
Magna berteriak kesal. "Aku membenci wajah ini!!!"
Ox terkejut tak percaya mendengar ucapan anaknya. Bukan hanya dirinya mungkin, melihat ekspresi wajah Olive disana. Ia tau. Bahwa ia sama tak percaya.
George tak terlihat disini dan itu lebih baik daripada ia harus melihat kakaknya marah dan berbicara kurang baik. Olive melangkah mundur. Perempuan manis itu terisak. "Maaf. Ibu keluar sebentar ya."
Olive pergi karena sepertinya Magna sedang tak mau mendengar ibunya. Itu membuat kemarahan didalam diri Ox. Tapi ia kebingungan dengan siapa ia harus marah.
Ox terkejut melihat pemandangan itu. Olive pergi dari sana tanpa melihat kearahnya sedari tadi. Dia sesak melihat keluarga nya dalam masalah seperti ini.
Dia mendekat kearah Pangeran Magna. Ox menatapnya anaknya yang terlihat kacau. Wajahnya sembab, dia menangis tersendat dengan wajah merah padam. Ox berjongkok. Menatap anaknya yang menunduk.
Dia mencoba berbicara kembali pada anaknya dengan lembut sama seperti yang Olive lakukan. Karena sedari tadi ia mencoba tegas anaknya terlihat semakin menjadi. Dia menghela nafas.
"Magna?"
Dia terdiam dengan sesenggukan. Membuat hati Ox teriris. Sekali lagi ia mencoba bebicara dengannya. "Katakan. Apa yang ada dipikiranmu saat ini Magna."
__ADS_1
Kini dia mendekat dan memeluk anaknya. Magna terlihat enggan tetapi akhirnya ia berhasil memeluk anaknya. Ox tersenyum menunggu jawaban dari Magna.
"Ayah t-tidak mengerti-hiks." Ucapnya parau. Ox menggeleng. Dia tersenyum dengan mengelus surai anaknya lembut. "Bicara pada ayah nak. Pangeran tidak harus menanggung segalanya sendirian."
"T-tapi ayah tidak mengerti!!" Kini dia berteriak. Lalu tangisnya kembali pecah dan mencoba mendorong ayahnya, melepas pelukan darinya.
Ox menahan nafas. Melihat anaknya yang semakin menjadi karenanya. Dia menghela nafas lalu menggendong anaknya.
Magna terlihat kesal. Dia mencoba turun dari gendongan itu. Dia menggeram dengan wajah memerah padam karena amarah. "A-ayah!!"
Ox menatapnya dengan tatapan datar. Mencoba membuat anaknya gentar dan takut padanya. Itu membuat Magna tertegun dan tak berani berbicara apalagi marah. Ox menghela nafas dan mengusap air mata milik Magna.
"Ayo duduk. Kita bicarakan dengan baik." Ajaknya. Magna lebih dulu berjalan ketempat tidurnya dan duduk dipinggirnya. Ox tersenyum dan mengikuti langkah kecil anak itu.
Mereka akhirnya duduk bersebelahan ditempat tidur milik Magna. Ayahnya menggenggam tangan mungil milik Magna. Mengelusnya hangat. Dia menghela nafas. "Nak, kau tahu kenapa ibumu menangis dan pergi dari sini?"
Anak itu menampilkan wajah menyesalnya. "A-aku rasa ibu membenciku sekarang. Magna terlalu kasar berteriak tadi." Uapnya pelan. Ox terkekeh, anak itu benar benar langsung menyadari kesalahannya begitu emosinya mereda.
__ADS_1
"Tapi itu karena Magna terlihat menyeramkan dan banyak yang takut karena Magna berwajah seram. Padahal diwajahku hanya eum entah ini luka atau tanda lahirku. Apa ini terlihat menyeramkan ayah?" Tanya Magna.
Mendengar itu Ox mengingat masa lalunya. Dia tahu dari mana luka itu berasal. Tapi dia tak sanggup bicara pada Magna. Anak dihadapan nya bisa saja membencinya karena wajah Magna yang terluka akibat kelalaiannya.
Bisakah ia berbicara?
Ox menghela nafas dan memeluknya. "Maafkan Ayah nak." Akhirnya Ox hanya bisa mengatakan maaf pada anaknya. Magna mengangguk, mungkin ia mengira ayahnya bicara mengenai hal tadi.
raja Ox menatap pangeran Magna. "Jadi bisakah kamu menjawab nya. Tentang pertanyaan ayah tadi?"
"Kau tahu kenapa ibumu menangis dan pergi dari sini?"
.
.
.
__ADS_1
tbc.