
Saras menceritakan semua yang dia dapatkan kepada John, ada rasa sesak menyelimuti hatinya yang terasa nyeri. Tanpa terasa waktu beranjak pagi, John tidak ingin membuang waktu dengan segera dia meluncur ke rumah kontrakan milik Saraswati.
Sesampainya di depan pintu rumah kontrakan milik Saras, pria gagah itu sesaat mengedarkan pandangannya untuk memastikan, jika dirinya dalam keadaan aman karena itu semua sudah menjadi kebiasaan bagi seorang intel untuk melakukan hal seperti itu.
‘Untung gak ada orang yang lihatin aku datang ke sini, nggak tahu apa fitnah yang bakal didapatkan Saras kalau sampai aku dipergoki bertamu hampir pagi seperti ini,’ gumam John di dalam hati sebelum mengetuk pintu rumah Saras. John pun langsung mengetuk pintu rumah kecil yang selama ini ditempati Saras beberapa kali.
Saras yang sudah menunggu kedatangan John, dengan segera membukakan pintu. Melihat John yang celingukan sedikit membuat wanita itu juga mengedarkan pandangan, tapi dengan kebingungan dirinya tidak menemukan apa-apa. Terlihat lucu melihat kelakuan mereka berdua.
“Masuklah John,” ucap Saras, melihat ulah temannya yang seperti orang ketakutan membuat Saras jadi tersenyum lucu.
John akhirnya masuk begitu saja, pagi yang dingin ini membuat pria itu tampak ikutan dingin. Tanpa bertanya Saras membuatkan teh dan membawakan cemilan ubi rebus yang masih mengepulkan asapnya.
John yang terbiasa dengan kehidupan alam, bertemu dengan ubi rebus itu seperti temu kangen dengan sahabat lama. Dengan mata berbinar pria yang irit bicara itu sudah ingin melahap apa yang ada di hadapannya.
“Makanlah John, aku tau kamu sangat menyukai nya,” titah Saras ramah.
Wanita yang kini sedang merasa kecewa dengan lelaki sang pencuri hati itu pun membiarkan John melahap hidangannya terlebih dahulu. Semua data yang ingin dia berikan pada John pun sebenarnya sudah disiapkan dengan rapi sebelum si intel mendatangi rumah nya.
“Apakah sudah ada yang ingin kamu berikan kepadaku, Saras?” Tanya John dengan wajah datar dan menyeruput teh hangat itu dengan tenang.
__ADS_1
Lelaki itu terlihat sudah sangat tidak sabar untuk mendapatkan bukti apa saja yang telah diketahui Saras setelah menonton Mini disk yang tadi dengan sengaja telah dicurinya dari ruangan Ravi. Sarah sadar, jika orang yang saat ini bersamanya merupakan seorang Intel yang akan selalu bicara to the point saja dengan langsung ke inti permasalahan.
“Ya, ini semua yang aku temukan, cobalah kau liat!”
Saras menyorongkan laptop yang sudah disiapkan nya sebelum John datang. John memperhatikan film kartun yang menjadi salah satu petunjuk tentang siapa Ravi sebenarnya. Saras memberitahukan beberapa kode yang diperhatikan nya saat tadi melihat film kartun itu secara detail dan juga berulang.
John melihat semua yang Saras tulis dan memperhatikan foto yang sempat dijepret oleh wanita cantik itu saat di ruangan Ravi. Bayangan di balik lukisan penari membuat John mengamatinya dengan serius.
“Apa yang kau dapatkan John?” tanya Saras, entah kenapa wanita itu seperti menghayati perannya sebagai agen mata-mata yang ada di film action besutan Luc Besong itu. Kali ini Saras sungguh menikmati perannya, menjadi wanita jagoan dengan kecerdasan super luar biasa. Haduuh, Saras mulai kerasukan film deh kayaknya, hehehe.
Di saat mereka sedang asik berdiskusi memecahkan banyak misteri dari apa yang mereka temukan, jauh di belahan dunia lain.
