Jadi Ratuku

Jadi Ratuku
Chap 39 - si Magna dan George


__ADS_3

Beberapa tahun setelahnya...


"Pangeran Magna!"


Seru seorang perempuan kecil dengan wajah berseri. Dia melangkah cepat keatas singgasana milik kerajaan Aurant. Disana terdapat lelaki sebayanya tengah terdiam dengan menatapnya.


Dia berjalan terlalu cepat, gaunnya yang lebar berwarna biru cerah itu nampak menyulitkan ia melangkah. Pangeran Magna yang melihatnya berinisiatif mendekat kearah nya.


Belum sempat ia sampai, tiba tiba sepatunya menginjak gaunnya sendiri, dia terkejut dan kehilangan keseimbangan. Dia hendak jatuh dari atas. Membuat Magna terkejut dan mencoba menangkapnya.


Huup!


Beruntung. Magna berhasil menggapai putri kecil itu. Dia menariknya kepelukan dengan cepat. Dia menatap putri kecil itu. "Kayle? Bisakah kamu hati hati?"


Wajah putri itu merona. Melihat wajah pangeran secara dekat. Bulu mata, warna mata hitam pekat, rahang yang tegas, membuat ia tak sanggup menyembunyikan rona yang semakin memerah. Dia mengangguk. "Maaf." ucapnya.


Pangeran Magna melepas pelukan itu. Dia terdiam, menunggu perempuan itu memberi tahu apa maksud darinya dengan memanggilnya.

__ADS_1


"E-eum aku ingin memberi pangeran ini." Ucap nya dengan senyuman. Dia memberikan sebuah bunga mawar dan sepucuk surat. Magna terdiam, mengangguk lalu mengambil pemberian itu darinya.


"Terima kasih kayle." Ucap Magna. Dia langsung berbalik pergi dari sana, meninggalkan ia tanpa sepatah lagi. Membuat sang putri kecil itu sedih.


Ternyata mereka diamati oleh seorang perempuan cantik dari ujung tangga sana. Dia tampak terkejut dengan apa yang dilakukan Pangeran kecilnya. Magna terlihat acuh tak acuh. Dia menghela nafas. "Magna?"


Pangeran Magna menengok kearahnya. Dia tersenyum kecil. Lalu bergegas menghamoiri perempuan itu. "Ya ibu?"


"Kamu tidak boleh mengacuhkan siapapun nak." Ucap ibunya. Dia memberi tahu anaknya dengan halus. Sembari mengelus surai hitamnya. Magna terlihat terdiam. Dia menunduk, ibunya menghela nafas, sepertinya anak ini tidak mau mendengar nasihat lagi.


"Kamu bisa ikut makan malam bersama malam ini?" Ucap ibunya. Akhirnya ia mencoba mengganti topik yang mereka bicarakan. Magna menatapnya. Dia mengangguk singkat. "Baik bu."


Dia pergi dari hadapan ibunya. Ibunya menatapnya menjauh, sejenak ada kekhawatiran dimata ibunya, melihat Pangeran Magna yang harus nya seperti anak lain. Yang suka bermain, tertawa riang, dan banyak lagi.


Tapi dikatanya kini sosok pangeran Magna adalah pangeran kuat, pendiam dan jarang bersosialisasi dengan yang lain. Membuatnya khawatir dan terus memikirkan anak itu.


Saking lamanya mengamati anaknya. Sosok sang raja terlihat mendekatinya. Dia tersenyum, lalu menggenggam tangan perempuan itu. "Olive, Kenapa kamu melamun hm?"

__ADS_1


Pertanyaan itu membuyarkan lamunannya. Dia menengok kearah Raja Ox. Tersenyum lembut. "Aku hanya memperhatikan Magna. Dia-- terlihat lebih pendiam akhir akhir ini."


"Bukankah anak kita itu memang pendiam?" Canda Ox. Membuat ekspresi Olive yang menatapnya lembut kini berubah menjadi menekuk. "M-mo! bukan itu maksudku tuan!"


Ox terkekeh. Dia mencium kening istrinya dengan cepat. Lalu menatapnya dalam. Dia berbicara serius. "Ya. Aku tahu apa maksudmu, jangan terlalu khawatir akan hal itu Olive. Pangeran kita sudah dewasa untuk yang satu ini."


Sejenak ada perasaan khawatir yang masih timbul dihatinya. Olive menunduk sedih, apakah benar tak apa?


Yang mulia Ox menghela nafasnya, dia mengangguk mengerti melihat ekspresi dari istrinya. "Ya ya kau bisa berbicara padanya nanti sayang."


"Memang itu yang akan kulakukan nanti Tuan." Ucap Olive. Dia pergi begitu saja dari hadapan Ox. Membuat Ox terkejut. "Ya ampun kemana sikap wanita lembut yang dulu sekali? Ah!" Ucapnya lucu. Dia menggerutu.


"Hm, sebenarnya masih lembut. Hanya saja sikapnya jadi berubah tegas untuk anak anaknya." Pikirnya. Dia berlalu pergi dari sana.


.


.

__ADS_1


.


tbc.


__ADS_2