
Keesokan harinya, pangeran Magna memilih untuk menghabiskan waktunya ditempat pelatihan pedang. Dirinya memilih berlatih ketimbang harus mengikuti kegiatan kegiatan yang dilakukan bersama yang lainnya. Dia yang tak terlalu menyukai keramaian hanya menatapnya dari balik jendela. Menatap perjamuan yang dilakukan ayahnya untuk para tamunya.
Dia tidak berlatih keras, hanya sibuk mengayun ayunkan pedang kayu yang ia genggam. Mencengkramnya kuat lalu mengayunkannya dari kanan kekiri, dari atas kebawah dan masih banyak lagi.
Rasa sepi terasa menguasai ruangan berlatih, bahkan dengan heningnya ia dapat merasakan suara nafasnya yang memburu, serta detak jantung yang meningkat.
"Kakak!!"
Dan seketika teriakan membahana seornag anak kecil mengacaukan keheningan itu dan merusak konsentrasinya. Magna menghela nafas, lalu menatap seseorang yang datang. "George? Bukankah kau harus mengetuk pintu sebelum masuk?"
Terlihat sosok pangeran kecil yang berjalan cepat kearahnya. Dia tersenyum manis. Pangeran yang lucu itu menatapnya dengan senang. "Kakak ayo main bersamaku."
Mendengar itu Magna menaruh pedang kayu miliknya. Karena ia paling tidak bisa menolak permintaan adiknya. Dia mengangguk, lalu menggengam tangan adiknya. Bergandengan.
"Yeay! Kakak ayo main dibelakang istana. Itu menyenangkan." Ucap Geoege dengan lucu. Ia kini menyebutkan permainan apa saja yang bisa dimainkan. Seperti istana pasir, pedang pedangan, bermain lari larian dan menaiki kuda.
__ADS_1
Diam diam seulas senyum hadir diwajah Magna. dia menghangat merasakan sosok kecil itu yang senantiasa bersamanya. Tidak melihat ia yang memang pendiam, atau dingin. Anak itu terlalu polos dan lugu. Hingga tak menyadari betapa tak menyenangkan nya Magna ini.
Apa itu hanya perasaan Magna saja?
'Aku memang membosankan sih.' Kekehnya dalam hati.
Mereka tiba di taman belakang. Pangeran Magna menatap George dengan bingung. Dia melihat banyak anak anak lain yang sepantaran dengan George bermain disana. Magna menatap adiknya. "Disana banyak orang bermain George, kenapa kau memanggilku?"
Pertanyaan itu membuat George bersedih. Dia menunduk dengan perasaan bersalah. "Maaf. Aku hanya ingin main dengan kakak sekarang."
"Ayo main! Istana pasir kekuarangan dua orang!" Ucap salah satu diantara mereka, dengan bersemangat ia menunjuk ketempat istana pasir yang biasa hanya dimainkan dengan George dan Magna seorang.
George tersenyum. "Ya. Boleh saja, Kakak ayo." Ajaknya
Sayangnya karena melihat keramaian itu terpaksa Magna menolak. "maaf George aku tidak bisa bermain sekarang." Ucapnya. Dia sebenarnya tak tega menolak. Hanya saja banyak anak kecil lain yang bisa bermain dengannya disini. Jadi dia memilih tidak ikut bermain.
__ADS_1
Ketika tengah terdiam disana, beberapa anak menatap magna dengan terkagum kagum lalu ikut mendekat dengan menyimak. Salah satu dari mereka menunjuk kearah pangeran. Dengan polos ia bertanya. "Pangeran. Darimana bekas luka itu?"
Magna terkejut, dia mundur dan menatap anak anak itu dengan raut wajah datar. Dia mengepalkan tangan. Tapi dirinya tak bisa bicara satu kata pun. Dia menghela nafas. "Maaf. Aku tidak tahu."
Fakta. Sebenarnya Magna memang tidak mengetahui asal muasal luka ini. Luka diwajahnya yang terlihat jelas, membekas layaknya ingatan yang penting. Magna bukan tak menyukainya, hanya ia bertanya Tanya. Apa maksud dari luka ini?
Dia berbalik dengan cepat. Meninggalkan mereka, George menatap punggungnya menjauh. Dia mengangguk mengerti, lalu menengok kearah teman temannya. "Ayo semua main."
.
.
.
tbc.
__ADS_1