
Aku harus berusaha sebatas kemampuan untuk membuat suasana yang tercipta, bisa menjadi jauh lebih romantis, Aku tidak akan pernah putus asa dalam melancarkan aksi, walau pun sepertinya harapan itu sangat sulit untuk diraih tapi aku harus percaya diri kalau tak ada yang namanya mustahil di dalam hidup ini asalkan mau berusaha.
“Anda mau panggil Saras saja, saya juga tidak akan keberatan kok, tapi jika saya harus memanggil dengan panggilan lain kepada anda … sepertinya saya sungguh merasa tidak pantas, Pak. Biarlah saya tetap seperti ini, dan kita akan tetap bisa berteman sampai kapan pun.” Wanita itu menatapku dengan datar.
Jawaban yang sangat diplomatis, meluncur begitu saja dari bibirnya yang terlihat begitu menggoda malam ini, tapi juga mampu membuat hidupku rasanya langsung terkulai lemah ‘hanya teman?’, kata itu membuatku bingung harus berkata apalagi.
Bahkan untuk meminta hal yang sangat mudah begini saja, dia tidak mau bengubah pendirian, apalagi memintanya untuk menjadi ibu dari anak-anakku? Ngenes bener nasibku.
Makanan yang kami pesan pun akhirnya datang, membuatku muka ini sedikit terselamatkan.
“Silakan dinikmati Mas … Mbak, semoga menu restoran kami memuaskan selera anda berdua,” ucap pelayan restoran dengan ramah selaras senyumnya.
Dengan adanya ajakan untuk segera makan karena ini juga sudah masuk waktu jam makan malamnya Saras, kami pun akhirnya menikmati hidangan yang sudah tersaji. Tidak hanya dalam bekerja wanita itu tepat waktu, tapi urusan makan pun biasanya dia tidak mau terlambat.
__ADS_1
Saras, aku semakin jatuh cinta kepadamu, andai si Ravi bisa melihat kelebihanmu yang tidak semua wanita memilikinya, pasti dia juga akan memintamu untuk menjadi istrinya.
“Ekhem, Saras, maaf apakah aku boleh bertanya sesuatu yang sifatnya sedikit pribadi?” tanyaku dengan hati-hati.
Aku berani berkata karena memang makanan utamaku sudah habis, tinggal tersisa makanan penutup yang membuatku punya kesempatan untuk mengungkapkan isi hati yang sedari tadi ingin sekali aku lontarkan.
“Ya silahkan aja, Pak. Jika saya bisa menjawab maka akan saya jawab, tapi jika hal itu tidak bisa saya jawab … saya harap Anda jangan pernah kecewa dengan jawaban yang diberikan. Terkadang ada beberapa hal pribadi yang bisa saya bagi kepada orang lain, tapi juga banyak hal pribadi yang hanya saya bagi cukup hanya Tuhan yang mengetahuinya. Saya harap Anda memahami prinsip saya ini.”
Wanita ini sungguh membuatku gemas setengah mati, dia sungguh janda killer, aku yang biasanya bisa berdebat sengit di pengadilan, kini seakan kehilangan kata-kata bahkan kehilangan suara rasanya.
Pertanyaan konyol itu membuatku malu ketika menyadari mulut lemes ini berkata-kata.
“Trauma tidak ada sih, karena saya percaya Allah memberikan kesempatan untuk saya menjadi tulang rusuk seseorang dari kaum Adam yang soleh dan bertanggung jawab.”
__ADS_1
Jawabannya terlalu segan seperti masih memiliki kesempatan untuk mencoba tapi entah bagaimana mentalku sedikit tergores.
“Maksudku, apakah aku bisa sedikit lebih dekat denganmu?” tanya ku kembali, ingin mempertegas tujuanku. Tapi janda killer itu lagi-lagi dibuatnya patah arang.
”Pak, kenapa anda harus memilih saya, sementara anda tau sendiri kalau sekarang saya hanyalah seorang janda. Anda orang yang baik, sementara saya masih saja berkutat untuk memperbaiki diri agar bisa menjalani proses untuk menjadi lebih baik,” sahutnya dengan sangat yakin.
jawaban Saras membuatku ingin menculiknya dan hanya ada kami berdua di tempat itu. Halu itu memang bisa membuat pejuang cinta mampu melakukan apa saja.
“Aku hanya berharap agar kamu bisa memberikan kesempatan untukku lebih dekat lagi denganmu, karena dengan kita yang bisa dekat, aku berharap ini menjadi jalan untuk kita sama-sama jatuh cinta Saras.”
Kembali dengan sekuat tenaga aku ingin wanita itu menjadi istri ku di masa depan.
“Maaf. Pak, saya tidak pernah membatasi siapa pun yang nyaman dan ingin dekat dengan saya, tapi saya akan memilih dan memilah siapa saja yang bisa dekat dengan pribadi saya!” tegasnya dengan tatapan yang susah kubaca.
__ADS_1
What? Jadi aku sebenarnya dianggapnya bagaimana?