
Jangan lupa beri dukungan novel ini dengan like, komen dan vote ya. Happy reading dan terima kasih.
Pov Nugroho
Aku melihat Ravi yang sedari tadi sedikit bingung, entah apa yang bocah ini sedang pikirkan, padahal aku sudah siap untuk menjadi pendengar yang baik untuknya. Tentu saja aku harus mendukung segala hal yang positif darinya, apa lagi menurut Cokro dirinya saat ini sudah mengurangi aktifitas negatifnya.
Aku juga tidak tau siapa yang membuat cucuku berubah jadi seperti manusia sebenarnya, apa mungkin Saras yang telah mengubah cucuku jadi orang yang lebih bertanggung jawab seperti ini? Ah, Saras memang selalu jadi yang terbaik.
“Kek, aku mau merebut istri orang!”
__ADS_1
Aku ternganga sempurna mendengar ucapannya, bahkan mataku refleks melotot bulat saat mendengar pengakuannya, kesambet demit mana cucuku ini?
“WHAt THE F***!!!” Suaraku langsung lantang seketika merasa tak percaya dengan perkataannya barusan.
Dia tampak dengan sengaja menutup kupingnya yang mungkin terasa memekakkan gendang telinga siapa saja saat suaraku memekik keras. Suara menggelegar dari rahangku membuat jantung ini juga ikut berdetak jadi lebih cepat.
Suara serak tua ini langsung pecah, ingin rasanya aku guling-guling di rumput dan memaki habis-habisan cucu durj^ana ini. Atau mungkin lebih baik jiwa tua ini gantung diri di tiang listrik daripada menanggung malu dosa perbuatan ahli warisku sendiri.
“Kek, jangan histeris gitu napa? Aku tidak melakukan kesalahan sama sekali kok, Kek. Justru aku sedang berjalan di titik paling benar selama hidup ini loh!” jawabnya tanpa merasa berdosa.
__ADS_1
Titik paling benar bagaiman di matanya? Sejak kapan merebut istri orang menjadi hal yang benar? Ya Tuhan … apa cucuku menjadi bod^oh karena selalu ku paksa untuk memimpin perusahaan jamu yang sama sekali tidak disukainya? Ravi memang sejak dulu hanya suka bermusik tapi aku tak pernah setuju, karena musik tak pernah bisa membuat orang jadi kaya, itulah pendapatku.
Namun, kalau sampai gara-gara paksaan ku Ravi menjadi tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, maka sebaiknya biarlah nanti perusahaan jamu itu ku serahkan pada Saras saja, dia tidak mungkin menyalah gunakan kepercayaanku.
“Apa kamu bilang barusan? Paling benar KUENTUTMU!! Percumah kakek sekolahkan kamu jauh-jauh sampai ke luar negeri! Kalau tau kamu hanya jadi begajulan ngerampok bini orang begini … sekalian aja kakek kirim kamu sekolah ke luar angkasa! Biar jadi makanan alien di sana! YA ROBBI!! … kenapa cucuku tambah gend^eng setelah pulang dari Surabaya?”
Aku meraung frustasi dengan kedua tangan menjambak rambut ubanku yang baru saja aku semir hitam kinclong ini saat mendengar cucu yang ingin ku angkat jadi pewaris seluruh harta kekayaanku, ternyata sedang berusaha merusak nama baik keluarga yang selalu terjaga selama ini. Tidak … ini tak benar dan tak boleh terjadi, aku harus menyadarkan cucuku satu-satunya dari perbuatan yang amat memalukan ini.
“Ravi, cucuku sayang, kamu mungkin saat ini tidak sadar sedang melakukan kesalahan, tapi kakek yakin itu hanya cinta sesaat. Anggaplah perasaan yang sedang ada dalam dirimu hanya mimpi disiang bolong dan kala terbangun langsung lupakan, seperti lagu dangdut cinta satu malam, oh indahnya, cinta satu malam buatku melayang.”
__ADS_1