberikan perhatiannya kepadanya. "Sayang tenanglah."


Tabib mendekat. Ia memeriksa Olive begitu Olive sudah tenang dari kecemasannya. Mereka yang memperhatikannya terdiam. Menatap dengan serius.


Tabib mencoba memeriksanya. Ketika itu, dia mengerutkan alis. Ratu Olive memang belum mengandung. Dia menatap Olive dengan tersenyum. "Kurasa memang belum saat nya nyonya. Tidak usah khawatir."


"T-tapi kenapa? Aku telah melakukan segala hal untuk anakku. Kenapa memang belum saatnya?" Tanya Olive dengan sedih. Tabib itu menggeleng. "Ya. Nyonya yang tenang. Jangan terlalu memaksakan pikiran anda. Jangan cemaskan hal ini karena memang nyonya baik baik saja."

__ADS_1


Ox menatap Olive dengan rasa sedih. Dia melihat sepertinya ratunya itu berjuang keras untuk hal ini. Dia menghela nafas dan melangkah kearah tabib. "Apa ada hal yang bisa kita lakukan agar Olive bisa secepatnya mengandung?"


raja Ox terlihat memohon kepada Tabib itu. Tapi sayangnya Tabib hanya menggeleng. "Memang itu maksud saya tuan. Memang belum saatnya."


Ucapan itu membuat kecewa Olive. Yang lain mengangguk mengerti, yah kalau begitu mau bagaimana lagi. Tapi Ox tidak menyerah begitu saja. Dia menatap Tabib dengan kesal. "Tapi pasti ada sesuatu yang dapat membuat ratuku merasa lebih baik tuan. Tolong katakan."


"Eum, mungkin tuan harus berusaha. Berpegang teguh satu sama lain. Juga percaya kepada satu dengan yang lainnya." Mendengar itu Ox merasa keheranan. Sepertinya mereka berdua telah melakukan segala hal.


Yah, sekarang suasana berjalan agak panas. Ox malah berkesan menuntut kepada ahli itu. Olive terdiam tak mengerti. "Tuan. Kita sudah melakukan segala hal untuk ini. Tolong tuan."


Ketika keadaan memanas, tabib tiba tiba berpikir suatu hal. Ia mengira ini penyebabnya. Dia berbicara hati hati karena takut menyinggung. "E-eum.. Maaf yang mulia jika ini mengganggu kalian. Saya tau bahwa kalian telah melakukan segala hal T-tapi yang aku ingin tahu adalah apa kalian sudah.."


Ox menatapnya bingung. Mendengar kalimat menggantung darinya. "Sudah apa tuan? "


Olive pun begitu. Dia menatap cemas Ox. "Sudah apa Ox? Apa maksudnya apa aku sudah merasakan mual? Belum--"

__ADS_1


"Bukan! Maksudku--" Dia mencoba menjelaskan. Tapi sepertinya tak ada kata kata yang keluar dari mulutnya. Keluarga dekat yang menyaksikan menepuk jidat. Mengetahui maksud dari Tabib.


Ox mendengus. Dia perlahan menghela nafas perlahan. Memejamkan mata mencoba berpikir apa maksudnya. 'Apa hey?! Apa aku nya saja yang tidak tegas? Atau memang kelihatannya aku belum siap jadi ayah? Ah! Menyebalkan!'


Frederich menelan ludah. Dia mendekat kearah yang mulia Ox. "Tuan."


Ox menengok. Mendapati Frederich disampingnya. "Ya?"


Frederich mendekat dan berbisik pelan. "Maksud si ahli. Apakah anda sudah.."


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2