
"Putri.. Dimana kamu Putri?"
Frederich menggigit bibir cemas mengetahui bahwa Putri Olive sama sekali belum ditemukan oleh siapapun. Dia berjalan diantara lorong lorong dan masuk kedalam banyak ruangan hanya untuk mencari Putri Olive yang tersesat dikerajaan Penuh kekuatan sihir ini.
"Frederich!" Mendengar suara tidak asing itu dia langsung menampilkan wajah sumringah. Dirinya langsung menengok kearah suara tersebut. Mengharapkan bahwa suara itu berasal dari Putri Olive. "Putri syukurla--"
Kini dia kecewa. Lantaran yang memanggilnya adalah Liust. Kakak dari Putri Olive. Dia menghela nafas, lalu mendekat kearah putri Careuleum. "Putri Liust. apa anda menemukan dimana Putri Olive?" Tanya Frederich dengan khawatir.
Liust menggeleng lemah. Dia kini melihat arloji kecil digaunnya. Jam menunjukan pukul 7 malam. Semua orang sudah keluar kecuali Olive. Dia menghela nafas, lalu mencoba mencari cara untuk masalah ini. "Lebih baik kita bicarakan ini pada Raja Ox."
Tentu saja itu akan memakan waktu lama. Itu pikir Frederich ketika mendengar saran nya. Dia menggeleng. "Ah, begini saja Putri Liust. Kita berpencar. Anda bisa bicara pada Raja Ox diluar istana dan aku akan terus mencari putri."
__ADS_1
Liust menatapnya dengan tajam. "Bodoh! Kau pikir kau tau dimana tempatnya?! Dasar! Bagaimana kau mengetahui dimana dia tanpa sihir yang kuat Frederich?!" Ucapnya. Membuat Frederich tertegun, dia mulai takut dengan Liust karena Putri itu terlihat galak.
Frederich menunduk dengan wajah memerah. Menyadari bahwa Liust menolak mentah mentah saran Frederich. "Ah, maaf putri t-tapi maaf kan saya jika lancang. Jika saya yang mencoba keluar maka saya juga tidak bisa menemui Raja Ox. Saya pun lemah dalam sihir."
Liust menepuk jidatnya. "Ah, benar juga."
Mereka terdiam. Memikirkan bagaimana cara agar bisa keluar dari sini beserta Putri Olive. Jarum jam berdentang keras. Frederich membelak. "Sekarang pukul 8 malam Tuan Putri! Maafkan saya. Saya harus bergegas menemukan nya!"
Tangan kanan raja Aurant itu segera pergi meninggalkan Liust yang berada disana. Liust menatapnya dengan terkejut, ia kesal lantaran apa yang ia bilang tak digubris. Punggung laki laki itu perlahan menghilang dari penglihatannya. Dia mendecih.
Ia merasakan banyak aura diluar sana. Menandakan ia sudah menemukan pintu tempat dimana semua orang yang mengikuti permainan telah selesai. Dia mendecih karena harus buru buru di keramaian yang merepotkan. Didalam situasi genting, ada orang yang menjadi dalangnya.
__ADS_1
Dia tiba tiba mengingat ucapan dari Julius. Yang membuatnya naik pitam. Dia mendengus.
'Sebelum pukul 9. Semua harus bisa keluar, jika tidak orang itu akan menjadi permaisuriku. Tidak perduli laki laki atau perempuan.' Ujar Julius.
Putri Liust sangat kesal mendengar ucapan Julius tadi. Dia menggeram marah. Jika saja dia bukan seorang pangeran dari kerajaanny, bisa saja Liust membunuhnya. Orang dengan kekuatan melakukan hal semena mena memang pantas mati.
'Dia sengaja melakukan ini! Dia sengaja membuat peraturan seperti itu karena mengetahui bahwa Olive yang akan terjebak disini?!! Demi apapun jika Olive menjadi permaisurimu aku tidak akan rela dan akan membunuhmu demi adik ku!'
.
.
__ADS_1
.
Tbc.