
Raju tersenyum dan berdiri, tangannya mengambil tangan istrinya, dengan lembut dia merangkul pundak Sofie dan berjalan menuju ruang keluarga.
“Sofie, apakah kamu sudah siap untuk mengandung anak-anak kita?” tanya Raju dengan sorot mata menyelidik. Mereka duduk di sofa besar yang menghadap ke televisi layar datar berukuran besar.
“Ya, aku sudah siap, aku merasa hubungan kita sudah sangat baik, oleh karena itu aku menginginkan kehadiran anak-anak di rumah kita. Jadilah ayah yang baik untuk anak-anak kita, apa kamu mau berjanji, Sayang?” tanya Sofie dengan tatapan mendamba.
Raju merasa ada yang aneh dengan sikap Sofie yang tiba-tiba saja berubah, selama ini istrinya itu sangat menolak ketika Raju membahas tentang anak, tapi saat dia membahas tentang rencana mengembangkan pasar ke Indonesia, Sofie langsung mengajukan syarat seperti ini.
“Ya, hidupku akan aku buktikan untuk membesarkan dan mendidik mereka. Usia kita sudah tidak muda lagi Sofie, apa yang ingin kita cari selain kebahagiaan. Mendengarkan tangisan dan rengekan malaikat-malaikat kecil itu lalu melihat tumbuh kembang mereka, itu menjadi impian ku saat ini. Aku bahagia kamu sudah mau merubah pikiranmu,” jawab Raju panjang lebar, sungguh hatinya menghangat mendengarkan permintaan Sofie.
__ADS_1
Pria tampan dengan perawakan sempurna tanpa cela itu memang merasa kesepian, pernikahannya dengan Saras belum sempat meneguk manisnya madu malam pertama, padahal sebelumnya sudah sangat dia rencanakan akan memiliki banyak anak bersama wanita tangguh itu. Tapi semuanya buyar karena kehadiran Sofie, perjalanan demi perjalanan dia jalani dengan terus belajar untuk ikhlas. Sampai pada akhirnya Raju membahas tentang anak kepada Sofie, tanggapan Sofie di luar perkiraan Raju selama ini.
Sofie menolak memiliki anak dengan alasan nanti tubuhnya jadi melar dan dia akan kehilangan waktu-waktunya bersama Raju. Namun sekarang semua berubah karena Sofie sendiri yang meminta dirinya dihamili hahaha.
Sofie yang mendapatkan kalimat manis dari Raju langsung menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan pria perkasa itu, tangannya melingkar ke tubuh pria yang menjadi candunya selama ini. Rasa bahagia menjalari seluruh hati Sofie, dia merasa tenang karena dengan anak maka dia akan bisa mengikat raju selamanya. Dirinya tidak perlu takut lagi jika sampai ada suatu saat nanti seorang pelakor memasuki rumah tangganya karena rajut tetap akan menjadi miliknya!
“Sayang, aku sangat mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku, ya! Aku tidak akan pernah sanggup untuk menerima semua itu jika sampai kau pergi ninggalin aku,” cicit Sofie dalam pelukan tubuh Raju yang kekar berotot.
“Sudah-sudah, jangan berpikir macam-macam lagi. Kamu sudah memilikiku kenapa sekarang kamu malah takut seperti ini? Aku hanya meminta satu hal padamu, jangan pernah berdusta walau hanya tentang hal kecil dalam rumah tangga kita. Apa kamu bisa berjanji padaku, Sofie?” tanya Raju dengan makna yang sangat dalam.
__ADS_1
‘Aku hanya tidak ingin hal serupa saat masih berumah tangga dengan Saraswati jadi hancur, semuanya karena ketidakjujuran ku padanya hingga aku terjerumus dan termakan rayuanmu!’ lanjutnya di dalam hati.
Ingin sekali rasanya Raju kembali pada sang mantan istri tetapi apakah hidupnya nanti masih bisa sebaik sekarang? Lagian dirinya tidak akan bisa dengan mudah untuk sekedar mengajak bicara seorang Saraswati yang sekarang sudah terlihat sangat jauh berbeda. Apa mungkin dia masih bisa menjangkau Perempuan yang sekarang semakin terlihat cantik itu, jika ada lelaki jauh lebih gagah berdiri di sampingnya?
Sofie tertegun sesaat dengan kalimat yang mengandung makna dari suaminya itu. Pelukannya merenggang dan kepalanya terangkat, kedua mata mereka saling mengunci satu sama lain. Pria itu hanya tidak ingin jika sampai Sofie melakukan sesuatu di belakangnya, apalagi dirinya sagat tau sifat asli dari sang istri selama ini yang juga sering melakukan gonta ganti lelaki di atas ranjang.
Dirinya tidak ingin jika suatu saat nanti Sofie hamil tetapi bukan benih yang dirinya semai. Raju bukan orang soleh sebagai seorang suami sewaktu hidup singkat bersama Saras, tapi paling tidak dirinya ingin mengubah hidupnya jadi lebih baik, bertanggung jawab bukan hanya sekedar main di atas ranjang. Mungkin sudah saatnya seorang rajut belajar untuk mencintai istrinya.
“Sayang … apa maksudmu bertanya seperti itu? Apa kau curiga padaku? Apa kau juga akan curiga jika suatu saat nanti aku hamil? Jika kau masih curiga maka aku akan sangat kecewa, karena sejak kita menikah aku juga sudah berubah!”
__ADS_1