
Olive dan Ox mengingat masa lalu mereka pada malam hari. Mereka sama sekali tak merasakan kantuk. Sibuk bercerita seberapa mengerikannya kisah itu dulu dan seberapa berpengaruhnya kisah itu pada keluarga mereka.
Raja Ox menghela nafas. Dia mencium pucuk kepala istrinya. Tediam sebentar. Menatap langit malam yang teramat gelap, hanya saja sedikit terang begitu bulan telah tak tertutup oleh Awannya.
"Kalau bukan karenamu sayang, aku sudah tak memiliki kepercayaan diri lagi. Tanpamu. Aku tidak dapat berdiri kokoh dihadapan rakyatku." Ucap Ox setelah itu. Dia memeluk hangat Olive kedalam kepelukannya.
Olive tersenyum. Ia tak menjawab, hanya menggenggam tangan kekar itu dengan erat. Ox memegang telinganya yang pernah terluka. "Aku rasa saat itu. Aku merasa duniaku jatuh. Merasa bukan raja yang akan kuat menghadapi segalanya dengan percaya dirinya yang kurang. Mungkin jika rakyat mengetahuinya, mereka akan meragukan diriku sebagai raja."
Candaan Ox membuat Olive menatapnya dengan wajah cemberutnya. Dia menggeleng dengan cepat. "Tolong jangan berkata seperti itu Tuan."
"Maka dari itu Olive. Tanpamu, aku tidak bisa menghentikan rasa jatuhku ini." Kini Ox berkata serius. Menatap manik mata Olive dalam.
__ADS_1
Flashback
"Ah, ya ampun malang sekali.."
"Ini terjadi karena komplotan pengkhianat mencoba mengambil anaknya. Diketahui pangeran pertama memilki aura yang kuat sehingga ia menjadi incaran para pengkhianat untuk memperkuat kelompok itu. Kasihan sekali."
Raja Ox hanya menghela nafas dan kini mulai berwajah masam. Dia mendengus, berusaha untuk tidak mendengar ucapan orang lain. Mereka berbisik didekatnya, bahkan bisikan itu bisa terdengar meski Ox sudah tidak bisa mendengar jelas.
Begini begini dia masih bisa mendengar. Meski samar samar dan yang berfungsi tinggal satu telinga. Entah apa pikiran para bangsawan itu.
Ox menengok. Disampingnya ada istrinya tengah tersenyum manis. Menatapnya. Ia Menawarkan sesuatu. Ia menunjuk tempat jamuan minuman. "Mau minum sesuatu?"
__ADS_1
"Ya. Terima kasih Manis." Ucap yang mulia Ox. Dia mencubit pelan pipi Olive. Membuat perempuan itu memerah. Dia salah tingkah, senyumnya masih terpencar. Lalu meminta izin kepada Ox untuk pergi ke arah sana. Lalu ia berbalik pergi.
Ia kembali menatap rekan rekannya. Mereka tengah berbicara. Satu dua orang menatapnya. "Yang mulia? Apa yang terjadi?"
Para rekannya itu pasti mendengar desas desus tentangnya. Ox menggeleng.
"Panjang ceritanya. Hanya satu yang dapat kuberi tahu. Anakku ku hampir diculik." Ujar Ox dengan singkat. Terluhat jelas bahwa ia tak mau membahas itu. Dia menatap tajam kearah lain. Kekesalan nya terasa kembali. Pria berwibawa itu menatap tajam. Mengarah kesiapa saja. "Aku ingin memastikan apa mau mereka."
"Ah, anakmu memang mewarisi kekuatan dan aura yang kuat. Sungguh mungkin mereka hendak merebutnya untuk menjadikan petarung untuk kubu mereka." Ucap salah satu diantara mereka. Ox hanya menghela nafas kasar. Mendengar itu membuatnya tak terima. Hei! itu anaknya! main ambil saja! Seperti itu isi hatinya.
Begitu mereka berbincang dalam waktu yang lama, raja Ox menyadari bahwa istrinya tak terlihat dalam waktu yang lama. Padahal dirinya hanya berniat mengambil minuman bukan? Mungkin saja Olive berbincang dengan tamu lain.
__ADS_1
Ox menengok kesekitar untuk mengeceknya. Dia segera menengok kearah tempat jamuan tadi. Dan ia pun terkejut menemukan Olive tengah berlindung dibalik seseorang perempuan yang terlihat menghadang sosok laki laki dihadapan mereka. Raja Ox merasa tidak beres. Ia segera berjalan kearahnya.
"Olive, ada apa?"