Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 10. Cilaka


__ADS_3

"Yang jelas kalo bicara, Ravi!" Bentakku mulai panik karena takut kalau sampai wanita gebetanku juga menjadi gebetan cucuku. Apa kata dunia kalau mengetahui sepasang cucu dan anak menyukai janda yang sama. Tak dibayangkan bagaimana gemparnya dunia persilatan, maksudku dunia kami berdua yang masih sama-sama dalam satu keluarga tapi mencintai perempuan yang sama.


"Emang kenapa sih, Kek? Kok malah jadi panik kayak gitu?" tanya Ravi semakin membuatku merasa gugup.


Yaah ini cucu emang kurang di didik empatinya, ciri-ciri yang dia sebutin sama persis malahan dengan cewek gebetan ku. 


"Dia bekerja atau ibu rumah tangga?" tanyaku menyelidik bukannya malah menjawab pertanyaan cucuku.


Jangan sampai dia keluar dari rumah ini aku belum tau siapa yang diincarnya. Tidak mungkin Saraswati, kan? 


Mereka berdua mana bisa akur, Saras kan killer, jangankan Ravi yang kocar-kacir, aku yang berstatus pemilik tunggal aja bisa di bikin mules kalau wanita itu sudah marah. 

__ADS_1


Aku pernah melakukan kesalahan dengan menggunakan uang perusahaan untuk perjalanan bisnis, tapi aku gunakan untuk membayar fasilitas mewah dan sedikit bersenang-senang di klub malam. Saat audit Saras mengetahui penyelewengan uang yang aku lakukan, tidak banyak sih hanya seratus jutaan lah kira-kira tapi murkanya GMku membuat perutku langsung terkena diare selama dua hari. 


Dalam hitungan tiga jam saja, wanita itu minta aku mengembalikan uang yang dipakai. Padahal aku ini merupakan pemilik perusahaan tapi tetap saja mengambil apa pun uang dari manajer keuangan mesti mendapatkan ijin darinya. Bahkan aku sampai terpaksa menggadaikan jam tangan mewah ku di bagian keuangan sebagai jaminan. Secara logika itu kan perusahaan milikku dan semua keuntungan yang didapatkan otomatis adalah uang ku, laah kok dia yang ngamuk. Tapi itulah yang aku salut dengan wanita yang namanya Saraswati. Tidak peduli siapa pun yang melakukan kesalahan maka dia tak pernah pandang bulu, akan tetap disikat habis sampai ke akarnya jika bersalah.


Hahaha, mengingat garangnya Saras, aku yakin Ravi tidak akan mampu mendekatinya. apalagi merusak rumah tangga GM killer itu, bisa di kubur hidup-hidup dia.


"Dia wanita karir, dan prestasinya luar biasa, sosok yang lembut tapi berhati baja," lanjut cucuku menceritakan sosok calon istri yang ingin dinikahinya.


Fix bukan Saras, karena Saras kan nggak ada lembut-lembutnya. Tapi siapa? Aku makin senewen dibuatnya. 


"Hadeehh kakek tua jangan galak-galak gitu dong, mana ada wanita yang mau sama cowok cemen, dikit-dikit ngancam ciih nggak keren banget nih Kakek!" serunya bernada ketus penuh cemooh.

__ADS_1


Ini cucu lama-lama aku masukin ke botol juga nih. Aku sudah mengorbankan waktu kencanku, eeh dia malah ngajakin main tebak-tebakan. 


"Apa jabatannya di perusahaan tempatnya bekerja?" tanyaku dengan tidak menghiraukan ejekannya. 


"GM, tapi dia bukan orang sembarangan Kek, dia itu kesayangan bos nya karena emang prestasi nya hebat sih," sahutnya lagi.


Aduh, bisa gawat ini, GM dari perusahaan kompetitor ku juga kesayangan bosnya. Oh my Honey … jangan sampai kau termakan rayuan cucu ku ya, ingat aku lebih kaya dari Ravi dan cucuku hanya akan menjadi kaya raya kalau aku mati nanti. 


"Kek, satu hal yang harus kakek tau, merebut istri orang itu lebih menantang dibandingkan bersaing untuk memenangkan sebuah tender besar," lanjutnya lagi dengan santai bahkan menaik turunkan kedua alisnya. 


Ya Tuhan … cilaka dua belas ini cucuku, makin hebat aja sesatnya. Entah dari mana dia belajar semakin tak jelas seperti ini. Apa jangan-jangan ini bukan Ravi cucu kandungku? Atau dia cucuku yang sedang kerasukan roh halus saat berada di Surabaya? 

__ADS_1


Sepertinya aku harus memanggil ustadz untuk meruqyah nya. Biar segala jin yang sedang melekat pada tubuh Ravi bisa segera pergi.


   


__ADS_2