Jadi Ratuku

Jadi Ratuku
Chap 42 - Magna yang sedih


__ADS_3

Suasana ramai masih terasa diistana Kerajaan Aurant. Mereka masih mengadakan pestanya. Kini lebih ke acara keluarga. Dimana pekerjaan sudah selesai dan para tamu bisa berbicara akrab seharian atau langsung pulang dihari terakhir mereka di acara ini.


Ratu Olive terlihat berbicara panjang lebar dengan para tamu nya. Dia tersenyum lembut. Sembari menepuk nepuk bahu anaknya dan memperkenalkan anaknya. "Ini Pangeran Magna. Anak pertama kami."


Pangeran Magna merona. Dia paling tidak bisa diperkenalkan pada orang lain seperti ini. Berbicara saja dia sudah sulit akibat tidak terbiasa berbicara banyak pada orang lain selain keluarganya dan seisi istana.


Para tamu beroh ria. Mereka menatap Magna yang terlihat tampan dengan pakaian formalnya. Mereka tersenyum terpesona. "Apa dia masih kecil?"


"Iya. Dia baru berusia 12 tahun." Mereka terkejut mendengar nya. "Ah, ya ampun wajahnya terlihat amat dewasa. Sikapnya juga mungkin."


"Ya. Aku kira dia sudah 17 tahun. Tinggi Magna juga seperti anakku yang berumur 17 nyonya." Ucap salah satu dari mereka.


Olive terkekeh. Dia menggeleng. "Tidak juga. Dia tetap seperti anak yang lain. Masih kecil dan polos misalnya." Yang lain tertawa mendengar ucapan Ratu Olive. Magna diam diam menggerutu. 'Ibu menertawakanku huh.'


Mereka kembali berbicara panjang. Mengenai hal apapun, membuat jenuh pangeran Magna yang duduk disana. Dia cukup tidak tertarik dengan bahasan yang mereka bicarakan. Dirinya menatap sekeliling dengan wajah datarnya. Sepertinya jika dikamar atau diruangan berlatih lebih seru.

__ADS_1


Dia beranjak pergi. Hendak langsung masuk kekamarnya, ibunya menatapnya. Magna meminta izin untuk pergi.


Awalnya ibunya melarangnya untuk pergi dari acara itu, tapi mengingat Magna lebih nyaman sendirian membuat Olive hanya menghela nafas mendengar nya. Dia akhirnya mengangguk mengiyakan.


"Ah, baiklah sayang."


Belum sempat dirinya berjalan, dia melihat suatu hal yang mengusik dirinya. Ia membelak. Melihat George nampak di dorong dorong oleh anak yang lebih besar dari anak itu. Magna mengepalkan tangan. Dengan cepat berlari kesana.


Dia segera membentengi adik kecilnya. George terkejut melihat kakaknya menghampirinya. Dia menggeleng. "Kakak, ini bukan apa apa."


Dia memucat. "A-aku hanya bermain dengannya!" Elaknya. Dia berusaha melawan tatapan tajam dari Magna. Tetapi dia semakin ketakutan. Magna mendekat kearah nya. "Berani beraninya melukai adik ku!"


Dia berjongkok. Lalu perlahan berkaca kaca. Magna hendak bicara panjang dengan wajah kesal. Hendak memarahi anak itu karena telah melukai perasaan adiknya, namun anak yang sepantaran dengannya tiba tiba menangis kencang.


"Huwa mengerikan, Takut!!!" Tangisnya pecah dan membuat orang orang menengok kearah mereka. Beberapa saat Ox dan Olive menghampiri mereka dan orang tua anak itu.

__ADS_1


" Ya ampun Hans?! Ada apa?!" Ibunya mengangkat anak itu kegendongannya. Dia menangis. "Pangeran Magna seram bu!"


Magna terkejut dengan ucapan itu. dia membeku. Terdiam membisu. Hatinya sesak, merasakan sedih yang amat sangat. Dia berkaca kaca. Olive mendekat kearahnya. Memeluk anaknya erat. Magna menatap kebawah dengan terdiam. 'Apa aku terlaku buruk dengan luka diwajah ini? apa aku terlihat seperti monster?'


"Magna? Hei manis?" Olive terlihat khawatir. Melihat wajah Magna yang berubah sendu, walau diselimuti amarah anak itu tiba tiba meneteskan matanya. Membuat banyak orang terkejut.


"Hiks-- maaf!" Magna melepas pelukan itu. Ia bergegas pergi dari sana dengan berlari menjauh. Menyibak kerumunan yang berada disana. Dia naik kelantai dua menuju kamarnya. Kembali menyendiri.


.


.


.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2