Janda Killer Naik Pangkat

Janda Killer Naik Pangkat
Bab 32. Ingin Punya Bayi


__ADS_3

Pov author


Di tempat lain. Raju sibuk berkutat dengan pekerjaannya, setelah sekian lama dia belajar keras untuk menjadi seorang pemimpin, kini dia sudah mulai mandiri. Sejak pernikahannya dengan Sofie, Raju hijrah ke negeri seberang, dengan posisi nya sebagai CEO, membuat penampilan Raju semakin prima. 


Pria tampan itu mendapatkan posisi CEO atas permintaan Sofie kepada ayahnya dan disetujui oleh para pemegang saham, kerana saham papanya Sofie mayoritas. Raju kini sudah bertransformasi menjadi pria dengan kehidupan yang mapan dan mampu menunjang ketampanan dirinya, tubuh kekarnya tampak terawat dan barang-barang branded selalu menyempurnakan penampilannya setiap saat. 


Bekerja siang malam terkadang membuat Raju lelah, tapi beberapa bulan belakangan ini pria itu mulai menikmati pilihan hidupnya. Sofie yang melihat perubahan itu semakin senang dan tidak pernah sedikitpun melepaskan Raju dari pandangannya. 


Kegilaan Sofie untuk urusan ranjang masih menjadi agenda tetap bagi Raju, yang sekarang sudah sangat bisa mengimbangi pertempuran di medan empuk itu. Hal ini juga yang nampaknya membuat Raju bisa melupakan Saraswati pelan tapi pasti, semua ini membuat dirinya bisa menepati janjinya kepada Sofie. 


"Sofie, aku dengar Surya semakin betah tinggal di Indonesia, apa kamu sudah ada mencari kabar tentang dia?" tanya Raju saat mereka sedang makan malam. Sofie yang dengan sabar mengambilkan nasi beserta lauk pauknya sesaat menoleh ke arah sang suami.


"Aku juga dengar itu dari mama, tapi aku tak minat untuk tanyakan perihal dia di sana, biarlah … toh dia sudah dewasa. Lagian itu perusahaan dia sendiri kok. Perusahaan itu dirintisnya mulai dari nol, loh … namun masih tetap masuk kedalam Jansi corp karena dia malas urus dokumennya. Tapi aku bangga dengan adikku yang bisa membuktikan kepada keluarga bahwa dia mampu menciptakan sebuah produk dan sekarang sudah mulai menguasai pasaran.” 

__ADS_1


Sofie begitu bersemangat saat sedari tadi menjelaskan tentang sepak terjang adik semata wayangnya yang sangat membanggakan dirinya dan juga keluarga. 


Raju merasa tercubit hatinya dengan cara Sofie yang membanggakan Surya, seakan dirinya kecil di mata istrinya itu. Walau pun sebenarnya memang Raju sangatlah kecil dan tidak berarti apa-apa di mata keluarga besar istrinya karena memang pria itu hanya mampu menjadi seorang benalu dengan melakukan segala perintah yang diajukan istrinya.


Pasangan suami istri itu tetap melanjutkan acara makan malam dengan tenang dan sesekali Sofie mengambilkan lauk ke piring Raju. Wanita itu merasa sangat bangga setelah menjadi seorang pelakor tetapi dirinyalah yang menjadi pemenang hati seorang Raju, walau di awal-awal lelaki itu terkadang nampak sekali terpaksa melayaninya. Apa sih yang tidak bisa dilakukan selagi uang berada dalam genggaman? 


“Ya kamu benar, Sofie. Aku berpikir untuk masuk ke pasar indonesia juga untuk produk kopi kemasan kita. Bagaimana menurutmu?” tanya Raju setelah mengakui keberhasilan Surya walau hanya dengan kalimat singkat. 


Di dalam hati sebenarnya Raju merasa sangat kesal karena sang istri bisa saja suatu saat akan membanding-bandingkan kesuksesan Surya dengan dirinya yang hanya mampu menerima perintah sebelum mendapatkan jabatan yang indah. 


Raju memicingkan mata dan menatap lekat ke sepasang netra bermanik hitam kelam milik Sofie. Pria tampan yang sangat di gilai oleh Sofie itu menarik nafasnya dalam, sepertinya dia sedang memikirkan tentang ide yang tadi dia ucapkan. 


“Sofie, aku ingin menunjukkan kepada kedua orang tuamu bahwa aku juga memiliki kemampuan yang dapat kalian banggakan. Aku sadar siapa aku di mata kalian, oleh karena itu tolong berikan kesempatan untuk membuat diriku berarti.” Raju berucap sendu, Sofie menggamit tangan suaminya, wanita cantik berwajah artis Bollywood itu tersenyum dan berusaha menyalurkan kekuatan melalui genggaman tangannya. 

__ADS_1


Sofie selalu bisa membuat mood Raju kembali baik dan bersemangat, wanita itu memang memiliki keahlian merayu sang suami agar selalu merasa dibutuhkan, walau jauh di dalam lubuk hatinya, wanita itu mencibir kemampuan seorang Raju. Wanita itu hanya terpaksa menerima pernikahan demi kepercayaan budaya dan paksaan kedua orang tuanya. Keluarganya harus tetap jaya lewat kecocokan pernikahan dirinya dan Raju yang akan membuat keluarganya akan semakin besar nantinya.


“Sayang, jangan pernah berkata seperti itu lagi, berpikiran pun tak boleh, kamu adalah separuh hidupku. Kamu tetap suami terbaik untukku, latar belakang mu tidaklah penting untuk kami. Bahkan aku bangga karena sejauh ini kamu sudah menunjukkan kemampuanmu dalam menjalankan perusahaan. Papa dan mamaku juga merasa bangga padamu, itu yang aku tau,” balas Sofie dengan lembut dan senyum yang terlihat tulus. 


Raju melihat ketulusan di mata istrinya, pria tampan itu tersenyum dan menncium punggung tangan Sofie. Mereka berdua menyelesaikan makan malam dengan candaan-candaan ringan yang meramaikan suasana meja makan nan sepi. 


“Lalu bagaimana? Apakah kamu setuju kalau aku masuk pasar Indonesia?” tanya Raju kembali, pria itu masih berharap mendapatkan restu dari sang istri yang mau tak mau harus diajaknya diskusi. 


“Hmmm aku ingin punya bayi dari mu, Sayang … jadikan bayi dulu baru kita kembangkan produk kopi kemasan ke pasar Indonesia,” jawab Sofie mantap. 


Sofie bukan wanita bodoh yang bisa diperdaya, dia tidak ingin kehilangan Raju, jika suatu hari nanti suaminya bertemu Saraswati, bisa saja cinta itu bersemi kembali. Tentu saja dirinya harus bisa mengikat sang suami agar tak bisa terlepas sedikit pun dari hidupnya.


Raju tersenyum dan berdiri, tangannya mengambil tangan istrinya, dengan lembut dia merangkul pundak Sofie dan berjalan menuju ruang keluarga. 

__ADS_1


“Sofie, apakah kamu sudah siap untuk mengandung anak-anak kita?”


__ADS_2