Penantang wanita dari negeri yang sama dengannya, sudah mulai menguras uangnya karena selalu saja menang berjudi. Entah sudah berapa jam mereka terus berperang di meja judi berwarna merah itu. Bergantian menang dan kalah membuat Ravi berang.
Selama ini cukup satu kali putaran saja pria itu sudah mampu membuat lawannya balik kanan dan meninggalkan arena judi yang selalu panas di buat Ravi. Kali ini Nyonya Yo, menjadi lawannya yang membuat pria itu kecanduan dan entah sudah berapa set mereka bermain tegang.
Nyonya Yo ternyata bukan orang sembarangan, beberapa antek-antek Ravi yang menyelidiki siapa sebenarnya nyonya Yo, merasa terkagum-kagum. Bisnis gelap bawah tanah digeluti tapi wanita bertubuh subur itu juga memiliki depot mie ayam yang selalu ramai pengunjungnya. Semua itu dilakukan untuk sekedar penyamaran sebagai manusia yang baik dan juga wanita mandiri. Namun, di luar itu semua bisnis bawah tanahnya membuat siapa pun yang mengetahui akan ternganga seolah tak percaya.
Perdagangan narkoba, perdagangan manusia dan penyelundupan senjata. Semua itu berada dalam genggaman wanita yang berpenampilan biasa tapi elegan itu. Dunia memang penuh dengan panggung sandiwara, kemasan bukanlah sesuatu yang bisa kita jadikan patokan untuk menilai seseorang.
__ADS_1
Ravi merasa tertipu dengan nyonya gembul berpenampilan sederhana — wanita yang selalu memiliki ciri khas dengan roll rambut yang menghiasi kepalanya, serta rokok yang tidak pernah putus di hisapnya. Roll rambut itu persis seperti orang yang belum tuntas melakukan dandan, tapi wanita itu sudah kesana kemari saja.
“Kali ini apa yang ingin kau letakkan sebagai taruhan, nyonya Yo?” tanya Ravi dingin.
Entah sudah berapa banyak hartanya berpindah ke tangan nyonya berwajah ramah itu nan gembul sebagai penantangnya.
“Haiyaa, ayolah tuan muda Ravi, aku ini hanya pedagang mie ayam yang mencoba peruntungan sebagai orang kecil untuk menjadi sedikit lebih besar. Tidak banyak yang bisa aku pertaruhkan, aku menginginkan tahtamu, berapa nilai yang harus aku pertaruhkan untuk mendapatkan gelar yang melekat padamu selama ini?” tanya nyonya Yo dengan gaya khasnya dan selalu merendah ketika berhadapan dengan orang-orang.
Duarrrr!
Tubuh Ravi goncang bagai disambar petir, selama ini belum ada yang pernah berani menawar tahtanya sebagai raja judi, tapi kali ini seorang emak-emak bakul mie ayam dengan tubuh tambun begitu santai menawarnya seperti sedang membeli bawang di pasar.
Apa Dia mengira jika Ravi merupakan anak kecil yang mudah diintimidasi? Wanita tambun itu benar-benar salah mengira lawan dan menantang Ravi seenak jidatnya, dia sama sekali tidak mengetahui jika Ravi bisa saja melakukan sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehnya.
“Apa yang membuatmu bgitu berani ingin mengambil tahtaku, Nyonya? Lagian yang namanya Raja Dewa Judi itu tidak pernah seorang perempuan, kecuali Anda ini aslinya lelaki seekor jantan tangguh hasil hibernasi!” tanya Ravi geram penuh ejekan.
Tentu saja dirinya yang selama ini selalu bangga dengan gelar yang dia miliki, tidak akan dengan mudah mendapatkan gelar itu kalau hanya karena sedikit terintimidasi dari seorang perempuan, pria itu tidak ingin kehilangan semuanya, tapi permainan ini hanya bisa berhenti jika salah satu dari mereka mengatakan menyerah. Selama kedua pihak bertahan dan ingin melanjutkan maka judi itu akan terus berlangsung.
“Apa anda sedang cari mati, Nyonya Yo?”
__ADS_1