
Raja Ox mengusap lehernya yang terasa berat. Dirinya sudah berjam jam menatap kertas kertas penting yang berada dimeja nya. Malam pun sudah larut, membuat dirinya merasakan lelah yang sebenarnya.
Sepi. Istana sudah terisi oleh lampu lampu remang. Bahkan lorong lorong kerajaan diisi oleh cahaya bulan dari luar sana. Membuat kesunyian dan kegelapan terasa. Raja Ox berjalan santai disana.
Dia terdiam. Menatap pintu yang tertutup rapat. Ruangan itu sudah gelap menandakan bahwa orang yang berada didalam sana sudah tertidur nyenyak. Raja Ox tersenyum. Memilih untuk membiarkan orang yang berada disana tidur.
Yap. Dia berdiri didepan kamar Olive. Sebenarnya hanya sementara. Karena sebentar lagi mereka akan bersama. Eh, itu pun harapannya. Tapi Raja Ox sangat yakin akan itu. Dia pasti bisa meminang perempuan manis yang baru ia temui beberapa bulan lalu.
Semenjak raja Leuis menyuruh anaknya dikerajaan Aurant untuk sementara, mereka yang memiliki kepentingan terpaksa pulang pergi dari kerajaan ini. Ya, Raja Ox tidak mempermasalahkannya. Karena sebentar lagi Aurant dan Careuleum akan menjadi saudara kerajaan.
"Yang mulia?"
Raja Ox terkejut mendengar suara kecil itu. Dia segera menengok kesumber suara. Disana Olive menatapnya dengan tatapan bingung. "Apa yang anda lakukan larut malam seperti ini?"
Kekehan terdengar. Raja Ox baru menyadari keberadaan putri itu karena sibuk melamun. Dia tersenyum. Dia menatap manik mata indah milik Olive. "Tidak. Hanya merindukan mu."
__ADS_1
Ucapan itu membuat rona merah merambat dari wajah putih Olive. Rona itu samar samar terlihat olehnya. Karena lorong lorong hanya diisi cahaya bulan dan lampu lentera. Olive berdeham mencoba untuk tidak terlihat salah tingkah dan bersikap biasa saja. "Benarkah?"
"Ya benar. Aku memang memikirkan mu." Ucap Raja Ox dengan santai. Olive menggeleng, dia mencoba untuk mencari percakapan lain daripada harus terlihat salah tingkah. "E-eum aku di undang oleh Pangeran Julius untuk datang ke pesta dansa yang mulia."
Mendengar itu membuat Raja Ox membelak. Dia mendekat kearah Olive, menatapnya serius. "Maksudmu kamu berdansa dengannya?"
"T-tentu tidak jika aku memiliki pasangan." Ucap Olive. Dia menunduk dengan wajah memerah. Menatap lantai marmer yang dingin. "Eum hanya saja aku tidak menyukai nya. B-bisakah kamu jadi pasangan ku?"
Tentu saja Raja Ox menerima ajakan itu. Dia menggenggam tangan Olive. "Aku dengan senang hati menerimanya Olive."
Raja Ox mulai kebingungan dengan pemikiran Putri dihadapannya. Dia bingung akan apa yang ia bicarakan sekarang. Apakah kata katanya bermaksud memberi tanda bahwa ia bisa saja dilamar sekarang juga?
Kini ia berlutut. Menatap putri Olive dengan tatapan lembut. "Jadi.. Bisakah aku menjadi pasanganmu Olive? Aku tidak akan mengecewakanmu."
Olive masih ragu dengan hal ini. Sehingga membuat Raja Ox bersabar untuk membuatnya mengerti. Dia terkekeh. "Lebih baik seperti ini Olive. Banyak bangsawan yang bisa saja melukaimu. Seperti saat itu."
__ADS_1
Mengingat hal itu membuat Putri Caeruleum cemas mendengarnya. Kenyataan bahwa ia memang belum mengetahui siapa dan apa maksud orang yang menculiknya kala itu. "Jadi apa itu ulah bangsawan?"
Tentu saja itu masih dugaan menurut Raja Ox. Diam diam lelaki itu terus mencari dan mencoba menemukan siapa sebenarnya dalang penculikan calon permaisuri nya. Sayangnya semua itu belum terbongkar.
Raja Ox menghela nafas. Itu juga salahnya. Mengapa ia harus melenyapkan semua yang menjadi lawannya kala itu. Dia menggeleng. "Aku masih mencari tahu hal itu Olive, tapi tenang saja kau bersama ku sekarang."
'Terima kasih..' Olive tersenyum kecil. Tanpa sadar cinta itu mulai tumbuh dihatinya. Menyadari rasanya menggelitik. Seperti kupu kupu berterbangan dalam dirinya. Lelaki tampan itu mulai membuat Putri pemalu itu jatuh cinta. Tanpa ia sadari.
.
.
.
tbc.
__ADS_1