
Pov Author
Hari berlalu, sudah sebulan lebih Saras terbaring di rumah sakit tapi kondisinya masih belum ada kemajuan juga. wanita itu tetap masih saja menikmati tidur panjangnya yang diketahui entah kapan dirinya akan kembali bisa tersenyum padaku. Ravi yang tidak tenang meninggalkan wanita itu akhirnya meminta sang sekretaris untuk membawa pekerjaan ke rumah sakit.
Ravi tidak peduli dengan kondisi kesehatan nya sendiri karena begitu memikirkan wanita terkasihnya yang belum juga memperlihatkan kemajuan yang berarti.
Tuan besar Nugroho yang baru saja pulang dari perjalanan luar negeri, langsung ke rumah sakit saat dia mendapatkan kabar bahwa Saraswati koma akibat perampokan di depan gedung miliknya.
Karyawan yang paling istimewa, mampu membuat pria tua berjiwa muda itu khawatir sekaligus takut. Saras yang selama ini sehat dan kuat, kini malah mengalami koma, hal itu sungguh tidak bisa di percaya.
“Kakek, kenapa nggak ngasih kabar aku dulu kalo mau ke sini?” tanya Ravi yang dijawab dengan tatapan tajam mata tuanya.
Ravi yang melihat hal itu membuatnya merinding, bulu-bulu halus di tangannya berdiri dan dengan pelan dia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba saja dingin.
‘Mati deh ini, roman-romannya taring kakek tua ini bakalan keluar gara-gara karyawan kesayangannya sedang mengalami koma, akibat aku tak bisa melindunginya dengan baik! Tapi semua ini juga tidak berasal dari kesalahanku sendiri, Bukankah Cokro yang mengajaknya untuk dinner bersama? Seharusnya kakek menyalahkan Cokro bukan malah menatapku tajam seperti itu!’ Ravi menggerutu di dalam hati karena melihat raut wajah sang kakek yang teramat masam serta menatap dengan tajam seolah-olah hendak memakannya hidup-hidup.
__ADS_1
“Kenapa ada peristiwa besar seperti ini kamu nggak bilang ke kakek, hah?” tanya Nugroho tanpa berminat untuk menjawab pertanyaan cucunya.
Raut kemarahan itu tercetak jelas dari wajah tuanya hingga membuat ciut seorang cucu yang selama ini begitu manja mau tak mau keluar juga membuat Ravii hanya bisa terdiam mendengar segala ceramah dan bakal ada ocehan panjang dari bibir tuanya.
Ravi tercekat mendengar pertanyaan dengan nada datar dari sang kakek. Dia memang tidak ada batasan dengan kakeknya ketika bercanda, tapi jika sudah tegas maka tidak bisa sedikitpun Ravi bermain-main dengan keputusannya.
“Kakek sabar dulu, aku juga bingung harus menyampaikan apa, bahkan keluarga Saras yang ada di kampung pun belum aku kabari sama sekali, tiap kali mereka telepon aku tidak angkat, hanya chat saja yang aku balas, dengan alasan pekerjaan yang menumpuk.” jawab Ravi gugup.
dia sangat sadar lidahnya tidak bisa merangkai kalimat manis untuk menenangkan sang kakek.
Kepala pria tua itu sudah ingin meledak melihat cucunya yang tidak seperti diharapkan. Kemarahan yang di luapkan oleh Nugroho membuat Ravi melongo tak percaya.
‘Kenapa kakek berlebihan sekali? Kakek tua ini kenapa sih? Dia marah sudah seperti aku baru saja mendzolimi istrinya,’ tanya Ravi pada dirinya sendiri.
Ravi masih belum percaya dengan reaksi sang kakek yang meledak-ledak bagai gunung merapi yang siap meletuskan lahar panasnya.
__ADS_1
Nugroho meninggalkan ravi yang sedang mengerjakan pekerjaannya, tatapan keheranan dan menyelidik dari cucunya tidak dihiraukan lagi. Langkah pria tua yang kini berdandan lebih muda itu tampak tegap, tangan kokoh yang mulai keriput itu menyentuh punggung tangan Saras yang tidak terhalang oleh selang infus.
Wajah Saras yang masih pucat terlihat tenang, saking tenangnya tubuh yang mulai kurus itu tidak merespon apa pun yang terjadi di sekitarnya. Sesuai apa yang telah dianjurkan oleh dokter agar dirinya selalu mengajak bicara sang pasien yang sedang mengalami koma, termasuk mengingatkan pasien itu tentang apa saja yang pernah mereka lakukan terlebih saat-saat kebahagiaan yang pernah terjadi di dalam kebersamaan mereka. Hal itu bisa saja memicu kesadaran pasien lebih cepat.
Itulah sebabnya Ravi hampir setiap saat mengajak gadis itu bercerita dan bicara tentang rasa cintanya, tapi sayangnya Saras masih saja tetap diam belum sedikit pun merespon apa yang telah dikatakan.
“Saras, kamu jangan lama-lama tidur ya, kakek sudah datang nih, apa kau tidak merindukan pekerjaanmu? Ayolah Saras kamu itu wanita yang sangat kuat dan tak mungkin lemah seperti ini dengan tubuh hanya mampu berbaring bahkan dirimu hanya dibantu oleh alat-alat seperti ini!” Nugroho yang sudah duduk di kursi khusus penunggu pasien berusaha mengajak Saras berbicara.
Kakek tua itu dengan sengaja membangkitkan semangat wanita yang sudah begitu lama membiarkan tubuhnya hanya dibantu oleh alat-alat medis semata sebagai penyambung hidupnya. Rasanya Tuan Nugroho benar-benar merasa tidak percaya jika karyawan yang selama ini begitu sangat dibanggakannya, sekarang hanya bisa tidur terlentang tanpa daya.
“Kakek, jangan keterlaluan dong! Saras sedang berada di alam bawah sadarnya, kenapa kakek menanyakan pekerjaan segala sih padanya?” protes Ravi yang kini sudah berdiri di sebelah sang kakek.
Pria tampan yang sudah sebulan ini menjadikan rumah sakit seperti rumah dan kantor nya itu, merasa tidak senang dengan kalimat sang kakek. Sama sekali tidak mengerti kalau sebenarnya kakeknya pun merasa sangat terpuruk ketika mengetahui kondisi Saraswati yang selama ini juga sudah dianggapnya seperti cucunya sendiri.
“Diam kau, aku mengenal wanita ini lebih lama dari pada kamu!” jawab Nugroho sarkas
__ADS_1