
Kedua orang itu kini duduk di sebuah kursi taman. Mereka saling bersebelahan. Sembari terdiam lama menatap taman yang dipenuhi bunga bunga dihadapan mereka.
Keheningan yang lama itu terpecah oleh suara Raja Ox. Dia tersenyum, kini menengok kearah Olive. Bertanya lembut. "Apa yang mau kita bicarakan hm?"
Putri Olive balik menengok kearahnya. Dia menghela nafas, lalu berbicara kearah Ox. "Yang mulia. Apakah kita sudah cukup dekat sekarang?" Tanya Olive.
Dia mengangguk. Ox berpikir sudah beberapa bulan mereka saling mengenal. Mereka cepat mengenal satu sama lain bahkan berteman baik dengan keluarga. Belum semuanya. Tetapi dia sudah cukup mengenal perempuan dihadapan nya.
Olive menghela nafas. "A-apa kamu tahu bahwa aku dulu nya hampir dijodohkan dengannya?"
Senyuman pudar dari yang mulia Ox. Wajah penuh kekhawatiran muncul. Dia melupakan satu hal itu. Dalam hatinya ia mencoba menebak. "Siapa Olive?"
"Julius. Dia dulu adalah pilihan ayahku karena kita sering bertemu. Tapi ayah menghentikan perjodohan itu setelah kamu bicara mau mendekatiku tuan." Ucap Olive. Dia beralih menggenggam tangan Tuan Ox. Dia menunduk.
"A-aku mencoba menjauhinya. Tapi apakah aku bisa dibilang seorang yang melampiaskan hal itu kepadamu? A-aku tidak bisa bicara maksudnya apa. Aku pun bingung bagaimana memberitahumu."
Ox terdiam. Dia menatap kearah taman kembali. Sebelum menjawab pertanyaan darinya, ia terkekeh. "Olive. Aku jadi ingat bagaimana waktu itu pertama kali bertemu denganmu."
__ADS_1
'Apa maksudnya?'
Olive memandang wajah lelaki itu yang kini berubah lucu. Dia seperti berusaha keras mengingat sesuatu. Entah, sejak kapan suasana kini berubah menjadi lebih tenang. Mencair walau tadi sempat berubah canggung.
"Ah, aku mengingatnya. Kau yang berbicara acuh tak acuh kepadaku ketika di taman." Ucap raja Ox. Olive membelak. Dia secara singkat langsung memerah. Layaknya kepiting rebus. "A-apa seperti itu?!"
Ox tertawa. "Ya seperti itu. Ah, mengingat betapa dingin nya kamu waktu itu. Aku beruntung berpikir untuk mendekatimu dan mengenalmu lebih dekat."
Olive menggigit bibir. Menatap malu raja Ox. "Apa berbeda?"
Senyuman lembut terlihat. Ox mengelus surai milik Olive. "Ya. Yang aku lihat sekarang adalah putri manis yang pemalu dan mudah memerah karena sesuatu."
"Ya. Itu sangat manis. Setidaknya kamu berubah menjadi lebih bersahabat dan mencoba menerima diriku untuk mencoba dekat."
Olive menghela nafas. Ah, dia mengingat hal yang tadi. Kenapa seakan Ox mau melupakan percakapan yang serius ini?
"Tuan. Tolong kembali ke masalah yang tadi." Ucap Olive. Ox mencoba meyakinkannya. "Hei, dengarkan aku Olive. Apa maksudnya pelampiasan? Selama aku mencoba dekat tak ada hal hal yang membuatku terpikirkan orang lain. Kamu tidak pernah bicara tentang teman mu. Kamu tidak bicara perihal siapapun kecuali keluargamu."
__ADS_1
Ox menatapnya. "Aku serius Olive. Kita sudah dapat bersama jika itu pilihan. Kamu tidak perlu merasa bimbang seperti ini."
"T-tapi jika aku memang menjadikanmu alasan menjauh--"
"Tidak mungkin. Aku tau kamu mencintaiku juga Olive. " Ucap Ox dengan yakin. Olive memerah. Dia terlihat masih bimbang dan ragu ragu. Membuat Ox tersenyum. "Olive?"
Olive kini menengok kearahnya. Raja Ox menatapnya dalam. "Aku mencintaimu."
Meski sudah mendengar beberapa kali. Olive tak bisa menahan rona yang timbul diwajahnya. Olive tiba tiba merasakan dia memantapkan pilihannya. Dirinya tak lagi bimbang ataupun ragu.
Satu kalimat yang perlahan muncul dari mulutnya. Membuat Raja Ox bernafas lega. Dengan suara kecil dia berbicara. "Aku juga t-tuan."'
"Aku mencintaimu."
.
.
__ADS_1
.
tbc.